Harga Minyak Tergelincir Seiring Meredanya Risiko Pasokan Teluk
JAKARTA - Nilai minyak mentah mengalami penurunan pada hari Kamis lantaran pelaku pasar terus memperhitungkan menyusutnya ancaman terhadap ketersediaan minyak mentah di Timur Tengah, di mana proyeksi suplai yang membaik terus membebani pasar sekalipun ketidakpastian geopolitik masih menghantui.
Pada pukul 08:16, Futures Minyak Mentah WTI AS merosot 0,85% menuju angka $68,00 tiap barelnya. Sementara itu, Futures Minyak Brent tercatat belum memulai aktivitas perdagangannya.
Aparat berwenang AS mengungkapkan kalau proses negosiasi bersama Iran sedang memperlihatkan perkembangan positif, sekalipun pembicaraan tersebut baru menginjak fase awal, sehingga meminimalisasi kecemasan bakal terjadinya ketegangan mendadak yang mampu menghambat arus ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk.
Di waktu yang sama, aktivitas pengapalan minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz sudah merangkak naik melampaui angka 10 juta barel per hari, mempertegas kian tebalnya optimisme pasar bahwa pasokan bakal tetap berjalan lancar biarpun bayang-bayang risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Ikuti pergerakan harga minyak secara real-time, dinamika risiko geopolitik, serta bedah pasar energi dari para analis andal lewat InvestingPro.
Optimisme yang kian tebal bahwa aktivitas ekspor dari wilayah Teluk bakal terus bergulir tanpa hambatan konsisten memberikan tekanan pada tingkat harga.
Aliran komoditas hitam yang melewati Selat Hormuz terpantau membaik secara konsisten dalam beberapa minggu ke belakang, sedangkan bermacam opsi pengganti telah menyokong pulihnya volume ekspor dari jajaran negara produsen utama di area itu, sekaligus memangkas kecemasan seputar potensi macetnya pasokan dalam jangka panjang.
Di saat bersamaan, publikasi angka terkini dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang memperlihatkan volume produksi minyak mentah domestik sukses menyentuh rekor tertinggi di angka 13,93 juta barel per hari pada April kemarin kian memvalidasi ekspektasi pasar akan meluapnya pasokan global.
ANZ menuturkan kalau prospek yang semakin cerah terkait potensi tercapainya komitmen jangka panjang antara Washington dan Teheran berhasil meredakan kekhawatiran pasokan, sekalipun ketidakpastian mengenai regulasi pengelolaan Selat Hormuz ke depan tetap menjadi sentimen penyokong fundamental bagi harga minyak mentah.
Biarpun tingkat harga belakangan ini kedapatan lesu, para pelaku pasar tetap bersikap waspada selama proses diplomasi ini berjalan.
Pasar sekarang tengah memantau ketat dinamika berikutnya dalam negosiasi AS-Iran, indikasi lanjutan terkait pengiriman di area Teluk, beserta rilis data stok cadangan dan tingkat permintaan AS yang akan datang demi membaca arah pergerakan harga minyak secara lebih gamblang.