Kamis, 22 Januari 2026

Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS Dinilai Masih Aman Ekonomi Nasional

Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS Dinilai Masih Aman Ekonomi Nasional
Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS Dinilai Masih Aman Ekonomi Nasional

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level Rp17.000 per dolar AS kembali menjadi perhatian publik. Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut belum perlu disikapi secara berlebihan. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan yang menenangkan dengan menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam rentang wajar dan tidak menimbulkan risiko besar bagi perekonomian nasional.

Menurut Purbaya, jika dilihat secara persentase, depresiasi rupiah relatif terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Ia menilai fluktuasi tersebut tidak cukup besar untuk mengguncang fondasi ekonomi Indonesia yang saat ini dinilai cukup solid. Dengan kondisi sistem keuangan yang terjaga, dampak lanjutan ke sektor riil maupun stabilitas makro disebut akan sangat minimal.

Baca Juga

Strategi Asuransi Asei Untuk Maksimalkan Laba Tahun 2026

Pelemahan Rupiah Dinilai Masih Wajar

Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sekitar 2 hingga 3 persen secara year-to-date masih sejalan dengan fundamental ekonomi nasional. Dalam pandangannya, angka tersebut tidak mencerminkan tekanan berlebihan, melainkan bagian dari dinamika pasar keuangan global yang juga dialami banyak negara berkembang lainnya.

“Kalau pelemahan dilihat dari persentase kan sedikit dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga. Jadi kemungkinan dampak ke ekonomi akan minimum,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (20/1). Pernyataan ini menegaskan keyakinan pemerintah bahwa pelemahan rupiah belum masuk kategori mengkhawatirkan.

Ia juga menambahkan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional saat ini berada dalam kondisi yang baik. Dengan perbankan yang relatif kuat dan cadangan kebijakan yang memadai, pemerintah menilai Indonesia memiliki bantalan yang cukup untuk menghadapi tekanan eksternal.

Pasar Modal Jadi Cermin Kepercayaan Investor

Salah satu indikator yang disoroti Purbaya adalah pergerakan pasar modal domestik. Ia menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah pelemahan rupiah menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga.

“Yang penting adalah gini, ketika pondasi ekonomi kita terus membaik, aktivitas ekonomi dalam negeri akan meningkat, orang akan melihat ekonomi kita bagus, investor akan balik lagi ke sini termasuk investor asing,” jelasnya. Menurut Purbaya, pasar modal tidak mungkin menguat tanpa adanya aliran dana, baik dari investor domestik maupun asing.

Penguatan IHSG menjadi sinyal bahwa pelaku pasar tidak melihat pelemahan rupiah sebagai ancaman serius. Justru, kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari penyesuaian yang masih dapat diterima dalam konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Pasokan Dolar AS Masih Terjaga

Dari sisi ketersediaan valuta asing, Purbaya memastikan bahwa pasokan dolar AS di pasar domestik masih mencukupi. Ia menepis kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan dolar yang dapat memperburuk tekanan nilai tukar.

“Jadi harusnya kalau lihat dari sisi supply dolar harusnya enggak kekurangan,” tambahnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa mekanisme pasar valas domestik masih berjalan normal dan didukung oleh cadangan devisa serta arus masuk modal yang relatif stabil.

Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selama pasokan dolar tetap tersedia, risiko lonjakan nilai tukar secara ekstrem dapat ditekan, sehingga dampaknya ke sektor usaha dan konsumsi masyarakat dapat diminimalkan.

Imbauan kepada Spekulan Pasar

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menyampaikan peringatan kepada para pelaku pasar agar tidak bersikap spekulatif secara berlebihan. Ia menilai pergerakan nilai tukar yang menjauh dari nilai fundamental dapat memicu volatilitas yang tidak perlu.

“Jadi untuk yang spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long,” tegas Purbaya. Imbauan ini ditujukan agar pelaku pasar lebih berhati-hati dan tidak memperkeruh kondisi dengan mengambil posisi ekstrem yang justru berpotensi merugikan banyak pihak.

Pemerintah berharap stabilitas dapat tetap terjaga apabila pelaku pasar bersikap rasional dan mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek.

Dampak ke Dunia Usaha Masih Terkendali

Bagi pelaku usaha, khususnya importir, Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam ambang batas yang dapat dikelola. Kenaikan biaya akibat depresiasi nilai tukar dinilai belum signifikan untuk mengganggu aktivitas bisnis secara luas.

“Ini berapa persen Rupiah melemah dibanding sebelumnya? Year to date berapa? 2-3 persen. Anda importir ada kenaikan 2-3 persen, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa,” ujarnya. Dengan kata lain, dunia usaha diharapkan masih mampu menyesuaikan diri tanpa harus menaikkan harga secara drastis.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini agar tidak berujung pada tekanan inflasi yang berlebihan. Selama pelemahan rupiah terkendali, dampaknya terhadap harga barang impor dinilai masih dapat diserap oleh pelaku usaha.

APBN dan Subsidi Energi Tetap Aman

Terkait dampak pelemahan rupiah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, terutama pada pos subsidi energi, Purbaya memastikan kondisi fiskal masih dalam batas aman. Ia menjelaskan bahwa kenaikan nilai tukar relatif seimbang dengan harga minyak dunia yang berada di bawah asumsi makro APBN.

“Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap fiskal tidak sebesar yang dikhawatirkan sebagian pihak.

Koordinasi Stabilitas Terus Diperkuat

Sebagai penutup, Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antarotoritas melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan terus diperkuat. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di bawah kewenangan Bank Indonesia.

“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” pungkasnya. Dengan koordinasi yang solid, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat tetap terjaga di tengah dinamika global.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026