Rupiah Melemah Tekan IHSG, Cek Analisa Saham GGRM hingga ICBP

Ilustrasi Pergerakan Ihsg. (Sumber Foto: kontan.co.id)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 02 Juni 2026 | 10:49:57 WIB

JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah pada posisi 6.127 atau terkoreksi sekitar 0,52 persen disandingkan dengan pekan sebelumnya pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. 

Fenomena menariknya, di tengah tren penyusutan IHSG dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan ke belakang, penanam modal asing merealisasikan pelepasan aset (outflow) menembus Rp19,4 triliun di pasar reguler sepanjang Mei 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menggarisbawahi bahwa koreksi indeks beserta hengkangnya penanam modal asing tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen global serta domestik.

Dari panggung global, terdapat perkembangan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Gesekan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengindikasikan adanya sinyal pengenduran, menyusul hadirnya rancangan draf Memorandum of Understanding (MoU) perihal gencatan senjata selama 60 hari yang kini tengah menanti lampu hijau dari Presiden AS Donald Trump.

"Sentimen tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan, sehingga mendorong koreksi harga minyak. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak Brent tercatat turun sekitar 17 persen, sementara harga minyak WTI melemah sebesar 17,14 persen," ujarnya dalam pernyataan resmi, Selasa (2/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, dari sisi domestik muncul hantaman terhadap nilai tukar rupiah, di mana mata uang garuda mengakhiri pekan di rentang Rp17.863 per USD (kurs BCA, 29 Mei 2026) atau mendekati level paling merosot sepanjang sejarah. 

Depresiasi sebesar 6,6 persen YtD menempatkan mata uang rupiah sebagai salah satu uang negara dengan performa paling bawah di kawasan Asia, sejajar dengan rupee India serta peso Filipina.

"Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar USD4 idiom (1,09 persen PDB), permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal II serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melangkah ke periode Juni 2026, fokus para pelaku pasar diproyeksikan bakal bergeser dari efek rebalancing MSCI menuju kapabilitas pihak berwenang dalam memelihara keseimbangan nilai rupiah sekaligus mengembalikan kepercayaan penanam modal asing. 

Kestabilan nilai tukar uang akan menjadi aspek paling krusial untuk mengarahkan laju pasar ke depan.

Walau Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan ke angka 5,25 persen demi membendung hantaman eksternal, pelaku pasar akan tetap memantau apakah strategi tersebut cukup bertaji untuk meredam gejolak rupiah serta meminimalkan tekanan arus modal keluar.

"Jika rupiah mampu menunjukkan stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik," ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping aspek dalam negeri, lanjut David, kompas kebijakan moneter AS pun bakal menjadi pusat perhatian utama para pelaku pasar. Agenda pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni berpeluang menjadi stimulan terbesar pada bulan ini. 

Penanam modal akan menanti sinyal paling gres perihal proyeksi inflasi serta arah suku bunga AS.

"Sikap The Fed yang masih cenderung hawkish berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko termasuk pasar saham Indonesia dapat memperoleh sentimen positif," kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berikut merupakan deretan saham pilihan yang disodorkan IPOT untuk perdagangan pekan ini:

Buy GGRM 

(Current Price: Rp17.000, Entry: Rp17.000, Target Price: Rp18.525 (8,97 persen), Stop Loss: Rp16.275 (-4,26 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.1). 

Emiten milik PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dalam jangka pendek kembali merangkak di atas MA5 dan memperlihatkan pergerakan tren secara umum mendatar (sideways), namun berpeluang besar akan menuju uptrend sehingga sangat layak untuk dibeli (buy).

Buy MAPI 

(Current Price: Rp1.495, Entry: Rp1.495, Target Price: Rp1.600 (7,02 persen), Stop Loss: Rp1.450 (-3,01 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3). 

Nilai pasar emiten PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) konsisten bergulir di atas MA5. Saham ini terbilang memikat apabila berhasil menembus (breakout) dari zona konsolidasinya.

Buy ICBP 

(Current Price: Rp7.100, Entry: Rp7.100, Target Price: Rp7.525 (5,99 persen), Stop Loss: Rp6.875 (-3,17 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:1.9). 

Nilai efek PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) terpantau mulai menyentuh dasar (bottoming) mendekati zona support serta instrumen MACD memperlihatkan adanya indikasi hidden bullish divergence sehingga potensial untuk ditradingkan.

Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC) 

Saat ini produk Reksa Dana Saham Power Fund Series (PFS) dengan simbol XIIC ini tengah berada pada area yang prospektif untuk mulai dipantau oleh penanam modal ritel. 

Berfokus pada sektor barang konsumsi (consumer), XIIC menyuguhkan peluang untuk memperoleh eksposur pada jajaran emiten pilihan yang berkaitan erat dengan aktivitas belanja masyarakat. 

Pasca melewati tahapan penyesuaian nilai, kini terbuka lebar peluang menuju potensi penguatan lanjutan seiring dengan proyeksi pemulihan dan pertumbuhan sektor barang konsumsi.

Reporter: Ibtihal