Melonjak, Harga Karet SGX Sicom Hari Ini Sentuh Rp41.819 per Kg
JAKARTA - Banderol harga karet pada hari ini, Jumat, 5 Juni 2026 membukukan tren positif pada kancah internasional perdagangan komoditas.
Berdasarkan data transaksi paling gres, nilai kontrak berjangka untuk komoditas ini kokoh bertahan pada level tertinggi sejak Januari 2017 silam.
Pergolakan pasar global memperlihatkan nilai karet alam di bursa SGX-SICOM berada pada posisi 234,4 sen AS per kilogram.
Jika dikonversikan memanfaatkan kurs Rp17.841 per dolar AS, nominal tersebut setara dengan Rp41.819 per kilogram untuk Kualitas Kontrol Kualitas (KKK) 100%.
Nilai perdagangan internasional teranyar ini tercatat mengalami kenaikan tipis sebesar Rp139 per kilogram dari hari sebelumnya.
Pada sesi perdagangan sebelum ini, harga komoditas perkebunan tersebut masih bertengger di angka Rp41.680 per kilogram.
Peningkatan harga karet di pasar global ini memberikan dampak yang variatif terhadap nilai jual di tingkat lokal bersandarkan pada kadar karet kering.
Penentuan harga komoditas murni ini dikalkulasikan secara proporsional berdasarkan persentase kualitas barang yang diperoleh para petani.
Rincian Harga Karet di Bursa Internasional SGX-SICOM
Guna menyajikan gambaran detail mengenai nilai komoditas ini, berikut adalah rincian harga yang berlaku di bursa internasional untuk jenis Kualitas Kontrol Kualitas (KKK):
- KKK 100%: Rp41.819 per kilogram
- KKK 70%: Rp29.273 per kilogram
- KKK 60%: Rp25.091 per kilogram
- KKK 50%: Rp20.910 per kilogram
Walaupun perdagangan harian sempat melewati koreksi tipis berkisar 0,04% dari titik puncaknya, performa komoditas ini secara umum terpantau tetap sangat solid.
Dalam kurun waktu sebulan ke belakang, akumulasi nilai jual global terdokumentasi sudah melonjak sebesar 7,92%.
Perbandingan Harga dengan Periode Tahun Lalu
Jika ditarik garis komparasi secara tahunan, performa sektor perkebunan ini memperlihatkan lompatan yang luar biasa besar.
Kenaikan harga karet tercatat mencapai 46,50% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Sektor Domestik
Penguatan di bursa internasional berimbas langsung pada sentimen pasar di sentra produksi dalam negeri, semisal wilayah Sumatera.
Para pelaku usaha sektor perkebunan mulai menyesuaikan nilai transaksi perdagangan mereka di tingkat regional.
Kondisi ini membuat nilai jual getah mentah di tingkat daerah ikut terdongkrak signifikan mengikuti dinamika global.
Pergerakan positif tersebut memberikan angin segar bagi stabilitas pendapatan para petani perkebunan rakyat.
Di wilayah Sumatera Selatan, nilai jual getah hasil sadapan bahkan sempat dilaporkan nyaris menyentuh angka Rp40.000 per kilogram.
Capaian ini menjadi salah satu catatan nilai transaksi tertinggi tingkat daerah untuk perdagangan semester pertama tahun ini.
Akan tetapi, harga kotor di tingkat lokal sebelum dikurangi biaya produksi sangat bergantung pada kadar air produk.
Petani lokal menjual produk dalam berbagai tingkatan kadar karet kering yang bervariasi.
Adapun rincian nilai transaksi kotor untuk kadar karet kering di wilayah Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:
- Kualitas KKK 70%: Diperdagangkan senilai Rp27.425 per kilogram.
- Kualitas KKK 60%: Diperdagangkan senilai Rp23.507 per kilogram.
- Kualitas KKK 50%: Diperdagangkan senilai Rp19.590 per kilogram.
- Kualitas KKK 40%: Diperdagangkan senilai Rp15.672 per kilogram.
- Kualitas KKK 30%: Diperdagangkan senilai Rp11.754 per kilogram.
Analisis Historis Pergerakan Nilai Komoditas
Secara historis, instrumen komoditas ini mempunyai rekam jejak fluktuasi yang amat dinamis dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.
Rentang pergerakan nilai pasar global sejak periode tahun 1997 berada di kisaran 115,00 hingga 815,00 sen AS per kilogram.
Rekor tertinggi sepanjang masa untuk perdagangan komoditas perkebunan ini pernah tercipta pada bulan Februari 2025 lalu.
Saat itu, nilai perdagangan global melesat tajam dan menyentuh rekor maksimal di level 815,00 sen AS per kilogram.
Meskipun saat ini posisi pasar berada di kisaran 230 sen AS per kilogram, tren penguatan berkala diprediksi masih terus berlanjut.
Kondisi pasokan dan tingkat permintaan manufaktur dunia menjadi faktor penentu utama pergerakan nilai komoditas ke depan.