Kamis, 22 Januari 2026

Rekomendasi Lima Saham Potensial Raih Cuan Saat IHSG Bergerak Datar Hari Ini

Rekomendasi Lima Saham Potensial Raih Cuan Saat IHSG Bergerak Datar Hari Ini
Rekomendasi Lima Saham Potensial Raih Cuan Saat IHSG Bergerak Datar Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan kembali menunjukkan fase konsolidasi. 

Pada penutupan perdagangan Selasa, IHSG nyaris tidak bergerak dengan kenaikan sangat tipis sebesar 0,01% ke level 9.134,70. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah minimnya sentimen besar yang mampu mendorong indeks bergerak agresif.

Meski indeks utama stagnan, peluang tetap terbuka bagi investor untuk memburu cuan dari saham-saham tertentu. Pergerakan harga justru ditopang emiten berkapitalisasi menengah dan kecil yang mencatat lonjakan signifikan, sementara beberapa saham big caps menjadi pemberat laju indeks.

Baca Juga

Strategi Asuransi Asei Untuk Maksimalkan Laba Tahun 2026

IHSG Datar, Saham Mid dan Small Cap Bersinar

Penopang utama IHSG pada perdagangan tersebut datang dari saham-saham berkapitalisasi lebih kecil. BRMS tercatat melonjak 6,50%, EMAS melesat tajam hingga 18,18%, dan RISE naik 17,94%. Kenaikan signifikan ini menunjukkan minat investor yang masih kuat pada saham-saham dengan potensi pertumbuhan agresif meski indeks bergerak mendatar.

Di sisi lain, tekanan datang dari beberapa saham besar. DSSA terkoreksi cukup dalam sebesar 10,59%, sementara BBCA melemah 1,54% dan ASII turun 1,69%. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi jumbo ini membuat pergerakan IHSG tertahan meskipun banyak saham lain mencatatkan penguatan.

Kondisi tersebut menggambarkan pasar yang selektif, di mana investor cenderung mencari peluang pada saham tertentu dibandingkan mengikuti arah indeks secara keseluruhan.

Pergerakan Asing Masih Campuran

Dari sisi aktivitas investor, pergerakan dana asing menunjukkan sinyal yang belum sepenuhnya solid. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp6,50 miliar. Namun secara keseluruhan pasar, asing masih membukukan jual bersih senilai Rp98,18 miliar.

Data ini mengindikasikan bahwa minat asing belum sepenuhnya kembali, meski ada aksi akumulasi terbatas pada saham-saham tertentu. Investor domestik masih menjadi motor utama pergerakan pasar, terutama pada saham-saham lapis kedua dan ketiga.

Situasi ini membuka ruang bagi investor ritel untuk lebih aktif memanfaatkan peluang jangka pendek, khususnya pada saham yang memiliki katalis fundamental maupun teknikal.

Mayoritas Sektor Bergerak Positif

Secara sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau. Dari 11 sektor yang ada, sembilan sektor ditutup menguat. Sektor basic industry mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 2,49%, mencerminkan optimisme terhadap prospek industri dasar.

Sebaliknya, sektor transportasi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 0,63%. Tekanan ini diduga berasal dari kekhawatiran terhadap biaya operasional dan dinamika permintaan yang belum sepenuhnya pulih.

Pergerakan sektoral yang relatif positif menunjukkan bahwa sentimen pasar secara umum masih cukup terjaga, meski belum cukup kuat untuk mendorong IHSG bergerak signifikan.

Sentimen Emiten Dorong Peluang Saham

Dari sisi korporasi, Kencana Energi Lestari melalui entitas anaknya, Energi Surya Halmahera, berhasil mengamankan kontrak Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan PLN. Perseroan akan membangun dan mengoperasikan PLTS Tobelo berkapasitas 10 MW yang dilengkapi baterai 8,4 MWh.

Nilai kontrak proyek ini sekitar US$25 juta dengan tenor penjualan listrik selama 20 tahun sejak beroperasi. Proyek tersebut direncanakan mulai konstruksi pada 2026 dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada kuartal I 2027. Potensi pendapatan konstruksi diperkirakan mencapai US$13,8 juta, ditambah pendapatan tahunan sekitar US$1,6 juta dari produksi listrik.

Sentimen ini memberikan gambaran prospek jangka panjang yang menarik, khususnya bagi investor yang mencari saham dengan basis proyek berkelanjutan dan pendapatan stabil.

Aksi Korporasi BUVA Jadi Sorotan

Sementara itu, Bukit Uluwatu Villa mengumumkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu melalui penerbitan hingga 50 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara maksimal 203,11% dari saham beredar saat ini.

Langkah ini bertujuan memperkuat struktur permodalan serta mendukung pengembangan usaha dan pemenuhan kewajiban perseroan. Rencana tersebut masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 26 Februari.

Namun, pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi hingga 67,01%. Aksi ini merupakan kelanjutan dari PMHMETD I pada 2025 senilai Rp603,98 miliar yang digunakan untuk akuisisi Bukit Permai Properti dari grup Summarecon serta pengembangan lahan di Pecatu, Bali.

Strategi Saham di Tengah Pasar Stagnan

Dalam kondisi IHSG yang bergerak mendatar, strategi selektif menjadi kunci. Saham-saham dengan katalis spesifik, baik dari sisi proyek baru, aksi korporasi, maupun momentum teknikal, berpeluang memberikan imbal hasil lebih menarik dibandingkan sekadar mengikuti arah indeks.

Investor disarankan mencermati saham-saham yang mendapat dukungan sentimen positif dan memiliki likuiditas memadai. Dengan pendekatan yang tepat, fase stagnasi IHSG justru dapat menjadi peluang untuk mengoptimalkan potensi cuan dari pergerakan saham individual.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Hadirkan Program Inovatif untuk Pemberdayaan UMKM Binaan

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Tabungan Haji Bank Mega Syariah Menarik Minat Generasi Muda

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026

Indofood CBP Optimis Pemulihan Kinerja di Tahun 2026