Volume Transaksi Indocement INTP Tumbuh 1,8 Persen di Kuartal I/2026

Pekerja PT indocement tunggal prakarsa tbk. (Foto: bisnis.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 02 Juni 2026 | 11:47:41 WIB

JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sukses membukukan volume penjualan total (semen serta klinker) hingga menyentuh angka 4,44 juta ton sepanjang kuartal I-2026. 

Catatan tersebut memperlihatkan adanya pertumbuhan sebesar 1,8% apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Mengacu pada keterangan resmi yang dikeluarkan pada Senin (1/6/2026), peningkatan volume penjualan pada awal tahun 2026 ini disokong oleh performa sektor ekspor yang melonjak tinggi hingga 239% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Sebaliknya, volume penjualan bagi pasar domestik justru kedapatan mengalami koreksi senilai 2,3%.

Mengenai performa keuangan, INTP mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,84 triliun selama kuartal I-2026. Nilai tersebut mengalami penurunan sekitar 3,3% YoY dari raihan kuartal pertama pada tahun sebelumnya yang sempat mencapai angka Rp 3,97 triliun.

Sejalan dengan merosotnya angka pendapatan tersebut, pos beban pokok pendapatan perusahaan juga ikut menyusut sebesar 3,9% ke posisi Rp 2,74 triliun. 

Melalui hasil itu, perusahaan mengantongi margin laba bruto senilai Rp1,10 triliun atau setara dengan porsi 28,6% dari keseluruhan Pendapatan Neto.

Namun pada saat yang bersamaan, beban usaha perusahaan justru merangkak naik sebesar 3% ke angka Rp872,5 giliun. Lonjakan ini disebabkan oleh adanya pembengkakan pada biaya pengiriman atau logistik yang menjadi lebih tinggi. 

Walau begitu, perusahaan masih mampu mengamankan margin laba usaha di level 6,2% serta catatan EBITDA pada angka 17,0% selama periode kuartal I-2026.

Pada catatan hasil akhir, perolehan laba periode berjalan INTP bagi kuartal I-2026 sukses mengalami pertumbuhan tipis senilai 2,1% menjadi Rp215,2 miliar, bergerak naik dari capaian pada periode yang sama di tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 210,7 miliar.

Corporate Secretary INTP Dani Handajani memaparkan, walaupun pasar semen domestik memperlihatkan adanya peningkatan pada kuartal I 2026, sektor dunia industri ini nyatanya masih diselimuti oleh masalah ketidakseimbangan yang masif antara volume kapasitas terpasang dengan total permintaan dalam negeri. Keadaan ini lantas berdampak pada rendahnya level utilisasi operasional perusahaan.

Di samping persoalan tersebut, tren kenaikan harga energi baru-baru ini yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah juga diproyeksikan bakal semakin menekan daya beli masyarakat yang kondisinya sudah melemah. 

Ditambah lagi, porsi alokasi anggaran bagi pengerjaan proyek-proyek baru juga memiliki potensi untuk diperketat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Oleh karena itu, industri harus terus memaksimalkan seluruh aspek aktivitas operasional serta mengoptimalkan jaringan distribusi dan logistik,” pungkasnya.

Reporter: Ibtihal