JAKARTA – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mengumumkan bahwa penyaluran pembiayaan modal kerja mereka tetap mencatatkan pertumbuhan pada kuartal I-2026, meskipun kondisi dunia usaha saat ini belum sepenuhnya pulih.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani menjelaskan bahwa secara industri, pembiayaan modal kerja di perusahaan pembiayaan masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Hal ini menjadi indikator bahwa kebutuhan pendanaan produktif dari para pelaku usaha masih berada dalam kondisi yang stabil.
“Di tengah tantangan ekonomi yang dinamis, tren pembiayaan modal kerja multifinance secara industri masih menunjukkan pertumbuhan positif. Artinya kebutuhan pendanaan produktif pelaku usaha masih tetap terjaga,” kata Gani sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Hingga periode kuartal I-2026, Adira Finance berhasil membukukan penyaluran pembiayaan modal kerja hingga sebesar Rp 896 miliar.
Gani menegaskan bahwa perolehan angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terutama dipicu oleh kontribusi dari sektor perdagangan besar dan eceran, pertambangan, industri pengolahan, pertanian, serta sektor produktif lainnya yang membutuhkan suntikan dana untuk keperluan operasional maupun ekspansi bisnis.
Kendati mencatat kenaikan, Gani mengakui bahwa proyeksi ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi nasional.
Para pelaku usaha saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, sehingga laju permintaan pembiayaan berpotensi menghadapi tekanan.
Jika dilihat dari sisi kualitas aset, Adira Finance mencatat rasio non-performing financing (NPF) untuk segmen ini berada di level 1,9 persen, yang mana angka ini juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Sebagai informasi tambahan, berdasarkan laporan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan modal kerja saat ini menguasai porsi 10,67 persen dari total keseluruhan pembiayaan multifinance.
Sektor ini tercatat mengalami pertumbuhan 8,31 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 54,63 triliun hingga posisi Februari 2026.