Bukan Michael Saylor, Ini Penyebab Harga Bitcoin Jatuh 4 Persen
JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) terkoreksi sedalam lebih dari 4 persen pada Kamis (4/6/2026) pagi seiring meredupnya ketertarikan pemodal pada instrumen aset kripto.
Pengamat menilai bahwa pelemahan ini bukan dipicu oleh aktivitas pelepasan aset yang dijalankan oleh Michael Saylor, melainkan akibat adanya rotasi likuiditas ke sektor kecerdasan buatan (AI) serta aksi penawaran saham perdana (IPO) yang tengah naik daun di pasar keuangan.
Mengacu pada data CoinMarketCap pada pukul 07.00 WIB, total kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,21 persen ke level US$ 2,25 triliun.
Di saat yang sama, harga Bitcoin (BTC) hari ini amblas 4,11 persen menuju level US$ 64.018 per koin atau setara Rp 1,15 miliar (berpatokan pada kurs Rp 18.005 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20, yang memotret pergerakan 20 aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, turut melemah sebesar 3,02 persen.
Ethereum tergelincir 2,47 persen ke posisi US$ 1.811, Binance (BNB) menyusut 4,67 persen ke angka US$ 620, XRP terkoreksi 0,74 persen menjadi US$ 1,2, Solana (SOL) jatuh 3,42 persen ke level US$ 71,6, dan Dogecoin (DOGE) melorot 1,37 persen ke US$ 0,09.
Disadur dari CoinDesk, Direktur Riset dan Strategi Mata Uang Digital Charles Schwab, Jim Ferraioli, mengutarakan bahwa elemen utama di balik ambruknya harga Bitcoin (BTC) bukanlah langkah penjualan oleh Michael Saylor, melainkan akibat para pemodal yang cenderung mengalihkan perhatian ke instrumen lain yang dinilai punya prospek lebih menjanjikan.
Harga Bitcoin terpantau sudah mengalami koreksi di atas 16 persen dalam kurun waktu sebulan ke belakang.
Sebaliknya, indeks S&P 500 justru merangkak naik sekitar 5 persen sekaligus mencetak rekor tertinggi baru. Selama bertahun-tahun, Bitcoin dan bursa saham AS umumnya bergerak searah, namun ikatan korelasi itu mulai memudar dalam beberapa bulan terakhir.
Ferraioli menganggap bahwa Bitcoin saat ini telah kehilangan perannya sebagai instrumen momentum. Berdasarkan pandangannya, para pelaku pasar yang sebelumnya memburu peluang spekulatif sekarang lebih melirik ranah investasi lain, khususnya pada industri kecerdasan buatan (AI) serta penawaran umum perdana saham (IPO).
"Bitcoin sebenarnya masih mendapat banyak sentimen positif. Namun saat ini perhatian investor telah beralih ke sektor lain yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih besar," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kendati sepanjang tahun kemarin industri kripto menerima ragam katalis positif, seperti restu atas ETF Bitcoin spot, derasnya limpahan modal institusional, hingga progres regulasi di Washington, arus dana nyatanya lebih banyak mengalir ke sektor AI yang tengah melesat tajam. Korporasi di bidang pusat data, infrastruktur AI, serta komputasi tingkat tinggi menjelma jadi destinasi investasi baru di pasar.
Bukan cuma itu, para pemodal juga tengah mengantisipasi hadirnya beberapa agenda IPO berkapitalisasi besar yang diprediksi bakal menyerap likuiditas pasar, seperti OpenAI, Anthropic, hingga SpaceX yang diisukan sedang merancang IPO dengan potensi valuasi menyentuh US$ 1,8 triliun.
Sementara emiten lainnya diestimasikan mampu menjaring dana di atas US$ 200 miliar lewat mekanisme pencatatan saham perdana tersebut.
Menurut penilaian Ferraioli, tren ini berujung pada situasi di mana Bitcoin kini tak sekadar bersaing dengan sesama mata uang kripto, tetapi juga harus berkompetisi dengan pelbagai tema investasi populer di pasar global. "Investor momentum selalu mencari peluang yang paling menarik. Saat ini momentum sedang berada di luar pasar kripto," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ferraioli pun menyanggah asumsi yang menyebutkan bahwa merosotnya Bitcoin dipicu oleh penjualan 32 Bitcoin milik perusahaan Strategy milik Michael Saylor.
Ia menganggap volume transaksi itu terlampau mini untuk bisa menggoncang pasar secara masif dan sekadar menjadi bahan obrolan yang mencuat di tengah tren koreksi yang memang sedang bergulir.
Ia juga mengamati adanya aksi ambil untung dari sebagian pemegang ETF Bitcoin pasca berhasil memulihkan kerugian dari volatilitas ekstrem setahun ke belakang.
Pada 26 Mei lalu, sempat terdeteksi aktivitas penjualan masif pada ETF Bitcoin spot BlackRock IBIT dengan nilai menembus US$ 1,26 miliar di luar bursa (over-the-counter).
Studi dari NYDIG mengindikasikan transaksi tersebut kemungkinan besar diarsiteki oleh investor kakap yang berkeinginan untuk segera memangkas eksposur mereka pada Bitcoin.
Meskipun tingkat adopsi oleh kalangan institusi terus merangkak naik, Ferraioli memandang pasar kripto masih dikuasai oleh investor ritel yang lebih suka mengekor tren ketimbang mengalkulasi valuasi dalam jangka panjang.
Untuk masa mendatang, payung hukum yang lebih transparan seperti potensi pengesahan Clarity Act di AS dipercaya bisa menyokong pertumbuhan industri ini.
Namun, dalam jangka pendek, variabel tersebut dinilai belum punya daya tawar yang cukup kuat untuk mendongkrak kembali animo investor.
Faktor musiman juga turut memberikan tekanan bagi pergerakan pasar. Secara historis, siklus musim panas merupakan salah satu fase paling lesu bagi Bitcoin lantaran aktivitas perdagangan yang cenderung menurun.
"Masalah terbesar Bitcoin saat ini bukan regulasi, bukan Michael Saylor, dan bukan kondisi ekonomi. Investor hanya menemukan peluang lain yang lebih menarik," kata Ferraioli, sebagaimana dilansir dari berita sumber.