Laba Turun, CLEO Tetap Guyur Dividen Rp60 Miliar ke Pemegang Saham

Beberapa produk milik CLEO. (Foto: dok CLEO)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 23 Juni 2026 | 13:09:44 WIB

JAKARTA – Emiten yang bergerak di bidang produksi air minum dalam kemasan, PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) menetapkan untuk menggelontorkan dividen tunai bernilai Rp60 miliar atau setara Rp2,5 per lembar saham dari perolehan laba tahun buku 2025. 

Langkah pembagian keuntungan ini direalisasikan di tengah berjalannya strategi perluasan pasar secara masif oleh korporasi, termasuk pendirian tiga pabrik anyar serta penguatan jaringan distribusi di pelbagai daerah di Indonesia.

Direktur Keuangan CLEO Lukas Setio Wongso mengutarakan bahwa pembagian dividen ini menggambarkan komitmen korporasi untuk senantiasa menghadirkan nilai tambah bagi para pemegang saham berbarengan dengan upaya menjaga tren pertumbuhan jangka panjang.

Sebasaimara dilansir dari berita sumber, "RUPS menyetujui penggunaan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku 2025 bagi dividen dengan total sebesar Rp60 miliar atau Rp2,5 per lembar saham," ujarnya dalam Paparan Publik secara daring, Senin (22/6/2026).

Ketetapan itu diambil walaupun profitabilitas bersih CLEO sepanjang 2025 terkoreksi akibat besarnya alokasi dana ekspansi serta persiapan operasional untuk pabrik-pabrik baru.

Sepanjang tahun kemarin, CLEO mengantongi penjualan konsolidasi menyentuh Rp2,83 triliun atau naik 4,8% ketimbang performa tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,70 triliun.

Kendati demikian, keuntungan bersih tercatat berada di angka Rp390 miliar atau merosot 17,8% secara tahunan (year-on-year).

 Manajemen berpendapat bahwa beban pada profitabilitas ini cuma bersifat temporer karena dipicu oleh naiknya beban depresiasi, upah tenaga kerja, serta ongkos persiapan ekspansi.

Meskipun begitu, postur finansial perseroan terpantau tetap kokoh. Akumulasi aset melonjak 13,3% menyentuh Rp3,02 triliun, sedangkan total liabilitas menyusut 3,7% menjadi Rp706,7 miIiar.

Pada periode yang sama, posisi ekuitas melesat 19,8% ke angka Rp2,31 triliun. 

Kondisi fundamental yang prima ini menjadi salah satu penopang utama yang mempermudah korporasi untuk tetap menebar dividen sembari meneruskan rencana ekspansi di level nasional.

Memasuki periode 2026, CLEO memperlihatkan indikasi pemulihan yang signifikan. 

Pada triwulan I/2026, emiten ini membukukan nilai penjualan sebesar Rp774 miliar atau naik 16% dibanding periode serupa tahun kemarin. Laba bersih pun ikut terkerek 5% ditopang oleh kenaikan volume penjualan serta efisiensi pada pos operasional.

Direktur Utama CLEO Melisa Patricia menuturkan bahwa perseroan tetap menaruh rasa optimis untuk bisa membukukan pertumbuhan omzet dan laba bersih di level dua digit di sepanjang tahun 2026.

Keyakinan tersebut disokong oleh agenda pengoperasian tiga unit pabrik baru yang ditempatkan di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru.

Ketiga fasilitas produksi tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak kapasitas output sekaligus memangkas ongkos logistik distribusi yang kian melonjak.

Bukan cuma menambah volume kapasitas produksi, CLEO juga giat memperkokoh basis distribusinya lewat anak usaha, PT Sentral Sari Prima Sentosa (SPS).

Sampai dengan Maret 2026, SPS telah mengelola kurang lebih 430 titik distribusi serta menjalin kemitraan dengan lebih dari 11.000 agen distribusi di penjuru tanah air.

Pada aspek produk, perseroan giat memperbanyak varian portofolio dengan membidik pangsa pasar premium serta lini horeka (hotel, restoran, dan kafe). 

Di tahun 2026, CLEO merilis varian Cleo Platine Sparkling Water serta Cleo Platine kemasan 750 ml demi menangkap peluang pertumbuhan konsumsi di sektor wisata dan kuliner.

Tidak hanya fokus mengejar pertumbuhan omzet bisnis, CLEO pun melanjutkan program keberlanjutan lingkungan. Perseroan menargetkan kapasitas operasional pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) meningkat ke angka 8 MW pada 2026 dari posisi 7,7 MW di tahun sebelumnya.

Bukan cuma itu, pemanfaatan bahan baku plastik hasil daur ulang terus dioptimalkan guna menekan ketergantungan pada pemakaian material plastik murni (virgin plastic).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Reporter: Ibtihal