Danantara: Yield Dividen Saham BUMN Sangat Atraktif di Atas 11 Persen

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:54:35 WIB
CEO Danantara Rosan Roeslani dan CIO Danantara Pandu Sjahrir. (Foto: /dok Danantara)

JAKARTA - Tingkat imbal hasil investasi atau yield dividen beberapa emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pasar saham saat ini dinilai berada pada posisi yang sangat memikat oleh Danantara Indonesia.

Menurut pemaparan CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, profil dari perusahaan-perusahaan milik negara yang tercatat di bursa saham, khususnya pada sektor perbankan (Himbara serta pertambangan, memperlihatkan landasan fundamental yang kokoh.

Hal tersebut sekaligus menyajikan peluang imbal hasil yang besar bagi para penanam modal jangka panjang.

“Kalau kami lihat BUMN yang ada di bursa, contohnya Himbara ataupun mineral, itu yield-nya juga sangat baik di atas 10%—11%. Menurut kami itu sangat-sangat baik,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bukan hanya itu, nilai pasar dari saham-saham bank milik pemerintah tersebut juga dinilai masih berada di bawah harga wajarnya atau undervalued. Rosan memberikan gambaran bahwa rasio price to book value (PBV) pada beberapa bank saat ini nilainya berada di bawah 1 kali.

Padahal, andaikata situasi pasar sedang berada dalam tren normal, angka rasio PBV untuk sektor perbankan biasanya berkisar di atas 2 kali hingga menyentuh 3 kali. Situasi seperti inilah yang dipandang sebagai sebuah kesempatan berharga bagi para investor untuk mulai masuk ke investasi pada pasar saham.

Rosan turut menyampaikan bahwa Danantara memosisikan bursa efek sebagai wadah untuk investasi dalam jangka waktu yang panjang. Karena alasan itu, fluktuasi harga pasar secara harian ataupun bulanan tidak dianggap sebagai sebuah kendala, melainkan mereka memilih untuk fokus pada peningkatan nilai emiten untuk jangka menengah hingga jangka panjang.

Rasa optimistis ini pun ikut disokong oleh langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI yang terus membenahi sistem transparansi dan tata kelola di bursa saham. 

Proses pembenahan tersebut diyakini akan membuat pasar modal menjadi semakin kuat sekaligus memupuk rasa percaya dari para pemodal internasional maupun domestik.

“Approach kami itu bukan harian, bukan bulanan, tapi jangka panjang. Saya sangat meyakini bahwa ke depannya bursa kami ini akan terus bertumbuh baik dari segi market kapitalisasi, jumlah emiten, maupun investor,” tambahnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping persoalan imbal hasil, Rosan juga memberikan perhatian pada melonjaknya kuantitas investor ritel saat ini yang telah menembus angka 27 juta, mengalami peningkatan dari data tahun sebelumnya yang berada di angka 20 juta investor. 

Dia berpandangan bahwa lonjakan yang didominasi oleh kelompok usia muda serta Gen Z ini menjadi sebuah validasi kuat adanya masa depan yang cerah di pasar modal.

Terkini