Strategi Cerdas Indonesia untuk Memperkuat Industri Tekstil di Tengah Persaingan Global

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:43:16 WIB
Strategi Cerdas Indonesia untuk Memperkuat Industri Tekstil di Tengah Persaingan Global

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membeberkan strategi agar industri tekstil nasional tetap bertahan di tengah persaingan global yang ketat. Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menilai industri tekstil kini memasuki fase konsolidasi yang menuntut adaptasi cepat dari para pelaku usaha.

Shinta menjelaskan, kondisi ini membuat perusahaan kecil kesulitan bertahan, sementara pemain besar masih memiliki ruang untuk terus beroperasi. "Jadi yang survive yang gede-gede. Dan kita juga mesti melihat banyak sekali konsolidasi tadi. Apakah mungkin ada yang lagi dikumpulkan [untuk konsolidasi], [atau] ada yang udah mesti berhenti," kata Shinta di Menara Kadin, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.

Industri tekstil menghadapi tekanan dari berbagai sisi, termasuk biaya produksi yang meningkat dan persaingan global. Shinta menegaskan bahwa kesiapan pelaku usaha besar menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan sektor ini.

Pentingnya Pasar dan Daya Saing Ekspor

Menurut Shinta, faktor terpenting bagi industri tekstil saat ini adalah pasar. Pelaku usaha terus mendorong penguatan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa, yang selama ini menjadi tujuan utama produk tekstil Indonesia.

Indonesia masih menjadi basis produksi menarik bagi brand global karena kualitas produk yang baik. "Kualitas kita bagus, kita punya ESG-nya juga kuat banget, gitu. Jadi brand-brand besar tuh suka untuk produksi di Indonesia," jelasnya.

Selain kualitas, efisiensi biaya menjadi penentu daya saing industri nasional di mata investor global. Biaya logistik, tenaga kerja, dan komponen produksi lain harus dikelola secara optimal agar produk tetap kompetitif.

Persaingan bukan hanya dari Vietnam, tetapi juga dari negara berbiaya rendah seperti Bangladesh, Ethiopia, dan Kamboja. Shinta menekankan, menjaga kualitas sambil menekan biaya menjadi strategi utama bertahan di pasar internasional.

Upaya Pemerintah dan BUMN Tekstil Baru

Wacana pembentukan BUMN di bidang tekstil senilai US$ 6 miliar (sekitar Rp101 triliun) menjadi perhatian utama pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan dana tersebut akan digunakan untuk membentuk BUMN tekstil baru yang dijalankan oleh Danantara.

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa sebelum melakukan investasi besar, pihaknya akan melakukan feasibility study menyeluruh. “Termasuk juga parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan yang saya sampaikan. Mungkin ya we are willing, kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi,” kata Rosan, Kamis, 15 Januari 2026.

Pemerintah menyiapkan roadmap untuk menyelamatkan industri tekstil nasional dari dampak perubahan tarif global. Airlangga menyebutkan, sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik berada di garis depan yang akan terdampak.

Bapak Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya mencari pasar baru bagi produk tekstil Indonesia. “Roadmap dibuat agar bagaimana meningkatkan ekspor kita dalam 10 tahun dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil,” tegas Airlangga.

Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Masa Depan

BUMN tekstil yang akan dibentuk merupakan entitas baru untuk mendukung industri nasional. Airlangga menegaskan bahwa BUMN ini diharapkan menjadi motor penggerak ekspor dan pencipta lapangan kerja di sektor strategis.

Sinergi antara pemerintah dan pelaku industri besar menjadi kunci agar strategi konsolidasi dapat berjalan efektif. Dengan dukungan investasi dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mempertahankan posisi sebagai pemain utama di industri tekstil global.

Kualitas produk, standar ESG, dan kemampuan menekan biaya produksi menjadi modal penting bagi daya saing. Brand internasional tetap tertarik memproduksi di Indonesia karena kombinasi kualitas dan keberlanjutan yang ditawarkan.

Selain itu, penguatan pasar ekspor menjadi fokus utama agar sektor tekstil tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Pelaku usaha yang mampu memanfaatkan peluang ekspor akan menjadi pemain dominan dalam industri ini.

Persaingan global memaksa Indonesia untuk lebih inovatif dalam strategi produksi dan pemasaran. Efisiensi, inovasi, dan adaptasi terhadap tren pasar internasional menjadi faktor penentu kelangsungan industri.

Roadmap pemerintah juga mencakup pengembangan teknologi dan sumber daya manusia. Peningkatan kapabilitas SDM di industri tekstil akan mendukung produktivitas dan kualitas produksi yang lebih tinggi.

Dengan strategi konsolidasi yang matang, pelaku usaha besar dapat menjadi contoh bagi perusahaan skala kecil untuk bertahan dan berkembang. Kolaborasi dengan pemerintah diharapkan menciptakan ekosistem industri tekstil yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Investasi BUMN tekstil baru diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor strategis lainnya. Penguatan rantai nilai industri tekstil menjadi fokus utama agar Indonesia tetap kompetitif di pasar global.

Pelaku industri diingatkan bahwa menjaga keseimbangan antara biaya, kualitas, dan pasar adalah kunci utama keberhasilan. Kombinasi strategi ini diharapkan memastikan industri tekstil nasional tetap unggul dan tahan terhadap tekanan eksternal.

Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia mempersiapkan diri menghadapi tantangan global di sektor tekstil. Konsolidasi, penguatan ekspor, dan pembentukan BUMN baru menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk industri nasional.

Industri tekstil Indonesia kini berada di titik krusial yang menentukan masa depan. Keberhasilan strategi ini akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan posisi Indonesia di pasar global.

Terkini