JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental meski dihadapkan pada tekanan jangka pendek akibat ketidakpastian global dan kenaikan harga pangan.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Edisi Januari 2026
Dalam penjelasannya, Perry menekankan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini bersifat teknis dan bersumber dari faktor jangka pendek, terutama volatilitas harga pangan yang meningkat akibat cuaca ekstrem dan bencana alam. “Inflasi yang terjadi sekarang bukan inflasi fundamental, melainkan kenaikan harga pangan sementara. Inflasi inti tetap terjaga rendah di 2,38 persen year-on-year, berada di bawah titik tengah sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” jelas Perry.
Kapasitas Ekonomi dan Prospek Pertumbuhan
Gubernur BI menekankan bahwa kapasitas ekonomi Indonesia masih lebih besar dibanding pertumbuhan saat ini. Pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III 2025 tercatat sebesar 5,04 persen yoy, masih di bawah kapasitas produksi nasional yang diperkirakan sebesar 5,8–6,2 persen untuk dua tahun ke depan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menjaga inflasi inti tetap rendah.
“Dengan pertumbuhan yang masih di bawah kapasitas, inflasi inti kita tetap terkendali, menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia kuat,” ujar Perry.
Kebijakan Moneter dan Suku Bunga
Untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebanyak lima kali sejak September 2024, sehingga saat ini berada di level 4,75 persen. Perry menegaskan BI tetap membuka peluang penurunan suku bunga lebih lanjut jika kondisi mendukung.
Selain itu, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri—termasuk Asia, Eropa, dan Amerika—maupun di pasar tunai, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri. Intervensi ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung kegiatan ekspor-impor, sekaligus memperkuat sentimen pasar terhadap mata uang domestik.
Koordinasi dengan Pemerintah untuk Inflasi Pangan
Terkait inflasi pangan yang bersifat sementara, Perry menegaskan bahwa BI bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan (TPIP). Sinergi ini dilakukan untuk menjaga pasokan pangan tetap stabil, mengurangi fluktuasi harga, dan memastikan kebijakan fiskal dan moneter berjalan seiring.
“Dengan koordinasi ini, kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan efektif, menjaga stabilitas harga, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, BI menilai bahwa tekanan jangka pendek terhadap rupiah bersifat sementara dan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung oleh inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan imbal hasil investasi yang menarik. Melalui kebijakan moneter yang proaktif dan koordinasi lintas lembaga, BI optimistis rupiah akan kembali menguat secara berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.