Kamis, 22 Januari 2026

Harga Bitcoin Anjlok Dalam Pasar Kripto Bergejolak Dipicu Tekanan Sentimen Global

Harga Bitcoin Anjlok Dalam Pasar Kripto Bergejolak Dipicu Tekanan Sentimen Global
Harga Bitcoin Anjlok Dalam Pasar Kripto Bergejolak Dipicu Tekanan Sentimen Global

JAKARTA - Tekanan hebat kembali menghantam pasar kripto pada perdagangan Rabu pagi, 21 Januari 2026. 

Aset digital utama, Bitcoin, mengalami koreksi tajam seiring meningkatnya aksi jual pada instrumen berisiko di pasar global. Situasi ini dipicu oleh gejolak pasar obligasi pemerintah Jepang serta kekhawatiran meluasnya perang tarif antarnegara yang kembali membayangi sentimen investor.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memilih langkah defensif dengan melepas aset kripto, yang selama ini dikenal memiliki volatilitas tinggi. Dampaknya, hampir seluruh aset kripto utama bergerak di zona merah dan mencatatkan penurunan signifikan dalam waktu singkat.

Baca Juga

Strategi Asuransi Asei Untuk Maksimalkan Laba Tahun 2026

Tekanan Global Menyeret Pasar Kripto

Pasar kripto rontok bersamaan dengan memburuknya sentimen global yang berasal dari luar sektor aset digital. Gejolak di pasar obligasi pemerintah Jepang memicu kekhawatiran akan stabilitas keuangan global, sehingga investor global cenderung menghindari aset berisiko.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan terkait potensi perang tarif global turut memperparah tekanan pasar. Kondisi ini membuat investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, meninggalkan kripto yang selama ini menjadi pilihan spekulatif di tengah likuiditas longgar.

Kombinasi sentimen tersebut mendorong aksi jual besar-besaran yang berdampak langsung pada harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Kapitalisasi Pasar Kripto Menyusut Tajam

Berdasarkan data Coinmarketcap pada pukul 06.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global tercatat anjlok 4,6% menjadi US$ 2,98 triliun. Penurunan ini mencerminkan tekanan merata di hampir seluruh segmen pasar aset digital.

Harga Bitcoin (BTC) terlihat jatuh 4,72% ke level US$ 87.954 per koin atau sekitar Rp 1,49 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.971 per dolar AS. Penurunan ini menandai koreksi signifikan setelah sebelumnya Bitcoin sempat bergerak di area yang lebih tinggi.

Aksi jual yang agresif menunjukkan bahwa sentimen jangka pendek pasar kripto tengah berada dalam fase defensif, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Altcoin Ikut Ambles Serempak

Tekanan tidak hanya dialami Bitcoin, tetapi juga menjalar ke aset kripto berkapitalisasi besar lainnya. Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar, tercatat ambles 8,94% pada perdagangan pagi ini.

Ethereum (ETH) tercatat ambrol 7,56% ke level US$ 2.931, sementara Binance Coin (BNB) terkoreksi 3,92% ke US$ 885. Penurunan ini menunjukkan bahwa tekanan jual terjadi secara luas, tidak terbatas pada satu atau dua aset saja.

Sementara itu, Solana (SOL) terpangkas 5,44% ke US$ 125, XRP melemah 5,05% ke US$ 1,88, dan Dogecoin (DOGE) turun 4,28% ke US$ 0,12. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar kripto sedang mengalami fase pelemahan kolektif.

Indeks Fear And Greed Masuk Zona Ketakutan

Tekanan jual yang masif turut tercermin pada indikator sentimen pasar. Dikutip dari CoinDesk, indeks fear and greed kripto merosot ke level 31, yang mencerminkan kondisi pasar diliputi rasa takut.

Padahal, beberapa hari sebelumnya indeks tersebut masih berada di level 61, mendekati zona optimistis, ketika harga Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 96.000. Perubahan sentimen yang cepat ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar kripto terhadap dinamika global.

Turunnya indeks tersebut menandakan bahwa pelaku pasar kini lebih berhati-hati dan cenderung menahan diri untuk melakukan pembelian baru di tengah ketidakpastian yang meningkat.

Pasar Saham AS Perparah Sentimen

Pelemahan pasar kripto juga sejalan dengan kejatuhan pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing ditutup turun lebih dari 2%, mencatatkan kinerja harian terburuk sejak Oktober.

Pada periode tersebut, pasar global juga sempat terpukul oleh ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap China. Kondisi serupa kini kembali terulang, dengan kekhawatiran kebijakan perdagangan yang agresif memicu ketidakpastian ekonomi global.

Korelasi antara pasar saham dan kripto kembali terlihat jelas, di mana tekanan pada ekuitas berimbas langsung pada aset digital yang dianggap berisiko tinggi.

Saham Terkait Kripto Ikut Tertekan

Tekanan di pasar kripto turut berdampak pada saham-saham yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital. Strategy (MSTR), yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar, tercatat turun 7,8% dalam perdagangan terakhir.

BitMine Immersion, perusahaan yang dikenal sebagai pemilik cadangan ether terbesar, anjlok lebih dalam hingga 9,5%. Sementara itu, saham Coinbase dan Circle masing-masing melemah 5,5% dan 7,5%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya menghantam aset kripto secara langsung, tetapi juga merembet ke sektor saham yang terkait erat dengan ekosistem aset digital. Pelaku pasar pun diperkirakan masih akan mencermati perkembangan global sebelum kembali mengambil risiko di pasar kripto.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026