JAKARTA - Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan politik yang serba cepat, Anies Rasyid Baswedan kembali menarik perhatian publik bukan melalui pidato atau gagasan besar, melainkan lewat unggahan sederhana yang sarat makna personal. Sebuah video singkat di media sosial memperlihatkan sisi lain Anies: hangat, reflektif, dan penuh nilai tentang kesetiaan.
Unggahan itu membawa pesan singkat namun kuat: “Senyum untuk semua orang, tapi hati untuk seseorang.” Kalimat tersebut, disertai pernyataan “Ramah itu kewajiban, setia itu prinsip,” menjadi narasi utama yang menggambarkan cara Anies memaknai relasi sosial dan kehidupan keluarga.
Unggahan Personal dari London
Video tersebut diunggah Anies melalui akun TikTok, dan turut dibagikan di berbagai platform media sosial lain seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter. Dalam video itu, Anies terlihat berada di London, Inggris, tepatnya di Indonesian Islamic Centre London, bersama audiens serta dalam momen bertiga bersama sang istri, Fery Farhati.
Video tersebut diiringi lagu dari timur Indonesia berjudul “Jauh Ko Pergi”, yang semakin menguatkan nuansa emosional dan reflektif. Unggahan ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan bentuk ekspresi nilai hidup yang kerap disampaikan Anies dalam berbagai kesempatan.
Kutipan “Ramah itu kewajiban, setia itu prinsip,” menjadi penggalan kalimat yang paling banyak disorot warganet, karena dianggap merepresentasikan karakter pribadi sekaligus pandangan hidup tokoh yang dikenal luas sebagai figur perubahan.
Respons Warganet yang Beragam
Unggahan tersebut mendapatkan lebih dari 1.000 tanda suka dan memicu beragam komentar dari warganet. Respons yang muncul tidak hanya bersifat apresiatif, tetapi juga personal dan penuh kedekatan emosional.
Salah satu akun TikTok bernama Bidadari Surga menuliskan komentar singkat, “Pertama. Aku anak Abah.” Komentar tersebut mencerminkan relasi emosional yang dirasakan sebagian pendukung terhadap sosok Anies, yang kerap disapa dengan sebutan “Abah”.
Komentar lain datang dari akun Sadz Ali yang menuliskan, “Saya punya keponakan baru lahiran. Jadi mau ga mau saya udah menjadi kakek. Tapi saya minta ke keponakan panggilnya jangan kakek, abah aja. Kayak tua banget, tapi bijaksana, trus kaya keren aja abah gtu.”
Sementara itu, akun Ncek Kholis memberikan komentar bernada penyemangat, “Perjuangan masih Panjang pak.. Semangat.” Ada pula komentar bernuansa humor dari akun Gagal Diet yang menulis, “Assalaamualaikum, saya ternak Abah.”
Beragam respons tersebut menunjukkan bahwa unggahan sederhana ini berhasil membangun ruang interaksi yang cair antara tokoh publik dan masyarakat.
Kebersamaan dengan Fery Farhati
Unggahan dari London ini bukan satu-satunya momen kebersamaan Anies dengan sang istri yang dibagikan ke publik. Sebelumnya, Anies juga mengunggah potret dirinya bersama Fery Farhati saat berjalan santai di Hyde Park, salah satu taman kerajaan terbesar dan paling terkenal di pusat kota London.
Hyde Park dikenal sebagai ruang hijau ikonik dengan luas sekitar 350 hektare, yang menjadi tempat favorit warga lokal maupun wisatawan. Dalam unggahan tersebut, Anies dan Fery tampil sederhana, memperlihatkan sisi domestik yang jarang diekspos dalam dinamika kehidupan politik.
Kehadiran Fery Farhati dalam berbagai unggahan ini memperkuat pesan tentang kesetiaan dan kemitraan dalam kehidupan pribadi Anies, yang kerap ia tekankan sebagai fondasi dalam menjalani peran publik.
Senyum sebagai Etika, Kesetiaan sebagai Prinsip
Kalimat “Senyum untuk semua orang, tapi hati untuk seseorang” bukan kali pertama muncul dalam unggahan Anies. Pesan serupa kerap ia sampaikan dalam berbagai konteks, baik saat bertemu masyarakat, berdialog dengan audiens, maupun dalam interaksi digital.
Bagi Anies, keramahan diposisikan sebagai etika sosial, sementara kesetiaan ditempatkan sebagai prinsip personal yang tidak bisa ditawar. Narasi ini membedakan ranah publik dan privat secara tegas, tanpa harus mempertentangkannya.
Unggahan-unggahan tersebut memperlihatkan bagaimana Anies membangun citra diri bukan hanya sebagai intelektual dan tokoh publik, tetapi juga sebagai pribadi yang menjunjung nilai keluarga, konsistensi, dan kesederhanaan dalam relasi antarmanusia.
Ruang Digital sebagai Medium Narasi Personal
Dalam konteks komunikasi publik modern, media sosial menjadi ruang penting bagi tokoh publik untuk menyampaikan pesan di luar kanal formal. Anies memanfaatkan ruang ini untuk membagikan refleksi personal yang tidak selalu berkaitan langsung dengan isu politik, tetapi tetap memiliki resonansi nilai.
Respons warganet terhadap unggahan tersebut menunjukkan bahwa narasi personal, ketika disampaikan secara autentik, mampu membangun kedekatan emosional yang kuat. Bukan hanya sebagai figur publik, Anies tampil sebagai manusia biasa dengan prinsip hidup yang ingin ia bagikan.
Melalui senyum yang menyapa semua orang dan kesetiaan yang ia simpan untuk satu sosok, Anies Baswedan kembali memperlihatkan bahwa pesan sederhana, jika disampaikan dengan tulus, dapat menjangkau dan menyentuh banyak hati.