Tujuan Investasi, Direktur TPIA Beli Saham Senilai Rp8,21 Miliar
JAKARTA – Direktur PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), Raymond Budhin, memperbesar porsi kepemilikan sahamnya di dalam perseroan lewat serangkaian langkah transaksi pembelian pada Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi, Raymond mengeksekusi 10 kali transaksi pembelian saham Chandra Asri dengan maksud untuk investasi.
Akumulasi saham yang dipatok menyentuh 4,57 juta lembar saham dengan total nilai transaksi berkisar Rp8,21 miliar.
Aksi pembelian paling jumbo dilakukan dengan menyerap 3,25 juta lembar saham pada tingkat harga Rp1.795 per saham.
Di samping itu, Raymond juga memborong 453.600 lembar saham pada harga Rp1.780 per saham serta 300.000 lembar saham pada tingkat harga Rp1.790 per saham.
Secara menyeluruh, Raymond menghimpun sebanyak 4.567.200 lembar saham TPIA dalam rentang harga Rp1.780 sampai dengan Rp1.890 per saham.
Bersandar pada kalkulasi Bisnis, akumulasi nilai dari pembelian tersebut menyentuh angka sekitar Rp8,21 miliar.
Aksi borong tersebut melesatkan kepemilikan saham Raymond Budhin sebesar 90,44%, dari yang sebelumnya 5,05 juta lembar saham menjadi sebanyak 9,62 juta lembar saham.
Walau demikian, akibat masifnya jumlah saham TPIA yang beredar di pasar, porsi kepemilikan dari sang direktur perseroan tersebut masih setara di kisaran 0,01% dari keseluruhan saham dengan hak suara yang beredar.
Pada sesi perdagangan Kamis (4/6/2026), harga saham TPIA terpantau mengalami koreksi sebesar 14,86% menuju level Rp1.375. Secara year-to-date (YtD), nilai sahamnya mencatatkan penurunan hingga 80,63%.
Namun dari sudut pandang fundamental, TPIA sejatinya menorehkan grafik pertumbuhan.
Anak perusahaan dari PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) kepunyaan konglomerat Prajogo Pangestu ini berhasil membukukan laba bersih senilai US$205 juta pada kuartal I/2026, alias melesat tajam 954,2% bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, untuk catatan EBITDA terdokumentasi menyentuh US$421 juta atau melonjak hingga 1.813,6% secara tahunan (year-on-year).
Melesatnya performa kinerja ini tidak luput dari sokongan segmen bisnis energi hasil akuisisi yang belakangan bertransformasi sebagai pilar utama usaha.
Sektor ini menyumbangkan porsi sekitar 60% dari keseluruhan pendapatan perseroan, sekaligus menandai adanya pergeseran struktur roda bisnis perusahaan yang sebelumnya bertumpu pada petrokimia menjadi lebih bervariasi (terdiversifikasi).