JAKARTA - Saham MR DIY Group M. Bhd., salah satu peritel terbesar di Malaysia, mencatatkan kinerja luar biasa di pasar saham Asia Tenggara pada Januari 2026.
Dengan potensi ekspansi yang menjanjikan dan dukungan dari faktor-faktor makroekonomi yang positif, saham perusahaan ini semakin menarik perhatian investor global.
Kenaikan harga sahamnya sebesar 23% dalam sebulan terakhir menunjukkan adanya optimisme tinggi mengenai prospek pertumbuhan perusahaan yang berfokus pada barang-barang konsumsi non-esensial ini.
Kenaikan Kinerja Saham yang Mengagumkan
Pada Senin, 26 Januari 2026, saham MR DIY ditutup dengan harga 1,88 ringgit per lembar, menandai kenaikan yang signifikan dalam bulan ini.
Saham peritel ini mengalahkan lebih dari 90 saham lainnya yang ada dalam Indeks MSCI ASEAN, dan mencatatkan posisi teratas di antara perusahaan-perusahaan lain dalam indeks tersebut.
Kenaikan saham MR DIY ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah prospek konsumsi domestik Malaysia yang semakin membaik.
Analis pasar memperkirakan bahwa MR DIY akan terus berkembang seiring dengan pemulihan ekonomi Malaysia dan peningkatan daya beli masyarakat.
Dengan potensi pertumbuhan yang begitu besar, BIMB Securities memberikan target harga untuk saham MR DIY sebesar 2,40 ringgit dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.
Sementara itu, MBSB Investment Bank memproyeksikan harga sahamnya akan mencapai 2,20 ringgit. Ini menunjukkan keyakinan yang tinggi terhadap kinerja perusahaan di masa depan.
Ekspansi Bisnis yang Terus Berlanjut
Sebagai salah satu jaringan ritel terbesar di Malaysia dengan lebih dari 1.400 toko di seluruh negeri, MR DIY terus menunjukkan komitmennya untuk melakukan ekspansi lebih lanjut.
Perusahaan ini berencana membuka 155 toko baru dalam waktu dekat, sebuah langkah yang jelas bertujuan untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar di dalam negeri.
Dengan adanya lebih banyak toko yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia, MR DIY akan semakin dekat dengan konsumen dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar dalam industri ritel.
Peningkatan jumlah toko ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah Malaysia yang mengutamakan penguatan daya beli masyarakat. Pemerintah Malaysia telah meluncurkan berbagai stimulus ekonomi, termasuk pembayaran tunai sebesar 100 ringgit kepada warga dewasa yang dapat digunakan untuk berbelanja di toko-toko ritel dan gerai kelontong tertentu, termasuk MR DIY.
Program ini diyakini menjadi pendorong utama bagi sektor ritel di negara tersebut, memberikan kontribusi terhadap lonjakan penjualan dan mendukung pertumbuhan yang lebih stabil di masa depan.
Daya Beli yang Kuat dan Prospek Makroekonomi yang Positif
Keberhasilan MR DIY juga dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi yang mendukung. Ekonomi Malaysia saat ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan pengangguran yang rendah dan peningkatan pariwisata, dua elemen yang dapat mendorong pertumbuhan konsumsi.
Dengan adanya daya beli yang tangguh di kalangan rumah tangga, didukung pula dengan kenaikan kunjungan wisatawan, sektor ritel di negara ini diperkirakan akan terus berkembang.
Program bantuan pemerintah yang berupa pembayaran tunai kepada masyarakat juga memiliki dampak langsung pada konsumsi domestik.
Hal ini memberikan keuntungan besar bagi MR DIY, yang mampu mengoptimalkan pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan barang-barang konsumsi sehari-hari.
Secara keseluruhan, prospek yang cerah untuk sektor ritel Malaysia menjadikan MR DIY sebagai salah satu pemain utama yang diperkirakan akan menikmati tahun yang lebih baik pada 2026.
Posisi MR DIY dalam Konteks Ekspansi di Indonesia
Di Indonesia, entitas anak perusahaan MR DIY, yaitu PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), turut meramaikan pasar ritel dengan lebih dari 1.200 gerai di seluruh negeri.
MDIY mulai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 2024 dan telah mencatatkan kinerja yang menarik meskipun mengalami sedikit koreksi pada Januari 2026.
Pada Selasa, 27 Januari 2026, saham MDIY tercatat terkoreksi sebesar 2,56%, dengan harga penutupan di level Rp950. Namun, dalam jangka panjang, banyak analis yang masih melihat potensi besar dalam saham ini, meski dalam periode satu tahun terakhir, saham MDIY mengalami penurunan sebesar 43,28%.
Sama seperti MR DIY di Malaysia, MDIY di Indonesia juga berupaya untuk memanfaatkan peluang dari pasar yang terus berkembang, dengan ekspansi yang agresif di berbagai daerah di Indonesia.
Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar yang sangat menjanjikan bagi ritel. Keberadaan MR DIY di dua negara ini memberikan landasan yang kuat bagi perusahaan untuk terus memperkuat jaringannya dan meningkatkan profitabilitas.