Rupiah Berpeluang Lanjutkan Penguatan Hari Senin Ini, Cek Pemicunya

Ilustrasi Mata Uang Rupiah. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Senin, 15 Juni 2026 | 09:36:17 WIB

JAKARTA -  Performa mata uang rupiah mencatatkan apresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pekan kemarin. K

eperkasaan rupiah ditopang oleh perpaduan stimulus positif dari dalam negeri serta pulihnya minat risiko pada pasar global. Tren penguatan mata uang Garuda ini diproyeksikan masih bakal diteruskan pada perdagangan Senin (15/6/2026). 

Merujuk pada data Bloomberg, nilai rupiah di pasar spot berakhir menguat sebesar 0,72% menuju posisi Rp 17.860 per dolar AS pada hari Jumat (12/6). Selaras dengan itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) turut menguat 0,33% ke angka Rp 17.921 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengemukakan bahwa besarnya harapan atas terwujudnya traktat damai antara AS dan Iran berpeluang menekan laju harga minyak mentah di kancah dunia. 

Situasi ini memicu atmosfer risk-on di pasar finansial sekaligus mendongkrak ketertarikan para pemodal pada instrumen aset berisiko, termasuk mata uang di negara-negara berkembang. 

Menurut analisis Lukman, dinamika tersebut masih akan bertindak sebagai motor penggerak utama pasar pada pembukaan pekan ini. Apabila rasa optimis terhadap rekonsiliasi damai tersebut terus terjaga, maka volume permintaan terhadap aset berisiko memiliki kans untuk naik.

Di sisi lain, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi berpandangan bahwa penguatan rupiah ikut dipicu oleh langkah Bank Dunia yang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Bank Dunia mengestimasi perekonomian Indonesia mampu bertumbuh di level 5,0% pada tahun 2026, yang merefleksikan catatan kinerja ekonomi kuartal I-2026 yang bergerak lebih perkasa dari estimasi awal. 

Menurut Ibrahim, produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,6% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I-2026, sekaligus menorehkan rekor pertumbuhan paling tinggi sejak periode kuartal II-2021.

Pencapaian impresif tersebut didorong oleh laju konsumsi rumah tangga yang melonjak selama momen Ramadan dan Idul Fitri, percepatan distribusi tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara, serta dimulainya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pertumbuhan ekonomi yang solid memberikan keyakinan terhadap prospek fundamental domestik dan menjadi sentimen positif bagi rupiah," ujar Ibrahim, Jumat (12/6/2026).

Kendati demikian, lembaga Bank Dunia pun memberikan catatan mengenai beberapa risiko yang wajib diwaspadai, di antaranya alokasi ruang fiskal yang kian menyempit, potensi membengkaknya beban subsidi imbas fluktuasi harga minyak global, serta dinamika ketidakpastian pasar keuangan sehubungan dengan agenda evaluasi indeks MSCI.

Dalam sesi perdagangan Senin (15/6/2026), Lukman memproyeksikan rupiah akan bergulir pada kisaran Rp 17.700-Rp 17.850 per dolar AS. 

Sementara itu, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.860-Rp 17.910 per dolar AS.

Reporter: Ibtihal