JAKARTA - Pagi belum menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun aktivitas petani di Desa Lassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, sudah tampak sibuk.
Sejumlah petani dari berbagai rentang usia terlihat mengantri di depan kios pupuk untuk menebus pupuk subsidi yang akan digunakan di lahan pertanian mereka. Pemandangan ini menjadi gambaran dinamika pertanian yang kini mulai bertransformasi, seiring pemanfaatan teknologi digital dalam sistem distribusi pupuk.
Para petani tampak menenteng ponsel pintar di tangan masing-masing. Penebusan pupuk subsidi memang kini dilakukan secara digital, sebuah upaya untuk mempermudah akses petani sekaligus mencegah penyimpangan alokasi pupuk. Di antara antrean tersebut, hadir pula generasi muda yang mulai menunjukkan peran penting dalam perubahan pola pertanian di daerahnya.
Salah satunya adalah Sukriadi (35), petani muda yang akrab disapa Uki. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, dunia pertanian telah menjadi bagian dari hidupnya. Latar belakang pendidikan pesantren hingga pengalaman sebagai da’i di pelosok daerah tidak membuatnya meninggalkan sawah keluarga. Di sela aktivitas bekerja, Uki tetap turun langsung ke sawah membantu ayahnya, mulai dari menanam, memupuk, hingga panen.
Lebih dari sekadar melanjutkan tradisi, Uki memilih melakukan pembaruan. Dalam dua tahun terakhir, ia mulai menerapkan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan pupuk organik di sebagian lahan sawahnya. Langkah tersebut awalnya dilakukan secara “coba-coba”, namun justru membuahkan hasil yang menggembirakan.
Pada 2024, Uki mencampur pupuk kimia dengan pupuk organik dengan perbandingan dua banding satu. Sementara pada 2025, ia meningkatkan porsi pupuk organik dengan menaburkannya lebih awal sebelum proses tanam padi. Metode ini ia pelajari dari diskusi dengan sesama petani yang menilai pupuk organik dapat memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
“Hasilnya terasa. Tanah lebih subur dan produksi meningkat,” ujar Uki.
Sebelumnya, lahan sawah yang ia garap hanya menghasilkan sekitar 31 karung gabah. Setelah penggunaan pupuk organik secara seimbang dengan pupuk urea dan phonska, hasil panen meningkat menjadi tambahan tiga hingga lima karung. Keberhasilan tersebut kemudian ia terapkan pula di sawah milik mertuanya, dengan hasil yang juga menunjukkan peningkatan.
Tak hanya itu, Uki aktif membagikan pengalamannya kepada kerabat dan tetangga. Meski tidak semua petani langsung beralih, ia menjadi contoh nyata bahwa pupuk organik dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi produktivitas lahan.
Selain meningkatkan hasil panen, harga pupuk organik yang relatif murah menjadi daya tarik tersendiri. Dengan harga sekitar Rp640 per kilogram, pupuk organik dinilai jauh lebih terjangkau dibanding pupuk subsidi lainnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Baharuddin (38), petani jagung asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Ia memutuskan beralih ke pupuk organik demi menekan biaya produksi. Untuk lahan seluas 1,7 hektare, Baharuddin hanya membutuhkan tujuh sak pupuk organik dengan total biaya sekitar Rp175 ribu.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding penggunaan pupuk urea dan NPK yang sebelumnya ia gunakan. Bahkan, kemudahan pembayaran setelah panen yang ditawarkan kios pupuk menjadi faktor tambahan yang sangat membantu petani.
“Ini pertama kali saya pakai pupuk organik. Biayanya murah dan perawatannya mudah. Sangat membantu,” kata Baharuddin.
Keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Ia mengaku banyak belajar dari pertemuan kelompok tani serta sosialisasi pertanian berkelanjutan. Meski kebun jagungnya mampu menghasilkan hingga 8,3 ton per panen, ia tetap berani mencoba metode baru demi efisiensi jangka panjang. Berbeda dengan Uki, Baharuddin menggunakan pupuk organik secara tunggal tanpa dicampur pupuk kimia.
Respons positif dari para petani muda ini sejalan dengan data realisasi penyaluran pupuk organik. Pada 2025, serapan pupuk organik secara nasional tercatat mencapai 17 persen, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Di Sulawesi Selatan, Kabupaten Takalar mencatat realisasi tertinggi dengan penyaluran 2.064 ton dari alokasi 3.940 ton atau sekitar 52 persen.
Senior Manager Pupuk Indonesia Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulamapua) Sukodim menyatakan bahwa peningkatan penggunaan pupuk organik memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Contoh nyata di lapangan, terutama dari petani muda, dinilai menjadi kunci untuk menarik minat petani lain.
“Petani perlu melihat langsung manfaat pemupukan berimbang terhadap peningkatan hasil produksi,” ujarnya.
Distribusi pupuk organik sendiri dilakukan berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disusun oleh kelompok tani dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Dinas Pertanian. Dengan mekanisme ini, kebutuhan pupuk disesuaikan secara proporsional sesuai kondisi tiap daerah.
Peran petani muda seperti Uki dan Baharuddin kini menjadi motor penggerak perubahan. Melalui keberanian mencoba, berbagi pengalaman, dan memanfaatkan pupuk organik, mereka perlahan menggiring pertanian berkelanjutan menjadi pilihan utama, sekaligus harapan baru bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di masa depan.