Bapanas Soroti Harga Bawang-Cabai di Tengah Potensi Inflasi Mei

Ilustrasi Cabai. (Foto: koridor.id)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 02 Juni 2026 | 10:06:32 WIB

JAKARTA - Gejolak inflasi pada Mei 2026 berpeluang merangkak naik sejalan dengan masih tingginya nilai jual beberapa bahan pangan pokok strategis, khususnya komoditas bawang merah serta cabai merah keriting.

Walaupun begitu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggaransi bahwa kondisi stok pangan domestik tetap terkendali dan bermacam program taktis otoritas terus diintensifkan guna mengawal stabilitas nilai jual di tengah situasi global yang tidak menentu.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono memaparkan bahwa kondisi pangan domestik saat ini masih berada dalam zona aman walaupun iklim dunia tengah diterpa ketegangan geopolitik yang berisiko mengusik rantai logistik dan niaga internasional.

"Kalau kami bicara kondisi harga pangan, kami harus bersyukur dengan situasi global dunia hari ini yang tidak menentu, tapi kondisi neraca pangan kami secara nasional masih cukup kuat," kata Maino dikonfirmasi di Jakarta, Senin (1/6).

Menurut pandangannya, bermacam langkah taktis yang diimplementasikan oleh otoritas dari sebelum hingga sesudah Hari Raya Iduladha memberikan pengaruh positif terhadap meredamnya gejolak harga pangan di level pengguna akhir.

Di samping itu, ritme inflasi domestik yang dilaporkan melandai pada April 2026 menjadi indikator bahwa keseimbangan nilai jual pangan secara umum tetap terjaga. 

Meski demikian, aspek logistik pangan antardaerah masih menjadi hambatan krusial yang wajib konsisten diperbaiki.

"Memang yang menjadi catatan kami bersama itu distribusi, karena sentra-sentra produksi belum merata di semua wilayah dan periode (panen) waktunya tentunya juga berbeda-beda antarwilayah," jelas Maino.

Menilik data peninjauan Bapanas hingga 29 Mei atau dua hari pasca Iduladha, mayoritas nilai pangan pokok masih berada pada koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) di level konsumen.

Nilai jual beras medium secara domestik tercatat di angka Rp13.456 per kilogram (kg), terkoreksi tipis 0,19 persen disandingkan dengan pekan sebelumnya. 

Namun, beberapa bahan pangan terpantau masih bertengger di atas regulasi acuan otoritas.

Nilai jual bawang merah dilaporkan menyentuh Rp47.185 per kg, lebih tinggi ketimbang batas HAP tertinggi senilai Rp41.500 per kg. Sementara untuk cabai merah keriting bertengger di posisi Rp60.638 per kg, melewati batas HAP maksimal sebesar Rp55.000 per kg.

Di sisi lain, nilai jual daging ayam ras berada pada angka Rp38.385 per kg dan komoditas telur ayam ras senilai Rp29.469 per kg. Kedua bahan pokok ini terpantau masih berada di bawah batas HAP yang digariskan oleh otoritas.

Maino menegaskan bahwa otoritas tidak sekadar berfokus mengawal keterjangkauan nilai jual bagi pengguna akhir, namun juga menggaransi pihak pembudidaya memperoleh nilai jual yang pantas supaya konsisten terpacu mendongkrak kapasitas produksi.

"Semua harus kami lindungi, karena produsen kami juga harus mendapatkan harga yang wajar agar mereka tetap semangat berproduksi. Produksi juga penting karena selama ini kami bicara gejolak harga seolah-olah di tingkat konsumen saja," jelas Maino.

Intervensi Pangan Terus Diperkuat

Demi mengawal keselarasan antara pihak pembudidaya dan pengguna akhir, otoritas konsisten menggulirkan bermacam proyek taktis intervensi pangan.

Pada komoditas beras contohnya, otoritas merealisasikan penyerapan hasil panen para pekebun dengan nilai Rp6.500 per kg di level produsen. Sementara di level konsumen, otoritas menyalurkan proyek Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras.

Sepanjang Januari sampai Mei 2026, akumulasi penyaluran beras SPHP telah menyentuh 507 ribu ton. Angka itu meliputi 221 ribu ton pada periode Januari-Februari yang berstatus sebagai kelanjutan proyek SPHP 2025, serta 286 ribu ton yang dialokasikan sepanjang Maret-Mei 2026.

"Kemudian penyaluran jagung SPHP yang penting juga untuk para peternak karena hari ini situasinya harga pakan, komponen pakan sedang tinggi," tambah Maino.

Selain program SPHP, otoritas turut mendistribusikan stimulus pangan berwujud beras serta minyak goreng. Sampai pengujung Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan stimulus kepada 15,4 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dari target akumulatif sebanyak 33,2 juta KPM.

Proyek Gerakan Pangan Murah (GPM) pun terus diakselerasi skalanya. Hingga akhir Mei, agenda GPM telah digulirkan sebanyak 5.037 kali di 417 kabupaten/kota, melampaui capaian periode Januari-Mei 2025 yang dilaporkan sebanyak 3.482 kali.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggarisbawahi bahwa kedaulatan pangan Indonesia kian kokoh. 

Berdasarkan penjelasannya, ketergantungan Indonesia terhadap aktivitas impor pangan pokok strategis saat ini cuma berada pada takaran 4 hingga 5 persen.

Amran menguraikan sekitar 96 persen pasokan pangan domestik telah disuplai oleh hasil produksi dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai merefleksikan semakin tangguhnya kapasitas sektor pertanian domestik dalam mengawal ketersediaan pangan secara kontinu.

Oleh karena itu, otoritas berkomitmen konsisten mereduksi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri lewat akselerasi produksi di dalam negeri. 

Pasca menyetop impor beras umum beserta jagung pakan semenjak 2025, otoritas membidik strategi serupa dapat diterapkan pada komoditas gula konsumsi di tahun 2026 ini.

Reporter: Ibtihal