JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kolaborasi untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, dan hilirisasi di sektor obat, pangan, dan teknologi kesehatan.
Langkah ini resmi dimulai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua lembaga pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 BPOM, yang berlangsung pada 28 Januari 2026.
Penandatanganan MoU tersebut menjadi momen penting bagi pengembangan sektor kesehatan dan pangan Indonesia, dengan tujuan untuk memajukan riset dan inovasi yang mampu mendorong kemandirian di bidang obat dan pangan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa tantangan besar Indonesia di masa depan adalah menciptakan kemandirian di sektor industri obat dan pangan. Dengan semakin berkembangnya sektor tersebut, dibutuhkan inovasi dan kreativitas agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Kemandirian kita di bidang obat dan industri makanan yang terus berkembang, menuntut inovasi dan kreativitas dari kita agar kita menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri," ujar Brian.
Mendorong Kemandirian Melalui Kerja Sama antara Pemerintah dan Industri
Kerja sama antara Kemdiktisaintek dan BPOM ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset dan inovasi di sektor obat dan pangan dengan lebih terintegrasi. Hal ini selaras dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak yang menekankan pada manfaat nyata dari riset untuk industri dan masyarakat.
Salah satu program utama yang digagas dalam MoU ini adalah Academia-Business-Government (ABG), yang memungkinkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dalam menghasilkan produk inovatif.
Melalui program ini, para akademisi dapat memanfaatkan laboratorium dan fasilitas pengujian milik BPOM untuk mendukung riset di bidang obat dan pangan.
Dengan demikian, riset yang dilakukan di perguruan tinggi dapat segera diuji dan divalidasi untuk memenuhi standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.
Hal ini diharapkan mempercepat proses penelitian dan pengembangan produk inovatif yang dapat langsung diterapkan oleh industri.
Brian Yuliarto juga menekankan pentingnya peran aktif pelaku industri dalam kolaborasi ini. "Industri memiliki peran penting sebagai lokomotif hilirisasi, agar hasil riset perguruan tinggi dapat berkembang menjadi produk unggulan nasional yang berdaya saing," ungkapnya.
Ia berharap agar industri dapat memanfaatkan hasil riset yang dihasilkan oleh akademisi untuk menciptakan produk-produk yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Peningkatan Anggaran Riset untuk Mempercepat Inovasi
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga akan terus memperkuat dukungan pendanaan riset nasional, termasuk dengan meningkatkan anggaran riset.
Dengan alokasi anggaran yang lebih besar, diharapkan para peneliti dan akademisi dapat mengembangkan riset yang lebih mendalam dan berkualitas tinggi, sehingga hasil riset dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri.
"Kami siap untuk mengerahkan para peneliti dan guru besar untuk melakukan riset. Anggaran riset pun kami siapkan. Jadi, mohon dari industri bisa diarahkan mana produk-produk yang memang membantu kita menuju kemandirian," ujar Brian.
Anggaran yang disiapkan untuk riset diharapkan tidak hanya mendukung riset dasar, tetapi juga riset terapan yang langsung dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas produk dalam negeri.
Dengan adanya kolaborasi ini, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor obat dan pangan yang mandiri. Brian menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi, 300.000 dosen, dan lebih dari 12.000 profesor yang dapat menjadi sumber daya besar dalam menciptakan inovasi di bidang tersebut.
Membangun Sistem Inovasi yang Berkelanjutan untuk Masa Depan
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, juga menyambut baik kerja sama antara Kemdiktisaintek dan BPOM, terutama karena peringatan 25 tahun BPOM menjadi momentum untuk mendorong transformasi dalam pengembangan sains, teknologi, dan obat-obat inovatif di Indonesia.
Ia berharap kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan produk-produk inovatif tetapi juga memberikan dampak yang besar bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan di sektor kesehatan dan pangan.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem inovasi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dengan kerja sama yang solid, hasil riset nasional akan lebih mudah dihilirisasi dan dimanfaatkan oleh industri untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Pemerintah juga berkomitmen untuk terus mendukung implementasi MoU ini agar hasil riset tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga siap diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi tonggak transformasi untuk berkontribusi terhadap bangsa dan menjadikan Indonesia terdepan dalam pengembangan sains, teknologi, dan obat-obat inovatif," kata Taruna.