Harga Minyak Stabil di Tengah Progres Damai AS-Iran Pekan Ini

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Minggu, 05 Juli 2026
Harga Minyak Stabil di Tengah Progres Damai AS-Iran Pekan Ini
Harga minyak Brent stabil di level USD71,94 per barel di tengah negosiasi damai AS-Iran. (Foto: Reuters)

London - Nilai jual minyak mentah terpantau tidak banyak bergeser di sepanjang pekan lantaran para pelaku pasar masih menaruh harapan besar pada kelanjutan proses perundingan damai antara pihak AS dan Iran.

Melansir data dari Investing, Minggu (5/7/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak berjangka menguat 14 sen atau 0,19 persen ke level USD71,94 per barel, yang mana hasil ini membuat catatan mingguan bertengger cuma lima sen lebih rendah daripada posisi penutupan pada Jumat lalu. 

Di sisi lain, minyak mentah varian West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik sembilan sen atau 0,13 persen menuju level USD68,78 per barel.

Aktivitas transaksi di pasar modal terhitung cukup lengang menyusul liburnya pasar keuangan AS dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan AS pada Sabtu, 4 Juli 2026. 

Pada perdagangan Kamis kemarin, dua acuan harga komoditas minyak bumi tersebut sempat merosot hingga menyentuh level terendah semenjak masa konflik bersenjata antara AS-Israel dengan Iran meletus di penghujung Februari lalu.

Ekspektasi para penanam modal terhadap pemulihan operasional Selat Hormuz secara total mendapatkan stimulus positif dari bergulirnya dialog damai antara AS dengan Iran, papar tim analis dari Commerzbank.

"Proses pembuatan kesepakatan AS-Iran tetap rapuh tetapi berlanjut untuk saat ini, karena pertanyaan tentang tarif dan administrasi Selat Hormuz tetap kontroversial," tulis analis Citi.

"Kami memperkirakan MoU (nota kesepahaman) akan tetap berlaku, bukan karena kepercayaan tiba-tiba muncul, tetapi karena insentif untuk membatalkannya sangat rendah bagi kedua belah pihak," kata analis Citi.

Aktivitas pelayaran logistik dilaporkan telah mulai aktif kembali melewati Selat Hormuz, selaras dengan ketentuan yang disepakati pada draf awal perundingan AS-Iran, akan tetapi tensi keraguan masih menyelimuti pasar setelah kedua belah pihak terlibat aksi saling serang di akhir minggu lalu buntut dari gempuran Iran terhadap armada kapal kargo.

Melihat adanya peluang lonjakan distribusi minyak bumi ke pasar global, jajaran produsen di kawasan Teluk berupaya menggenjot volume produksi mereka. 

Catatan output dari OPEC pada bulan Juni kemarin melonjak sebanyak 3,3 juta barel per hari jika dikomparasikan dengan bulan sebelumnya, merujuk pada hasil jajak pendapat Reuters.

Level produksi minyak mentah asal Kuwait merangkak naik secara drastis menyentuh 1,65 juta barel per hari pada periode Juni, dari data sebelumnya yang hanya berada di kisaran 580 ribu barel per hari di bulan Mei, ungkap seorang sumber yang memahami isu bersangkutan kepada Reuters pada Kamis kemarin.

Sedikitnya ada lima armada kapal tanker berukuran jumbo yang memuat total 10 juta barel pasokan minyak mentah milik Arab Saudi dilaporkan telah bertolak meninggalkan kawasan selat tersebut. 

Di samping itu, korporasi Saudi Aramco diinformasikan telah mengalihkan metode kalkulasi harga dari model kontrak jangka panjang menjadi skema harga spot demi mempercepat realisasi penjualan di pasar Asia, merujuk pada keterangan pelaku usaha dagang dan indikator data pelayaran.

"Secara keseluruhan, pemulihan pasokan di Timur Tengah melampaui ekspektasi awal kami sementara permintaan impor yang tertekan oleh Tiongkok tetap lemah," kata Rory Johnston, pendiri buletin Commodity Context.

Seiring berjalannya eskalasi volume ketersediaan barang di pasar, pola pergerakan pasar dilaporkan telah bergeser dari tren backwardation beralih ke kondisi contango, di mana situasi ini merefleksikan merosotnya proyeksi kelangkaan barang di masa depan.

Harga komoditas minyak mentah Brent untuk transaksi pengiriman langsung pada minggu ini dilepas di bawah nilai kontrak pengapalan untuk durasi hingga enam bulan ke depan. 

Hal ini menjadi indikasi teranyar jika peningkatan kelancaran logistik lewat selat bersangkutan telah memicu terjadinya surplus pasokan dalam jangka pendek.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua