Jababeka Optimistis Kejar Target Marketing Sales Rp3,75 Triliun di 2026

Ilustrasi Jababeka Green Market (DOK/PT Jababeka Tbk (KIJA))
Penulis: Ibtihal
Kamis, 04 Juni 2026 | 13:49:10 WIB

JAKARTA – PT Jababeka Tbk (KIJA) merasa sangat yakin bahwa prospek usaha perusahaan bakal terus terjaga dengan positif hingga akhir tahun ini. 

Kendati perhatian publik tengah mengarah pada dinamika industri serta arus investasi, KIJA tetap menetapkan target marketing sales 2026 sebesar Rp 3,75 triliun.

Corporate Secretary KIJA, Mulyadi Suganda membeberkan bahwa hingga detik ini, realisasi marketing sales yang sukses dibukukan menyentuh angka Rp 540 miliar atau baru merepresentasikan kisaran 14% dari total target sepanjang tahun.

"Walaupun ini bicara secara persen baru 14%, tapi itu tidak menjadi satu patokan. Karena kami lihat historical juga seperti itu," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Rabu (3/6/2026).

Ia memberikan penegasan bahwa capaian yang diperoleh di setiap kuartal tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur utama. 

Hal itu disebabkan karena keputusan dalam menanamkan modal, khususnya bagi penanam modal asing, amat dipengaruhi oleh stabilitas global serta regulasi dari principal yang berada di negara asal mereka.

Jika dicermati dari sudut pandang pemodal, daya pikat kawasan industri Jababeka ditopang kuat oleh investor asing, terutama yang datang dari China maupun kawasan Asia lainnya. 

Adapun sektor-sektor usaha yang paling dominan mengalir di antaranya meliputi consumer goods, pertekstilan, data center, baterai, hingga industri material bangunan.

Terkait rincian struktur penjualan lahan, porsi paling besar ditargetkan bersumber dari kawasan industri Kendal dengan kontribusi di kisaran Rp 2,5 triliun, sedangkan sisa pemenuhannya akan dialokasikan dari wilayah Cikarang.

Menurut pandangan Mulyadi, keunggulan kompetitif utama dari kawasan industri Kendal saat ini terletak pada ekosistem industri yang telah terbangun dengan matang, sehingga dinilai sanggup menarik perhatian investor baru sekaligus memperkokoh jaringan supply chain industri yang sudah aktif sebelumnya. 

Sikap optimistis ini juga disokong oleh daftar rencana pemodal (pipeline investor) yang dinilai masih sangat solid, meskipun situasi perekonomian global masih diselimuti beraneka ketidakpastian.

Memperkokoh Sektor Bisnis Infrastruktur Tidak sekadar bersandar pada lini penjualan lahan semata, perusahaan juga terus mendongkrak laju pertumbuhan sektor bisnis infrastruktur sebagai mesin penggerak pendapatan baru.

Dari total akumulasi 139 tenant yang terdata telah membeli lahan di Kendal, tercatat baru berkisar 50 tenant yang telah aktif beroperasi. 

Indikator ini memperlihatkan bahwa masih terdapat celah yang sangat lebar bagi penambahan permintaan utilitas dari para tenant yang saat ini belum mengawali operasional mereka.

Untuk cetak biru ke depan, pihak korporasi bakal makin memfokuskan arah transformasinya menuju model bisnis yang berbasis pada pendapatan berulang (recurring income).

Beralih pada performa keuangan, nilai pendapatan KIJA terpantau mengalami penyusutan tipis menjadi Rp 1,19 triliun pada kuartal I-2026, jika disandingkan dengan perolehan sebesar Rp 1,29 triliun pada periode yang sama di tahun kemarin. 

Perlambatan ini dianggap lebih disebabkan oleh faktor perbedaan waktu pengakuan pendapatan (timing difference) saat proses serah terima (handover) proyek berlangsung, dan bukan mencerminkan adanya kemunduran pada fundamental bisnis perusahaan.

Sementara pada aspek raihan keuntungan, KIJA sukses mengamankan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 57,78 miliar. 

Nominal ini mengindikasikan adanya kenaikan bila dikomparasikan dengan perolehan laba bersih pada kuartal I-2025 yang terekam sebesar Rp 43,24 miliar.

Reporter: Ibtihal