Imbas Konflik Timur Tengah, Harga LNG Asia Terbang 45 Persen

Ilustrasi kapal tanker LNG.(Foto: PEXELS)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 08 Juli 2026 | 12:03:32 WIB

JAKARTA — Nilai jual gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di pasar Asia mengalami kenaikan yang sangat tajam sepanjang paruh pertama tahun 2026 sebagai imbas dari tersendatnya suplai global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Lonjakan harga ini diprediksi akan menekan tingkat konsumsi gas di sejumlah negara Asia, sekaligus menstimulasi peralihan sumber energi menuju batu bara.

Rilis terbaru bertajuk IEA Gas Market Report Q3-2026 terkait proyeksi pasar gas global memaparkan bahwa pemblokiran secara de facto pada Selat Hormuz pasca-pecahnya ketegangan di Timur Tengah pada akhir Februari 2026 memegang peranan utama dalam memicu turbulensi pasar. 

Langkah penutupan tersebut sangat berdampak mengingat jalur itu menjadi rute perlintasan untuk hampir 20% suplai LNG global, sehingga hambatan pada jalur distribusi langsung memantik lonjakan harga secara spontan.

"Harga spot di Asia dan Eropa bereaksi cepat terhadap gangguan pasokan yang disebabkan oleh penutupan efektif Selat Hormuz," tulis laporan tersebut dikutip Rabu (8/7/2026).

Walaupun pihak Amerika Serikat (AS) bersama Iran telah meneken kesepakatan temporer di pertengahan Juni demi membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap, bayang-bayang ketidakpastian seputar normalisasi arus niaga LNG masih terus menghantui pasar. 

Arus lalu lintas kapal pengangkut LNG sejatinya mulai menunjukkan grafik peningkatan pasca-pengumuman traktat tersebut, akan tetapi kapasitas volumenya tercatat masih berada jauh di bawah level sebelum pecah konflik.

Melalui skenario proyeksi dasar, Selat Hormuz diperkirakan baru bisa beroperasi secara total pada triwulan III/2026, sedangkan keran produksi LNG dari wilayah Qatar serta Uni Emirat Arab diproyeksikan pulih sepenuhnya pada awal triwulan IV/2026.

Sebagai dampak dari hambatan distribusi tersebut, nilai spot LNG Asia yang berkiblat pada indeks Platts Japan Korea Marker (JKM) membukukan rata-rata kuartalan tertinggi semenjak tahun 2022. 

Di sepanjang triwulan II/2026, harga rata-rata LNG Asia bertengger di level US$17,5 per juta British thermal units (MMBtu) atau melonjak hingga 45% jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Akselerasi harga di kawasan Asia ini bahkan sanggup melampaui kondisi di pasar Eropa. 

Selisih tarif JKM terhadap patokan Eropa Title Transfer Facility (TTF) terpantau berbalik arah dari yang awalnya premi Eropa sebesar US$0,9/MMBtu pada Januari-Februari, bergeser menjadi premi Asia dengan rata-rata US$2,1/MMBtu di sepanjang Maret-Juni. 

Pergeseran tren ini memicu perpindahan muatan kargo LNG fleksibel dari kawasan Eropa menuju Asia demi mengejar nilai jual yang jauh lebih kompetitif.

Kendati grafik harga mulai mengalami koreksi pasca-tercapainya nota kesepahaman temporer antara pihak AS dan Iran, posisinya dinilai masih jauh di atas rata-rata tahun 2025. 

Sepanjang rentang 15 sampai 26 Juni, harga kontrak bulan depan TTF menyusut sekitar 6%, sementara indeks Platts JKM terkoreksi di kisaran 12%.

Seratan hambatan pasokan berakar dari merosotnya angka ekspor LNG dari negara-negara di kawasan Teluk.

 Sepanjang periode Maret hingga Juni 2026, volume pengapalan LNG asal Qatar dan Uni Emirat Arab menyusut sekitar 35 miliar meter kubik (bcm) jika dibandingkan dengan catatan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Walakin, tren penurunan tersebut mampu sedikit dieliminasi berkat adanya eskalasi produksi dari sejumlah proyek LNG anyar di area Amerika Utara dan Afrika, ditambah pasokan ekstra dari para produsen di Afrika, Asia, serta Rusia. 

Angka produksi LNG dari luar wilayah Teluk merangkak naik hampir 18% atau berkisar 27 bcm secara tahunan pada kurun waktu tersebut, sehingga sanggup menambal sekitar tiga perempat dari total kemerosotan pasokan dari Teluk.

Namun jika dikalkulasikan secara menyeluruh, output LNG global tetap mencatatkan penyusutan di kisaran 4% atau setara dengan 8 bcm selama periode Maret-Juni 2026.

"Untuk membantu mengisi kesenjangan, eksportir telah mengadopsi langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan LNG," tulis laporan itu.

Sejumlah negara terpantau ikut mengambil keputusan strategis demi menginjeksikan pasokan ke dalam pasar. 

Pihak Amerika Serikat menerbitkan restu bagi fasilitas LNG Plaquemines untuk mendongkrak volume ekspor berkisar 13% atau 4,6 bcm per tahun, sedangkan untuk fasilitas Elba Island LNG mengantongi izin perluasan ekspor sekitar 22%. 

Di samping itu, Australia bersama Singapura juga merilis maklumat bersama terkait ketahanan ekonomi serta pasokan komoditas esensial demi menjaga kelancaran roda niaga LNG.

Akselerasi harga LNG diproyeksikan bakal memberikan imbas langsung terhadap tingkat konsumsi gas di daratan Asia. 

Angka permintaan gas alam di regional ini diprediksi menyusut sekitar 0,5% sepanjang tahun 2026 akibat mahalnya biaya perolehan LNG, yang kemudian memicu sektor pembangkit listrik memutar haluan untuk mengonsumsi batu bara.

"Di Asia, permintaan gas alam diperkirakan akan menurun sebesar 0,5% pada tahun 2026 karena harga LNG yang lebih tinggi mendorong peralihan gas ke batu bara di sektor pembangkit listrik," tulis laporan tersebut.

Bukan hanya itu, lini industri yang padat energi juga diproyeksikan bakal memangkas kapasitas operasional mereka sebagai dampak dari membubungnya ongkos energi.

Secara global, grafik permintaan gas diestimasikan melorot sekitar 0,5% atau setara 20 bcm di tahun 2026. Koreksi ini menjadi rapor kontraksi tahunan ketiga dalam kurun waktu satu dekade terakhir pasca-kejadian serupa di tahun 2020 dan 2022.

Selain di wilayah Asia, tingkat konsumsi gas di area Timur Tengah diproyeksikan ikut tergerus sekitar 4% akibat efek kerusakan pada sejumlah sarana produksi serta lesunya aktivitas industri yang mengandalkan bahan baku gas. 

Sementara itu, grafik permintaan gas di benua Eropa diestimasi melandai di atas 2% seiring dengan masifnya geliat pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan di tengah tingginya harga gas.

Di lain pihak, kawasan yang tidak menggantungkan pasokannya pada jalur impor LNG diproyeksikan hanya menerima dampak yang relatif minim. 

Angka permintaan gas di benua Afrika diprediksi berjalan cukup stabil, sedangkan untuk wilayah Amerika Tengah dan Selatan diestimasikan mampu tumbuh di kisaran 3% yang dipicu oleh menyusutnya produksi listrik dari tenaga air sehingga mendongkrak kebutuhan gas untuk operasional pembangkit listrik.

Reporter: Ibtihal