Telkom Siapkan Rp1,2 Triliun Guna Program Pensiun Dini Karyawan
JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menyiapkan alokasi dana berkisar antara Rp1 triliun hingga Rp1,2 triliun guna melaksanakan program pensiun dini atau early retirement program (ERP) di tahun 2026.
Direktur Telkom Arthur Angelo Syailendra menyampaikan bahwa untuk tahun ini, TLKM mencadangkan dana tambahan bagi ERP senilai Rp1 triliun sampai Rp1,2 triliun.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, dalam earning calls TLKM pada Selasa (2/6/2026), Angelo memaparkan, “Sebagian besar peserta program tersebut kami perkirakan berasal dari karyawan di level anak usaha, bukan lagi dari level holding company seperti yang kami lakukan pada 2025,”
Angelo menerangkan lebih lanjut bahwa pada kuartal IV/2025, TLKM telah mengimplementasikan program ERP yang ditujukan bagi para pegawai di tingkat induk perusahaan (parent company) atau level holding company.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Angelo mengonfirmasi, “Untuk program tersebut, kami mengeluarkan biaya sekitar Rp937 miliar, dengan sekitar 612 karyawan mengikuti program tersebut,”
Sementara itu, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, lewat hasil risetnya memproyeksikan bahwa pelaksanaan program ERP ini berisiko memicu tekanan baru pada pengeluaran operasional atau operational expenditure (Opex) TLKM untuk periode jangka pendek.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Kafi dan Erindra menuliskan, “Hal ini mendasari proyeksi margin EBITDA 2026 kami sebesar 48,7%, dengan perkiraan pemulihan menjadi 50,0% dan 50,3% masing-masing pada 2027 dan 2028,”
Pihak BRI Danareksa Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy untuk saham TLKM, namun mereka menetapkan target harga yang lebih rendah di angka Rp3.750 per lembar saham.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, analis memaparkan, “Kami mempertahankan rekomendasi buy, namun dengan target harga lebih rendah menjadi Rp3.750, mencerminkan pemangkasan EBITDA 2026—2028 sebesar 3,7%—5,4%,”
Di samping itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan sikap netral dalam rentang waktu jangka pendek tiga bulan ke depan.
Hal ini mengacu pada adanya penurunan musiman pada sektor bisnis seluler di kuartal II/2026, serta kemungkinan adanya koreksi naik pada panduan capex yang saat ini dipatok pada batas 17%—19% dari total pendapatan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, analis menambahkan, “Menurut kami, kenaikan capex berpotensi dipicu depresiasi rupiah dan tambahan belanja untuk implementasi spektrum 5G,”