Harga Minyak Dunia Naik Lebih Dari 3 Persen Dipicu Ketegangan Global

Ilustrasi minyak dunia. (Foto: dok Pertamina)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09:22 WIB

JAKARTA - Nilai minyak dunia hari ini melesat tinggi melampaui 3 persen pada sesi perdagangan Senin (1/6/2026) sore dipicu oleh kekhawatiran suplai global yang kembali bergejolak. 

Kenaikan drastis ini membalikkan arah tren pelemahan yang sempat berlangsung sepanjang bulan lalu di pasar komoditas energi internasional.

Melansir laporan bursa perdagangan komoditas, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman mencatatkan hasil positif lewat penguatan sebesar US$ 2,93 atau berkisar 3,2 persen. 

Komoditas acuan internasional ini langsung menempati posisi di level US$ 94,05 per barel pada pukul 16.06 WIB.

Arah kenaikan yang sama juga melanda minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI AS yang merangkak naik sebesar US$ 3,36 atau 3,9 persen menuju level US$ 90,72 per barel. 

Data pasar modal luar negeri bahkan memperlihatkan beberapa kontrak berjangka WTI sempat meroket hingga 6 persen sampai ditransaksikan di atas US$ 92 per barel.

Lonjakan harga minyak dunia hari ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar setelah sektor energi sempat tertekan hebat sepanjang Mei 2026. 

Merujuk pada catatan historis, harga Brent sempat anjlok sekitar 19 persen dan WTI terdepresiasi hingga 17 persen selama bulan kemarin.

Akan tetapi, memasuki awal Juni 2026, kondisi pasar berbalik total dengan adanya aksi beli secara masif dari para pemodal global. 

Tren penguatan ini sejatinya sudah mulai terlihat semenjak akhir pekan lalu ketika harga minyak mentah merangkak naik menuju posisi 89,42 USD per barel pada 31 Mei 2026.

Walaupun dalam kalkulasi satu bulan terakhir secara akumulatif harga minyak mentah masih mencatatkan penyusutan sekitar 12,28 persen, posisi harga saat ini dinilai jauh lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu. 

Secara tahunan, nilai perdagangan Brent dan WTI tercatat membukukan pertumbuhan masing-masing sebesar 47,52 persen dan 47,86 persen.

Perbandingan Harga Komoditas Energi Dunia

Faktor pendorong harga minyak naik secara tiba-tiba ini tidak terlepas dari perpaduan rilis data manufaktur global yang kuat serta meningkatnya risiko geopolitik di jalur distribusi laut utama. Ketidakpastian geopolitik global ini memicu kekhawatiran akan timbulnya hambatan pasokan energi jangka panjang secara mendadak.

Bagi para pelaku pasar domestik, mendalami industri ini membutuhkan wawasan dasar mengenai instrumen utama. Publik sering memunculkan pertanyaan seputar "apa itu minyak wti dan brent" yang kerap dijadikan acuan utama perdagangan dunia. 

Brent merupakan minyak mentah yang diproduksi dari Laut Utara Eropa, sedangkan WTI dipasok dari ladang minyak Amerika Serikat.

Pergerakan di sektor minyak mentah ini secara langsung memengaruhi produk turunan energi lainnya di pasar internasional. Perubahan harga tidak cuma melanda minyak mentah, melainkan juga merembet pada komoditas substitusi serta produk hasil kilang lainnya di hari yang sama.

Berikut adalah rincian data harga komoditas energi beserta produk turunannya merujuk pada aktivitas perdagangan paling anyar:

Daftar Harga Komoditas Energi Global Per Juni 2026:

Minyak Mentah Brent: Harga Acuan US$ 94,05 | Perubahan Harian +3,20% | Performa Tahunan +47,52%
Minyak Mentah WTI: Harga Acuan US$ 90,72 | Perubahan Harian +3,90% | Performa Tahunan +47,86%
Bensin (Gasoline): Harga Acuan US$ 3,09 | Perubahan Harian +1,84% | Performa Tahunan +49,53%
Minyak Pemanas: Harga Acuan US$ 3,65 | Perubahan Harian +4,58% | Performa Tahunan +77,12%
Gas Alam: Harga Acuan US$ 3,19 | Perubahan Harian -3,09% | Performa Tahunan -13,69%

Dampak dan Pergerakan Sektor Energi Lainnya

Di kala harga minyak bumi tengah berada dalam reli penguatan yang kokoh, komoditas gas alam justru menunjukkan arah sebaliknya dengan membukukan penurunan sebesar 3,09 persen ke posisi 3,19. 

Sebaliknya, komoditas produk hilir layaknya bensin mengalami penguatan 1,84 persen ke level 3,09 dan minyak pemanas melonjak 4,58 persen ke posisi 3,65.

Sebagai komparasi dengan perdagangan akhir pekan sebelumnya, beberapa komoditas tambang serta energi alternatif memperlihatkan pergerakan yang cenderung variatif. 

Berdasarkan data akhir pekan lalu, batubara ditutup melemah tipis 0,55 persen ke level 136,75, sedangkan minyak Ural Rusia bertengger di posisi 82,56 seusai terpangkas 4,42 persen.

Situasi pasar yang dinamis ini mendorong para pengamat energi domestik untuk terus memantau pergerakan harga minyak mentah terbaru. 

Fluktuasi ini diperkirakan bakal memberikan tekanan tersendiri terhadap anggaran subsidi energi di bermacam negara berkembang yang bergantung pada impor minyak mentah.

Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Sampai dengan saat ini, para pelaku pasar masih bersikap waspada sembari memperhatikan volume produksi dari negara-negara anggota OPEC+ beserta keputusan kebijakan moneter teranyar dari bank sentral global. 

Perkembangan dinamika pasokan di Timur Tengah serta tingkat permintaan dari negara konsumen terbesar seperti China diprediksi akan tetap menjadi motor utama penggerak harga komoditas dalam beberapa minggu ke depan.

Reporter: Ibtihal