Harga Bitcoin Melesat ke USD 63.952, Target USD 70.000 Masih Berat

Ilustrasi Bitcoin. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 23 Juni 2026 | 09:34:22 WIB

JAKARTA  – Nilai Bitcoin (BTC) merangkak naik drastis pada Selasa (23/6/2026) pagi. 

Walau demikian, tren penguatan menuju area US$ 70.000 masih terhambat oleh beban arus dana keluar ETF serta ketidakstabilan makroekonomi internasional.

Bersandarkan pada data CoinMarketCap pada pukul 06.30 WIB, nilai kapitalisasi pasar kripto global terangkat 0,66% menuju angka US$ 2,19 triliun. 

Di waktu yang sama, nilai Bitcoin (BTC) hari ini melesat 1,13% ke posisi US$ 63.952 per koin atau setara kisaran Rp 1,14 miliary (mengacu kurs Rp 17.863 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20 yang menjadi cerminan performa 20 aset kripto lapis atas menguat 0,46%. 

Ethereum terkerek naik 1,28% menuju US$ 1.726, Binance (BNB) menanjak 1,05% ke angka US$ 589, XRP justru menguat 0,37% ke level US$ 1,12, dan Dogecoin (DOGE) terangkat 0,24% ke posisi US$ 0,08. Sebaliknya, Solana (SOL) justru terperosok 0,8% menjadi US$ 71,86.

Disadur dari CoinTelegraph, nilai Bitcoin (BTC) bergerak menguat tipis sejalan dengan tumbuhnya optimisme pasar atas posisi leverage bullish. 

Kendati begitu, ruang untuk penguatan jangka pendek menuju target US$ 70.000 dianggap masih terbatas lantaran imbas tekanan dari arus keluar ETF serta risiko makroekonomi internasional.

Atmosfer pasar kripto ikut terpengaruh oleh statement Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance yang menuturkan bahwa Selat Hormuz tetap beroperasi seiring progres positif dialog bersama delegasi Iran di Swiss. 

Kondisi tersebut mereduksi nilai minyak Brent ke kisaran US$ 77,50 per barel, yang merupakan level paling rendah sejak Maret, dan turut berimbas pada pergerakan aset berisiko termasuk Bitcoin.

Pada pasar derivatif, tingkat pendanaan (funding rate) untuk kontrak perpetual Bitcoin menanjak ke angka 7%, catatan paling tinggi dalam kurun hampir tiga minggu. 

Walau posisinya masih berada di teritori netral, peningkatan ini memperlihatkan menebalnya kepercayaan para investor pada posisi long atau bullish.

Meski begitu, keyakinan tersebut belum sepenuhnya kokoh. 

Angka permintaan opsi put (proteksi penurunan harga) diinfokan masih dua kali lipat lebih jumbo jika dikomparasikan dengan opsi call, mengisyaratkan pelaku pasar tetap waspada atas potensi terjadinya koreksi.

Saham Teknologi AS Melemah

Di sudut lain, bursa saham teknologi AS turut terkoreksi, di mana indeks Nasdaq 100 merosot berkisar 1% akibat tekanan pada jajaran saham berbasis kecerdasan buatan (AI). 

Saham SpaceX juga terpangkas 13% pasca adanya proyeksi penerbitan instrumen utang baru, walaupun korporasi sejatinya masih memegang cadangan dana kas yang masif.

Dari sisi likuiditas, minat terhadap ETF Bitcoin di AS terpantau masih mengalami tekanan. 

Data dari CoinGlass membukukan arus keluar bersih (outflow) senilai US$ 228 juta pada pekan terdahulu, yang memperpanjang tren arus keluar selama enam minggu secara berturut-turut.

Di samping itu, penyusutan pada instrumen saham, obligasi, beserta emas secara simultan mengindikasikan bahwa para investor lebih memilih untuk memperbesar porsi kas di tengah ketidakpastian pasar internasional. 

Situasi inilah yang ikut meredam kans reli Bitcoin dalam jangka pendek.

Biarpun begitu, data order book pada jajaran bursa raksasa memperlihatkan kekuatan beli masih sedikit lebih mendominasi ketimbang tekanan jual, sehingga menyajikan sokongan terbatas bagi nilai Bitcoin untuk bertahan di atas level US$ 65.000.

Secara garis besar, para pengamat menilai peluang Bitcoin demi menembus posisi US$ 70.000 dalam waktu dekat masih membentur sederet rintangan, utamanya dari aspek arus modal ETF serta dinamika makro global.

Reporter: Ibtihal