Ramalan Harga Emas Akhir Tahun: Berpotensi Tembus USD 4.800

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 03 Juli 2026
Ramalan Harga Emas Akhir Tahun: Berpotensi Tembus USD 4.800
Ilustrasi emas batangan. (Foto: PIXABAY)

JAKARTA – PT Doo Financial Futures mengestimasikan pergerakan naik pada harga emas global akan kembali bergulir pada paruh kedua 2026. 

Usai menghadapi himpitan pada enam bulan pertama tahun 2026, komoditas emas diperkirakan bakal meneruskan tren penguatan karena disokong oleh rentetan sentimen.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, penurunan yang menimpa nilai jual emas dunia pada paruh pertama 2026 lebih dipicu oleh keperkasaan mata uang dolar AS serta maraknya aksi ambil untung setelah emas mengalami kenaikan masif selama beberapa tahun belakangan. 

Publikasi data dari Trading Economics memperlihatkan bahwa nilai emas telah menyusut dari level US4.446diawaltahunmenujuposisiUS4.031,4 pada sesi perdagangan kemarin. 

Nilai komoditas emas mencatatkan performa yang kontras pada tahun ini apabila disandingkan dengan kondisi sepanjang 2025.

”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” katanya, Kamis (2/7/2026).

Bukan hanya itu, melesatnya tren teknologi kecerdasan buatan (AI booming) juga dianggap ikut andil dalam menekan harga emas belakangan ini. 

Kalangan penanam modal dilaporkan beramai-ramai mengalihkan likuiditas mereka ke sektor yang sedang menikmati narasi pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Walau demikian, hingga momentum penutupan tahun 2026, aset emas diprediksi tetap berpeluang mencatatkan kurva kenaikan. 

Sikap dari otoritas The Fed yang cenderung ketat (hawkish) serta gejolak geopolitik yang belum mereda antara Iran dan AS menjadi instrumen utama di balik proyeksi ini.

”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US4.600—US4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. 

Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” katanya.

Di tengah bayang-bayang risiko inflasi makro global, para investor dinilai bersikap kian selektif dan waspada dalam memborong emas sebagai aset aman (safe haven). 

Hal itu dipicu oleh harga emas yang posisinya telah melambung terlampau tinggi bila dikomparasikan dengan kondisi dua tahun lalu.

 Kendati begitu, Lukman memberikan penilaian bahwa jajaran bank sentral global diproyeksikan akan konsisten melakukan akumulasi pembelian terhadap fisik emas. 

Melalui skema tersebut, angka serapan fisik untuk emas dinilai bakal tetap kokoh ke depan.

”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” tegasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua