JAKARTA - Pada Selasa, 20 Januari 2026, pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN).
Meskipun ada penurunan dalam penawaran yang masuk jika dibandingkan dengan lelang sebelumnya, minat pasar masih menunjukkan angka yang solid.
Penurunan tersebut tercatat sekitar 7,89% dibandingkan dengan lelang pada 6 Januari 2026, yang sempat mencapai Rp90 triliun. Kali ini, penawaran yang diterima mencapai Rp82,9 triliun, sebuah angka yang meskipun turun, tetap dua kali lipat lebih tinggi dari target indikatif pemerintah yang hanya sebesar Rp33 triliun.
Baca Juga
Secara keseluruhan, lelang ini berhasil mendapatkan pendanaan sebesar Rp36 triliun, yang melampaui target yang ditetapkan.
Kendati mengalami penurunan 10% dari nilai yang dimenangkan pada lelang sebelumnya (Rp40 triliun), hasil ini menunjukkan bahwa pasar tetap memberikan kepercayaan terhadap instrumen obligasi pemerintah, meski kondisi global masih penuh dengan ketidakpastian.
Permintaan Dominan untuk Tenor Pendek dan Menengah
Dalam lelang kali ini, investor terlihat lebih memilih surat utang berjangka pendek hingga menengah. Seperti diketahui, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dengan tenor kurang dari satu tahun hingga dua tahun mencatatkan bid-to-cover ratio yang cukup tinggi, berada di rentang 2,9 hingga 3,65 kali.
Imbal hasil rata-rata untuk instrumen ini berkisar antara 4,3% hingga 4,65%.
Sikap investor yang lebih berhati-hati pada awal tahun ini terlihat jelas dalam hasil lelang.
Ketidakpastian geopolitik yang melanda berbagai belahan dunia, ditambah dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya mendukung, membuat investor lebih memilih tenor pendek sebagai tempat yang aman untuk menempatkan likuiditas mereka.
Dengan memilih tenor yang lebih pendek, mereka dapat mengurangi eksposur terhadap risiko yang lebih besar di tengah ketidakpastian yang ada.
Minat terhadap Tenor Panjang Tetap Terjaga
Meski demikian, permintaan terhadap tenor panjang juga tetap ada, meskipun dengan imbal hasil yang lebih tinggi. Surat utang pemerintah dengan jatuh tempo di tahun 2040 hingga 2064 masih diterima pasar, dengan imbal hasil rata-rata di atas 6,7%.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pasar lebih berhati-hati, investor tetap bersedia mengambil risiko dengan imbal hasil yang dianggap realistis dan dapat memberi kompensasi terhadap risiko yang ditanggung.
Bagi pemerintah, hasil lelang ini menjadi indikator yang positif karena meskipun terjadi penurunan dalam nilai yang dimenangkan, pembiayaan tahun 2026 tetap berjalan dengan terkendali.
Hasil lelang yang terbilang solid ini mencerminkan bahwa kredibilitas pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di mata pelaku pasar tetap tinggi. Namun, tingginya imbal hasil yang diminta oleh pasar juga menunjukkan adanya ruang yang semakin sempit untuk pemerintah dalam menekan biaya utang, khususnya pada instrumen dengan tenor panjang.
Investor Menjaga Posisi pada Portofolio yang Relatif Aman
Dari perspektif dealer atau peserta lelang, yang mayoritas terdiri dari bank, sekuritas besar, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan, hasil lelang ini cukup sesuai dengan kebutuhan portofolio mereka.
Bank dan manajer investasi yang aktif di pasar obligasi cenderung memilih instrumen dengan tenor menengah, seperti SPN dan FR, yang memiliki risiko yang lebih terkendali namun tetap memberikan imbal hasil yang optimal.
Fokus utama bagi investor yang memegang instrumen obligasi adalah stabilitas dan pengelolaan risiko nilai tukar. Hal ini berkaitan dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah melemah hampir 2% sejak awal tahun.
Pelemahan rupiah ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar, karena dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik dan dampaknya terhadap nilai aset di dalam negeri.
Dalam situasi ini, pasar obligasi terlihat lebih konservatif, dengan investor yang lebih memilih untuk mengambil langkah yang lebih hati-hati dalam mengelola portofolio mereka.
Suku Bunga Acuan BI Diharapkan Tetap Stabil
Seiring dengan hasil lelang yang menunjukkan adanya kecenderungan investor untuk tetap mencari instrumen yang lebih aman, konsensus pasar memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75%.
Proyeksi ini didasarkan pada sejumlah faktor, terutama kondisi makroekonomi global yang masih penuh dengan ketidakpastian, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut.
Pemeliharaan suku bunga pada level yang stabil ini diharapkan dapat menjadi respons moneter yang tepat untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan memberikan ruang bagi perekonomian domestik untuk tetap berkembang, meskipun dengan tantangan eksternal yang cukup besar.
Jika suku bunga naik atau turun, hal ini dapat memberikan dampak langsung terhadap inflasi dan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kestabilan ekonomi secara keseluruhan.
Rupiah Terus Tertekan, IHSG Bertahan Positif
Sementara itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin meningkat. Seperti yang tercatat pada 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah berada di posisi terlemah sepanjang sejarah, yaitu di Rp16.950 per dolar AS.
Melemahnya rupiah hampir 2% sejak awal tahun menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam pasar mata uang domestik.
Namun, pergerakan harga saham di pasar domestik tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tercatat bertahan di zona hijau pada level 9.134,7, menunjukkan bahwa pasar saham domestik memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap tekanan eksternal.
Perbedaan arah pergerakan antara rupiah dan pasar saham ini menunjukkan bahwa sumber tekanan pada pasar keuangan domestik tidak hanya berasal dari faktor domestik saja, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Sementara itu, IHSG mendapat dukungan dari faktor internal, seperti kinerja emiten dan sektor-sektor tertentu yang menunjukkan prospek cerah.
Segmentasi Pasar yang Terlihat Jelas
Secara keseluruhan, pasar keuangan domestik terlihat cukup tersegmentasi. Investor di pasar obligasi cenderung fokus pada arah stabilitas dan pengelolaan risiko nilai tukar, sementara investor saham lebih responsif terhadap prospek sektor dan kinerja perusahaan yang ada di dalam negeri.
Namun, sentimen yang terjadi di pasar obligasi dan pasar saham ini mungkin tidak akan bertahan lama. Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, sentimen negatif yang terjadi di pasar obligasi bisa merembet ke pasar saham, mengingat adanya ketergantungan antara keduanya dalam ekosistem pasar finansial.
Pada akhirnya, pelaku pasar domestik harus mencerna seberapa konsisten kebijakan moneter yang diambil oleh otoritas terkait dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
Tekanan eksternal masih mendominasi, dan hal ini membatasi ruang kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Namun, dengan hasil lelang yang solid dan bertahannya IHSG di zona hijau, ada harapan bahwa pasar dapat tetap menjaga volatilitas rupiah dan pasar saham dari dampak yang lebih luas.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
ICEX Resmi Berizin OJK, Menandai Era Baru Bursa Kripto Kompetitif di Indonesia
- Rabu, 21 Januari 2026
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
JMA Syariah Targetkan Pendapatan Kontribusi Tumbuh 20 Persen
- 21 Januari 2026
2.
Amankah Merendam Teh dalam Susu Semalaman? Ini Penjelasannya
- 21 Januari 2026
3.
4.
Tarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
- 21 Januari 2026







