Merdeka Gold Masuk Indeks Global dan Targetkan Produksi Naik
JAKARTA – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi sorotan setelah mencatat serangkaian perkembangan signifikan yang memperkuat prospek bisnis emasnya, mulai dari transaksi afiliasi, peningkatan produksi awal, hingga masuk ke indeks global emas.
Analis Astronacci International Gema Goeryadi dalam riset pada 6 Mei 2026 menjelaskan, EMAS tercatat melakukan transaksi afiliasi berupa penyewaan alat berat antara PT Merdeka Mining Indonesia (MMI) dan PT Batutua Tembaga Raya (BTR) dengan nilai sekitar Rp 39,37 miIiar.
Transaksi tersebut dikategorikan sebagai transaksi afiliasi karena kedua entitas berada dalam grup pengendali yang sama melalui Merdeka Copper Gold (MDKA).
Namun, nilai transaksi tersebut tidak dikategorikan material berdasarkan ketentuan OJK karena masih di bawah 20% ekuitas perusahaan.
Dari sisi pasar global, EMAS juga mendapat katalis positif setelah resmi masuk dalam Global Junior Gold Miners Index yang dilacak oleh ETF VanEck GDXJ.
Masuknya EMAS ke indeks tersebut diperkirakan dapat mendorong arus dana pasif global sekitar US$ 86 juta, sekaligus meningkatkan likuiditas dan eksposur investor internasional terhadap emiten emas Indonesia.
Menurut Gema Goeryadi dalam risetnya, perkembangan ini berpotensi memperkuat sentimen pasar dan meningkatkan minat investor asing terhadap sektor tambang emas domestik.
Di sisi operasional, EMAS telah mencatat produksi awal dari tambang Pani. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan produksi sebesar 1.818 ons emas dengan penjualan awal 516 ons, menandai transisi dari fase konstruksi menuju operasi komersial.
Perusahaan menargetkan produksi tahun 2026 berada di kisaran 100.000–115.000 ons emas, seiring peningkatan kapasitas operasional. Penurunan biaya produksi juga diharapkan terjadi pada paruh kedua 2026 ketika fasilitas heap leach mulai beroperasi penuh.
Untuk mendukung ekspansi, EMAS telah mengamankan fasilitas perbankan senilai US$ 150 juta pada April 2026 dari sejumlah bank, termasuk Bank Central Asia, CIMB Niaga, Danamon, Kasikornbank, dan Bank Maspion.
Fasilitas tanpa jaminan dengan tenor 12 bulan tersebut dinilai memberikan fleksibilitas likuiditas yang lebih kuat untuk mendukung ekspansi tambang dan operasional perusahaan.
Dari sisi penjualan, EMAS juga menandatangani perjanjian jual beli emas selama dua tahun dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk sekitar 100.000 ons per tahun. Kesepakatan ini dinilai memberikan kepastian penyerapan produksi dari tambang Pani yang baru mulai beroperasi.
Selain itu, hasil awal pengeboran di prospek Kolokoa menunjukkan indikasi mineralisasi emas yang menjanjikan, dengan kadar hingga 1,57 g/t dan potensi sumber daya awal 20 juta–40 juta ton.
Temuan ini berpotensi memperpanjang umur tambang dan memperkuat basis produksi jangka panjang EMAS.
Melihat kombinasi antara peningkatan produksi, dukungan pendanaan, kontrak penjualan, hingga potensi arus dana global, Astronacci International dalam riset Gema Goeryadi mempertahankan rekomendasi buy untuk EMAS dengan target harga Rp 10.000 per saham, berdasarkan valuasi PBV 2,0x untuk tahun 2026.
“Pertumbuhan laba bersih yang signifikan akan membawa EMAS ke level berikutnya. Kami melihat potensi aliran dana besar untuk mulai masuk ke saham ini,” tulis Gema dalam riset tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko operasional pada fase ramp-up produksi serta volatilitas harga emas global yang dapat memengaruhi kinerja ke depan. Saham EMAS hingga pukul 09.19 WIB turun 4,49% di level Rp 7.450 per saham.