JAKARTA - Di tengah menguatnya polarisasi identitas dalam kehidupan berbangsa, Anies Rasyid Baswedan mengajak masyarakat Indonesia untuk meninjau ulang cara memahami jati diri kebangsaan.
Bukan dengan meniadakan perbedaan, melainkan dengan mengubah sudut pandang agar keberagaman tidak lagi menjadi sumber perpecahan.
Pesan tersebut disampaikan Anies dalam dialog bersama mahasiswa dan diaspora Indonesia di Cambridge, Inggris. Dalam forum tersebut, Anies menekankan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan terletak pada keberagaman itu sendiri, melainkan pada cara bangsa ini memandang dan mengelola identitas.
Keutuhan Bangsa dan Cara Pandang Identitas
Anies membuka pemaparannya dengan mengingatkan bahwa Indonesia sejak awal dibangun di atas fondasi kemajemukan. Namun, dalam praktiknya, identitas sering kali dipahami secara sempit dan kaku, sehingga menciptakan sekat-sekat sosial yang sulit dijembatani.
Ia mengajak peserta diskusi untuk menjaga keutuhan bangsa dengan pendekatan yang lebih inklusif. Menurut Anies, selama ini masyarakat terlalu lama terjebak pada cara pandang identitas yang menempatkan perbedaan sebagai garis pemisah, bukan sebagai kekayaan bersama.
Dalam konteks itulah, Anies menyampaikan ajakan untuk mengubah cara melihat identitas kebangsaan agar dialog antarwarga tidak selalu dimulai dari perbedaan yang sensitif.
Identitas Bangsa yang Dipotong Secara Vertikal
Untuk memudahkan pemahaman, Anies menggunakan ilustrasi sederhana. Ia menggambarkan Indonesia sebagai sebuah “kotak” atau box yang kerap dianalisis dengan potongan vertikal. Potongan vertikal ini, menurutnya, adalah cara paling umum yang selama ini digunakan untuk mendefinisikan identitas.
“Apakah itu suku? Jawa, Sunda, Batak, Manado, dan lain-lain. Itu potongan suku. Potongan yang kedua, agama. Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu,” ujar Anies.
Cara pandang seperti ini, lanjut Anies, membuat interaksi kebangsaan sering kali berfokus pada upaya menjembatani perbedaan antaridentitas. Meski bertujuan menjaga persatuan, pendekatan tersebut justru berpotensi mempertegas garis pembatas antar kelompok jika dilakukan terus-menerus.
Mengubah Sudut Pandang: Dari Vertikal ke Horizontal
Sebagai alternatif, Anies menawarkan cara pandang baru dalam memahami identitas bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk tidak lagi “melihat dari atas”, tetapi mulai “melihat dari samping”.
“Saya mengajak menjaga keutuhan, potongannya diubah. Jangan lihat dari atas, tapi lihat dari samping,” kata Anies.
Menurutnya, potongan identitas secara horizontal akan menghasilkan irisan-irisan yang lebih menyatukan. Identitas horizontal ini bisa berbasis profesi, keahlian, atau minat yang sama, seperti engineer, ekonom, sosiolog, atau bidang lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, individu dari latar belakang suku dan agama yang berbeda dapat bertemu dalam ruang yang sama tanpa membawa sekat identitas sebagai pembeda utama.
Profesi dan Minat sebagai Ruang Inklusif
Anies menjelaskan bahwa ketika orang berkumpul berdasarkan profesi atau minat, perbedaan identitas vertikal secara otomatis melebur dalam satu tujuan bersama.
“Kalau kita kumpulkan ekonom, ada yang Islam? Ada. Kristen? Ada. Katolik? Ada. Hindu? Ada. Sukunya juga ada semua,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam forum berbasis bidang keahlian, orang tidak datang membawa label identitas, melainkan kontribusi dan gagasan. Yang menjadi fokus adalah solusi, bukan asal-usul.
“Ketika orang datang bicara engineering, orang datang tanpa membawa identitas yang berbeda-beda. Yang dibawa adalah keahlian dan minat yang sama,” tegas Anies.
Pendekatan ini, menurutnya, menciptakan ruang dialog yang lebih sehat dan produktif karena dibangun di atas kesamaan tujuan, bukan perbedaan latar belakang.
Pesan Kebangsaan untuk Generasi Masa Depan
Melalui gagasan tersebut, Anies Baswedan ingin menanamkan cara berpikir baru dalam merawat persatuan Indonesia. Ia menilai bahwa semakin sering masyarakat dipertemukan dalam irisan horizontal, maka rasa kebersamaan akan tumbuh secara alami.
“Semakin sering dipotong secara horizontal, semakin semua dapat. Tapi selama kita memotongnya vertikal terus, makin kita terbelah,” pungkas Anies.
Diskusi bersama mahasiswa dan diaspora Indonesia di Inggris itu mendapat respons positif. Banyak peserta menilai gagasan tersebut relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan di tengah dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks.
Bagi Anies, menjaga keutuhan Indonesia bukan semata soal slogan persatuan, melainkan tentang keberanian mengubah cara pandang. Dengan melihat bangsa dari “samping”, bukan dari “atas”, perbedaan tidak lagi menjadi sekat, melainkan bagian utuh dari mozaik Indonesia.