Pasar Global Risk-Off, Mata Uang Safe Haven Kini Menguat

Yen dan Franc Swiss Jadi Buruan Investor. (Foto: msn.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 18:53:37 WIB

JAKARTA – Lonjakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir ini didukung pula oleh apresiasi nilai mata uang aman atau safe haven layaknya yen Jepang serta franc Swiss. 

Dinamika ini dinilai sebagai sebuah sinyal bahwa para pelaku pasar kian meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi rupa-rupa risiko global.

Mengacu pada kompilasi data Trading Economics pada Senin (25/5) pukul 15.40 WIB, posisi indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,072. 

Searah dengan tren kenaikan tersebut, nilai mata uang yen Jepang (JPY) bergerak pada kisaran 158,9 per dolar AS atau membukukan penguatan sebesar 0,25% dalam kurun waktu satu bulan ke belakang.

 Pada saat yang bersamaan, instrumen mata uang franc Swiss (CHF) turut mencatatkan pertumbuhan bulanan berkisar 0,46% ke area 0,782 per dolar AS.

Nuhammad Amru Syifa selaku Research and Development ICDX memaparkan bahwa apresiasi dolar AS yang bergulir secara simultan bersama yen Jepang dan franc Swiss mengindikasikan konstelasi pasar global tengah beralih ke fase risk-off atau sebuah periode di mana para investor cenderung bersikap lebih berhati-hati.

“Investor mulai kembali memburu aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global,” ujar Amru, Senin (25/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan sudut pandangnya, situasi tersebut mengisyaratkan bahwa animo terhadap instrumen mata uang safe haven kembali merangkak naik. 

Kondisi ini mengindikasikan para pemodal tidak semata-mata mengejar keuntungan dari keandalan dolar AS yang disokong oleh tingkat bunga tinggi, melainkan juga berupaya memproteksi nilai aset di tengah sengkarut dinamika ekonomi serta geopolitik dunia.

Walau demikian, para investor yang berencana mengumpulkan valuta asing safe haven sebagai opsi instrumen investasi diimbau untuk tetap waspada menghadapi potensi fluktuasi yang lebar di pasar valas, terlebih apabila terjadi pergeseran ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga di AS.

Amru menguraikan, andai bank sentral AS kembali mengambil sikap yang lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat secara masif dan memicu guncangan besar pada pasar mata uang. 

Di sisi lain, pergerakan tren yen Jepang dan franc Swiss pun menyimpan risiko volatilitas tersendiri andaikata bank sentral dari masing-masing negara terkait mengeksekusi tindakan intervensi pasar.

“Strategi yang dinilai lebih aman adalah melakukan diversifikasi pada aset safe haven dan pembelian secara bertahap,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dirinya mengimbau para penanam modal untuk senantiasa mencermati perkembangan dinamika geopolitik, publikasi data inflasi di AS, hingga rupa-rupa kebijakan dari barisan bank sentral utama dunia, sebab sentimen-sentimen tersebut diproyeksikan bakal mendominasi arah pergerakan pasar ke depan.

Terkait peta proyeksi hingga paruh pertama tahun 2026, Amru menaksir pergerakan indeks dolar AS (DXY) akan berfluktuasi pada kisaran rentang 99-101. 

Meskipun laju geraknya masih ditopang oleh tingkat suku bunga yang berada pada level cukup tinggi, ruang bagi mata uang dolar untuk mencetak penguatan lebih jauh diprediksi kian menyusut seiring respons pasar dalam mengantisipasi stabilisasi langkah kebijakan The Fed.

Sementara itu, untuk pergerakan pasangan mata uang USD/JPY diproyeksikan bakal bergulir pada kisaran angka 157-160. 

Nilai taksiran ini memperlihatkan posisi mata uang yen yang cenderung masih tertekan akibat lebarnya jurang selisih suku bunga antara AS dan Jepang, kendati bank sentral Jepang dilaporkan sudah mulai mengarah pada tahapan langkah normalisasi kebijakan moneter mereka.

Di sudut lain, pergerakan USD/CHF ditargetkan berada pada area rentang 0,77–0,80. Mata uang franc Swiss dinilai akan tetap kokoh mempertahankan statusnya sebagai instrumen aset pelindung di tengah pusaran ketidakpastian geopolitik serta tingginya volatilitas pada pasar keuangan dunia.

Reporter: Ibtihal