PELNI Gunakan Satelit LEO untuk Efisiensi dan Keamanan Armada

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:52:22 WIB
PELNI Gunakan Satelit LEO untuk Efisiensi dan Keamanan Armada

JAKARTA - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI kini sedang melakukan terobosan besar dalam transformasi digital armadanya dengan beralih ke teknologi satelit Low Earth Orbit (LEO). 

Langkah ini dilakukan melalui kemitraan dengan BuanterOne, unit layanan telekomunikasi satelit yang berada di bawah PT Dwi Tunggal Putra (DTP), untuk periode 2026–2029. 

Teknologi baru ini akan memberikan latensi yang lebih rendah dan bandwidth yang lebih tinggi, memungkinkan pengelolaan armada yang lebih efisien, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Peralihan dari GEO ke Satelit LEO

Peralihan teknologi komunikasi kapal PELNI dari satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) yang memiliki latensi tinggi ke satelit LEO yang lebih modern dan cepat adalah langkah strategis. 

Satelit LEO, yang beroperasi pada ketinggian antara 500 hingga 1.200 kilometer dari permukaan bumi, menawarkan latensi jauh lebih rendah, yakni sekitar 70–100 milidetik, dibandingkan dengan satelit GEO yang beroperasi pada ketinggian 35.786 kilometer dan memiliki latensi sekitar 550–1.500 milidetik. 

Dengan latensi yang jauh lebih rendah, satelit LEO memungkinkan respons data yang lebih cepat, koneksi yang lebih stabil, dan pemantauan armada secara real-time, yang sangat penting bagi operasional pelayaran nasional.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI, Anik Hidayati, menjelaskan bahwa pengadopsian teknologi satelit LEO ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga sebagai upaya memperkuat tata kelola perusahaan dan meningkatkan keselamatan pelayaran. 

Menurutnya, modernisasi sistem komunikasi kapal dengan teknologi satelit LEO juga meningkatkan kenyamanan penumpang, yang merupakan prioritas utama perusahaan.

Manfaat Teknologi Satelit LEO bagi Operasional PELNI

Adopsi satelit LEO oleh PELNI membawa sejumlah manfaat teknis yang sangat signifikan untuk operasional pelayaran. Salah satunya adalah peningkatan kemampuan komunikasi, baik untuk koordinasi antar kantor pusat dan kapal, serta untuk pemantauan armada. 

Sistem komunikasi berbasis satelit LEO ini mencakup berbagai layanan canggih, seperti internet satelit berkecepatan tinggi, pemantauan kapal dengan sistem Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS), serta pemantauan kinerja kapal secara real-time.

Budi Santoso, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, menjelaskan bahwa solusi yang disediakan oleh BuanterOne akan membantu PELNI mengatasi tantangan operasional yang kompleks. 

"Dengan menggunakan konvergensi teknologi satelit LEO dan sistem monitoring seperti AIS dan VMS, manajemen PELNI dapat memiliki visibilitas penuh terhadap armada setiap saat," katanya. 

Teknologi ini memungkinkan pemantauan lebih efektif terhadap kinerja kapal, yang berpotensi meningkatkan efisiensi dan keselamatan operasional.

Selain itu, sistem komunikasi ini juga dilengkapi dengan fasilitas komunikasi suara melalui SatPhone dan VoIP, yang akan mempermudah komunikasi langsung antara kru kapal dan kantor pusat. 

Konektivitas yang lebih stabil ini juga memungkinkan pengelolaan perangkat dilakukan dari jarak jauh melalui fitur out-of-band management, yang memungkinkan pemeliharaan perangkat di kapal tanpa harus mengirim teknisi langsung ke kapal.

Meningkatkan Keamanan dan Efisiensi Operasional

Penerapan SisKomKap berbasis satelit LEO ini diharapkan dapat mempercepat proses bisnis PELNI dan meningkatkan ketepatan operasional. 

Dalam industri pelayaran yang sangat bergantung pada ketepatan waktu, teknologi ini memungkinkan PELNI untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih akurat, serta mengelola jadwal pelayaran dengan lebih efisien. 

Selain itu, pengambilan keputusan yang lebih cepat juga penting dalam situasi darurat, di mana komunikasi yang lancar dan respons cepat sangat diperlukan.

PELNI juga menekankan bahwa selain meningkatkan efisiensi operasional, teknologi ini akan memperkuat aspek keselamatan pelayaran. Dengan kemampuan untuk memantau armada secara real-time, PELNI dapat lebih responsif dalam menangani kondisi cuaca buruk atau masalah teknis yang terjadi di laut. 

Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan, tetapi juga bagi penumpang yang mengutamakan kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan.

Digitalisasi Maritim dan Masa Depan Industri Pelayaran

Adopsi satelit LEO adalah bagian dari strategi jangka panjang PELNI untuk memperkuat fondasi operasional berbasis data dan digital. Ini merupakan bagian dari transformasi digital yang lebih luas di sektor maritim Indonesia, sejalan dengan tren industri maritim 4.0. 

Dengan digitalisasi yang lebih mendalam, PELNI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketepatan waktu pelayanan, dan meningkatkan pengalaman penumpang.

Kerja sama dengan BuanterOne juga memperkuat posisi perusahaan di pasar telekomunikasi satelit nasional, khususnya di sektor maritim. 

Dengan sistem konektivitas berlatensi rendah dan kemampuan bertahan tinggi, PELNI siap menghadapi tantangan operasional yang semakin kompleks. 

Teknologi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada penumpang, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengelolaan armada, distribusi logistik, dan peningkatan keselamatan pelayaran.

Harapan untuk Industri Pelayaran yang Lebih Modern dan Efisien

Langkah yang diambil oleh PELNI ini diharapkan dapat menjadi contoh transformasi digital yang bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan pelayaran lainnya. 

Dengan mengintegrasikan teknologi canggih seperti satelit LEO, perusahaan pelayaran dapat beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang semakin dinamis dan mengoptimalkan efisiensi operasional mereka. 

Teknologi ini juga diharapkan dapat mendorong perkembangan lebih lanjut dalam digitalisasi sektor maritim, yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di tingkat global.

Ke depannya, digitalisasi akan memainkan peran penting dalam menjaga daya saing perusahaan pelayaran Indonesia di pasar internasional. PELNI, dengan migrasi ke satelit LEO, tidak hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di tahun 2026, tetapi juga untuk membangun fondasi yang kuat bagi industri pelayaran Indonesia di masa depan.

Terkini