Ekonom Proyeksi BI Rate Bertahan di 5,50 Persen pada RDG Juni 2026

Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate. (Foto: FREEPIK/FREEPIK)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 18 Juni 2026 | 13:44:37 WIB

JAKARTA – Beberapa ahli ekonomi memproyeksikan Bank Indonesia (BI) bakal mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada posisi 5,50 persen dalam forum Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 17-18 Juni 2026. 

Perkiraan ini mengemuka menyusul langkah penaikan akumulatif sebesar 75 bps yang sempat dieksekusi BI pada Mei dan awal Juni lalu untuk menyokong stabilitas nilai tukar rupiah.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut BI kemungkinan besar akan menahan BI Rate karena dampak pengetatan moneter sebelumnya sudah mulai terlihat.

 "Kalau menurut saya, mungkin dipertahankan dulu ya karena sudah dua kali berturut-turut dinaikkan," ujar Faisal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Faisal berpendapat, kebijakan penaikan suku bunga terdahulu terbilang andal dalam menyeimbangkan rupiah yang sempat terdepresiasi walaupun aksi intervensi pasar valas sudah dijalankan. 

Pada fase ini, BI dinilai tengah berikhtiar menyelaraskan antara ketahanan nilai tukar dan upaya memelihara laju pertumbuhan ekonomi domestik.

"Kalau dinaikkan lagi, pertimbangannya akan ada dampaknya terhadap pertumbuhan atau transmisi ke dalam bentuk penyaluran kredit ke sektor riil yang akan tertahan," ungkap Faisal sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Dia memandang tujuan utama kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah saat ini sudah relatif tercapai, sehingga ruang untuk langkah lanjutan menjadi lebih terbatas.

Selaras dengan pandangan itu, pengamat ekonomi dari LPEM FEB UI, Teuku Riefky, turut memperkirakan pihak BI bakal bergeming pada tingkat BI Rate di angka 5,50 persen. 

Riefky menganggap total penambahan suku bunga senilai 75 bps, intervensi valas, serta penguatan imbal hasil SRBI telah menjadi langkah respons yang cukup proporsional dari bank sentral.

"Kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," ungkap Riefky sebagaimana dilansir dari sumber berita.

 Ia juga menekankan pentingnya mengevaluasi dampak kebijakan yang telah ditempuh sebelum mengambil langkah strategis selanjutnya.

Catatan inflasi pada Mei 2026 menunjukkan kenaikan hingga menyentuh 3,08 persen secara tahunan, yang dominan dipengaruhi oleh aspek jalur penawaran seperti lonjakan harga pangan serta komoditas energi. 

Riefky menilai kemampuan pengetatan moneter lanjutan dalam meredam inflasi dari jalur penawaran cenderung minim, sementara penetapan suku bunga tinggi berpotensi menekan operasional sektor usaha.

Walau begitu, guncangan terhadap mata uang rupiah tetap wajib dicermati menyusul nilai tukarnya yang sempat merosot ke posisi terendah di atas Rp 18.000 per dolar AS. 

Memperhatikan kondisi cadangan devisa yang telah terpakai hingga 11,6 miliar dolar AS di sepanjang tahun ini, pihak LPEM mengestimasi ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga di masa depan terbilang masih sangat sempit.

Reporter: Ibtihal