TMAS Garap Pabrik LNG 5 Juta MMSCFD, Beroperasi Semester II-2026

Direktur Utama PT Temas Tbk. (TMAS) Ricky Effendi (dari kanan), Komisaris Independen Theo Lekatompessy, dan Komisaris Utama Harto Khusumo. (Foto: bisnis.com)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 03 Juni 2026 | 13:23:06 WIB

JAKARTA – PT Temas Tbk. (TMAS) sedang memperluas jangkauan bisnisnya ke sektor energi lewat pembangunan fasilitas liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair. Infrastruktur baru ini diestimasikan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2026.

Direktur Business Development TMAS, Ganny Zheng, memaparkan bahwa langkah ekspansi ke sektor LNG ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang emiten guna memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka sumber pendapatan baru di luar lini bisnis utama pelayaran dan logistik. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber “Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II/2026,” ujar Ganny dalam paparan publik, Selasa (2/6/2026).

Ganny mengimbuhkan bahwa infrastruktur LNG ini nantinya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi armada kapal milik TMAS sendiri, yang sekarang mulai beralih memanfaatkan LNG sebagai pilihan bahan bakar yang lebih bersih dibanding bahan bakar fosil konvensional.

Lewat anak usahanya, TMAS saat ini sedang membangun fasilitas liquefaction plant di daerah Surabaya dengan kapasitas produksi mencapai 5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). 

Dalam mengeksekusi proyek strategis tersebut, emiten pelayaran ini menggelontorkan dana investasi atau belanja modal (capex) hingga berkisar Rp1 triliun.

Pabrik tersebut sengaja disiapkan bukan hanya untuk menyuplai bahan bakar armada kapal TMAS semata, melainkan juga diposisikan sebagai roda bisnis energi baru yang siap melayani keperluan pasar eksternal.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber “Ini memberikan kemungkinan pengembangan bisnis energi bagi perseroan. Fasilitas LNG tersebut dapat memasok kebutuhan kapal-kapal TEMAS dan juga mendukung pengembangan bisnis lainnya,” katanya.

Ganny menjelaskan bahwa manuver masuk ke bisnis LNG merupakan bagian dari cetak biru penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation) yang berkonsentrasi pada aspek ketahanan energi. 

Menurut penilaiannya, melimpahnya cadangan gas di Indonesia mempunyai potensi besar untuk dikonversi menjadi sumber energi domestik yang bernilai kompetitif bagi sektor industri maritim.

Pihak manajemen memproyeksikan penggunaan LNG untuk bahan bakar kapal bakal terus meningkat sejalan dengan tuntutan efisiensi operasional serta gerakan reduksi emisi karbon pada sektor pelayaran.

Di samping menunjang kegiatan operasional internal, TMAS melihat sektor LNG ini sebagai lini pendapatan baru yang menjanjikan dalam menopang tren pertumbuhan korporasi selama beberapa tahun mendatang.

Pemasukan perdana dari proyek ini diperkirakan mulai mengalir pada semester II/2026 dan akan memberikan kontribusi secara optimal pada tahun 2027.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber “Kami melihat ini sebagai salah satu peluang penambahan pendapatan. Dengan pengembangan bisnis LNG, kami berharap ada kontribusi baru terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan,” ujar Ganny.

Lebih lanjut, langkah ini dinilai berpeluang memperkokoh rekam jejak TMAS sebagai salah satu pionir yang mengadopsi LNG di industri maritim tanah air.

Ganny menyebut bahwa ceruk pasar LNG untuk keperluan bahan bakar kapal masih terbuka sangat lebar di tengah menguatnya urgensi akan energi yang ramah lingkungan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber “Kami melihat ini sebagai industri baru di sektor maritim, khususnya untuk penyediaan bahan bakar kapal. Indonesia memiliki sumber daya gas yang besar sehingga dapat menjadi basis pengembangan bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” katanya.

Selain fokus menggarap bisnis LNG, TMAS tetap konsisten memperkuat sektor bisnis utamanya melalui perluasan jangkauan layanan logistik terintegrasi serta meningkatkan kapasitas operasional pelabuhan.

Bekerja sama dengan PT Pelindo Terminal Petikemas, perseroan kini sedang merampungkan proyek perluasan area dermaga di Tanjung Priok dari yang awalnya sepanjang 340 meter menjadi 485 meter.

Langkah ini direalisasikan guna mendukung lonjakan volume bongkar muat serta memperlancar aktivitas logistik dalam jangka panjang.

Reporter: Ibtihal