Update Harga Bitcoin Jumat 10 Juli 2026: Tembus Level USD 63.000
NEW YORK – Nilai tukar Bitcoin (BTC) terpantau kembali melewati angka US$ 63.000 pada sesi perdagangan Jumat (10/7/2026) pagi.
Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap risiko koreksi menjelang masa jatuh tempo (expiry) kontrak opsi Bitcoin dengan nilai menembus US$ 1,4 miliar di bursa derivatif Deribit pada hari ini.
Merujuk data CoinMarketCap pada pukul 07.30 WIB, nilai kapitalisasi pasar kripto global terkerek naik 1,02% menuju posisi US$ 2,17 triliun dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Di waktu yang sama, harga Bitcoin (BTC) hari ini terpantau melesat 1,5% ke posisi US$ 63.018,05 per koin atau setara kisaran Rp 1,14 miliar (menggunakan acuan kurs Rp 18.094 per dolar AS).
Sementara itu, Indeks CoinDesk 20 yang menjadi indikator kinerja 20 aset kripto berkapitalisasi terbesar merangkak naik 1,34%. Ethereum mencatatkan penguatan tipis 0,01% menuju US$ 1.740 dan Binance (BNB) terangkat sebesar 0,18% ke level US$ 568.
Melansir dari CoinTelegraph, kecemasan para penanam modal mencuat berbarengan dengan naiknya tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk tenor 10 tahun yang mendekati kisaran 4,6%, sebuah angka yang dipandang oleh sebagian pelaku pasar sebagai indikasi menebalnya risiko fiskal serta ekonomi di AS.
Lonjakan yield tersebut menggambarkan kekhawatiran investor atas membengkaknya nilai utang pemerintah AS serta indikasi adanya pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang guna mengantisipasi kelesuan ekonomi.
Dinamika ini berakibat pada pergerakan Bitcoin yang cenderung tertahan, kendati indeks Nasdaq-100 posisinya masih bertengger sekitar 4% di bawah catatan rekor tertingginya.
Pada saat yang bersamaan, tren reli pada emiten-emiten berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus memikat aliran likuiditas untuk masuk ke pasar ekuitas.
Saham Arm Holdings melesat sekitar 10%, Advanced Micro Devices (AMD) menguat 7%, dan Micron Technology turut terapresiasi kisaran 7% dalam aktivitas perdagangan intraday.
Dari sektor institusional, produk dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) Bitcoin spot mencatatkan aksi keluar dana bersih (net outflow) mencapai US$ 85 juta pada Rabu (8/7/2026), yang sekaligus memutus tren arus masuk dana yang sempat bertahan selama tiga hari berturut-turut.
Meskipun begitu, besaran angka tersebut dinilai belum memadai untuk merepresentasikan adanya pembalikan tren ketertarikan investor institusi terhadap Bitcoin.
Permintaan Berkurang
Tingkat permintaan atas kontrak opsi Bitcoin pun terpantau masih relatif seimbang antara opsi beli (call) dan opsi jual (put).
Bahkan, sepanjang empat hari terakhir kuantitas opsi beli tercatat masih lebih mendominasi ketimbang opsi jual, yang mengindikasikan menyusutnya permintaan atas instrumen lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi penurunan harga.
Kontrak opsi mingguan yang dijadwalkan berakhir pada hari Jumat memperlihatkan nilai opsi beli untuk batas level US$ 62.500 menyentuh kisaran US$ 137 juta, sedangkan untuk posisi opsi jual di atas level US$ 61.000 berada di angka US$ 121 juta.
Sejumlah analis memproyeksikan bahwa kelompok bullish bakal meraup keuntungan besar jika harga Bitcoin sanggup bertahan di atas level US$ 63.500 ketika masa jatuh tempo opsi bergulir pada Jumat pagi waktu UTC.
Di sisi lain, kelompok investor bearish tercatat hanya mengantongi keunggulan sekitar US$ 100 juta apabila harga Bitcoin melorot ke bawah US$ 61.000.
Pelaku pasar turut memperhatikan eskalasi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Adanya gencatan senjata temporer di wilayah tersebut dinilai berpeluang meredam kekhawatiran atas resesi global, sehingga memicu pemodal untuk kembali menempatkan dana pada aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sebaliknya, seandainya perselisihan Iran kembali memanas dan memicu lonjakan harga minyak mentah, sentimen pasar terhadap instrumen aset berisiko diperkirakan bakal kembali tertekan.
Para investor juga akan memantau dinamika pergerakan yield obligasi AS dalam periode satu pekan ke depan.
Jika tingkat yield mulai melandai dan pergolakan geopolitik tidak memburuk, batas support Bitcoin pada kisaran US$ 62.000 diproyeksikan bakal tetap aman terjaga.
Walau demikian, proses penguatan Bitcoin dalam jangka pendek tetap memerlukan sokongan dari indikator makroekonomi yang bernilai lebih positif.
Sepanjang rentetan ketidakpastian tersebut masih membayangi, ruang bagi kenaikan Bitcoin diprediksi akan tetap terbatas dalam waktu dekat.