Imbas Konflik Israel-Lebanon, Harga Minyak Naik 2 USD per Barel

Harga Minyak Naik 2 USD per Barel. (Sumber Gambar: net)
Penulis: Ibtihal
Senin, 08 Juni 2026 | 11:14:46 WIB

SINGAPURA – Lonjakan harga minyak mentah dunia terjadi secara signifikan hingga lebih dari US$ 2 per barel pada awal perdagangan Senin (8/6/2026). 

Kenaikan ini dipicu oleh serangan militer Israel ke Lebanon pada Minggu (7/6/2026) yang memancing aksi balasan dari Iran.

Aktivitas perdagangan minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan sebesar US$ 2,57 menjadi US$ 93,11 per barel pada pukul 22.15 GMT (05.15 WIB), dilansir dari Detik Finance melansir Reuters. 

Pada saat yang sama, harga minyak mentah berjangka Brent juga melonjak sebesar US$ 2,67 ke posisi US$ 95,76 per barel.

Eskalasi militer Israel ke wilayah Lebanon terus berlangsung di tengah memanasnya konflik dengan Hizbullah, tepat setelah adanya negosiasi damai dan gencatan senjata antara AS dan Iran. 

Para pejabat Israel berargumen bahwa konflik di Lebanon harus dipisahkan dari kesepakatan gencatan senjata apa pun dengan pihak Iran.

Sebaliknya, Teheran menuntut agar kesepakatan damai dengan Amerika Serikat turut mencakup penghentian serangan di Lebanon. 

Negara Timur Tengah tersebut memperingatkan tindakan Israel dapat membahayakan hasil pembicaraan damai, terutama setelah Israel menyerang Beirut pada Minggu (7/6/2026) untuk pertama kali sejak rencana gencatan senjata diumumkan pekan lalu.

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa operasi militer Israel menyasar pangkalan udara Ramat David di dekat Nazareth. 

Namun, militer Israel berdalih serangan tersebut merupakan tindakan membela diri dan bagian dari sistem pertahanan yang mencegat rudal kiriman dari Iran.

Merespons situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari aksi balasan lanjutan setelah Iran meluncurkan rentetan rudal ke Israel.

"Trump, yang menghabiskan akhir pekan di klub golfnya di Bedminster, New Jersey, dan Netanyahu berbicara melalui telepon selama kurang dari setengah jam," kata seorang pejabat Israel. 

Pihak Gedung Putih maupun kantor perdana menteri Israel masih belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan komentar mengenai pembicaraan telepon tersebut.

Reporter: Ibtihal