Gelombang Panas Dunia Dongkrak Harga Batu Bara ke USD 127,45 per Ton

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 30 Juni 2026
Gelombang Panas Dunia Dongkrak Harga Batu Bara ke USD 127,45 per Ton
Ilustrasi batu bara. (Foto: maniacvector/freepik)

JAKARTA - Nilai jual batu bara akhirnya berbalik menguat setelah sempat terpuruk selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan harga ini didorong oleh melonjaknya angka permintaan di tengah situasi gelombang panas global.

Berdasarkan data dari Refinitiv, harga batu bara pada sesi perdagangan Senin (29/6/2026) berakhir pada level US$ 127,45 per ton, atau mengalami penguatan sebesar 1,77%.

Peningkatan harga ini menjadi angin segar setelah pada tiga hari perdagangan sebelumnya sempat merosot sedalam 4,4% secara beruntun.

Tingginya permintaan terhadap komoditas energi ini terjadi seiring dengan hantaman gelombang panas serta musim panas yang kini tengah berlangsung di wilayah Amerika Serikat dan Eropa.

Kondisi musim panas di Eropa memicu kenaikan konsumsi energi listrik secara masif. Di tengah lonjakan permintaan tersebut, Jerman justru didera problem menyusutnya debit air di Sungai Rhine. 

Sungai ini diketahui bertindak sebagai jalur distribusi batu bara paling padat di Eropa, sehingga kondisi air yang dangkal tersebut berpotensi menghambat proses logistik batu bara.

Kondisi tersebut melahirkan kecemasan terkait ketersediaan stok, khususnya di kala suhu udara yang tinggi diproyeksikan bakal mendongkrak konsumsi listrik sekaligus mereduksi efisiensi operasional dari pembangkit listrik tenaga gas serta tenaga surya.

Dari belahan Amerika Serikat, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, merilis instruksi darurat guna mempertahankan operasional salah satu unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara di Colorado untuk memastikan keandalan pasokan listrik. Informasi ini dipublikasikan oleh Departemen Energi AS pada hari Jumat.

Melalui instruksi tersebut, pihak Tri-State Generation and Transmission Association, Platte River Power Authority, Salt River Project, PacifiCorp, serta Public Service Company of Colorado yang merupakan anak usaha Xcel Energy, diminta untuk menjaga Craig Station Unit 1 agar tetap dalam status siap beroperasi selaras dengan arahan Southwest Power Pool.

Pada rencana awal, unit pembangkit tersebut dijadwalkan dipensiunkan pada penghujung tahun 2025. 

Kendati demikian, Wright sebelumnya sudah pernah menerbitkan instruksi darurat yang serupa pada Desember 2025 dan Maret 2026 yang mengharuskan pembangkit itu tetap siaga untuk difungsikan.

Pemerintahan di bawah Presiden AS Donald Trump telah mendayagunakan otoritas darurat demi memperpanjang masa operasional beberapa pembangkit listrik tua berbahan bakar batu bara serta gas melebihi dari jadwal pensiun yang telah dianggarkan semula. Kebijakan ini diimplementasikan atas dasar menjaga stabilitas jaringan listrik nasional.

Wright memaparkan bahwa penutupan pembangkit listrik yang sejatinya masih andal berisiko mengancam stabilitas jaringan listrik sekaligus memicu pembengkakan biaya listrik sepanjang masa puncak permintaan di musim panas.

Departemen Energi juga menggarisbawahi adanya kecemasan terkait keandalan pasokan daya listrik di area Pegunungan Rocky (Rocky Mountain), salah satunya disebabkan oleh faktor penuaan pada sejumlah pembangkit termal serta adanya kendala dalam rantai pasokan.

Ketetapan darurat paling baru tersebut dinyatakan berlaku efektif terhitung dari 29 Juni sampai dengan 26 September 2026.

Di sisi lain, China mengonfirmasi pasokan untuk batu bara kokas (coking coal) di dalam negerinya masih berada dalam kondisi ketat akibat insiden kecelakaan tambang fatal di Provinsi Shanxi pada akhir Mei 2026. 

Peristiwa pilu itu memicu dilakukannya audit keselamatan secara masif dan penutupan sementara pada sekitar 155 titik tambang, sehingga tingkat produksi domestik belum dapat pulih sepenuhnya.

Kondisi kelangkaan pasokan ini turut menopang pergerakan harga batu bara kokas. 

Nilainya sempat bertengger di level tertinggi dalam kurun waktu 19 bulan pada awal Juni akibat kekhawatiran defisit stok, walaupun pada akhirnya mulai melandai saat sebagian area tambang diizinkan beroperasi kembali.

Para konsumen mulai membatasi aktivitas pembelian pasca-terjadinya lonjakan harga yang signifikan. 

Sejumlah pabrik baja beserta pelaku dagang memilih untuk mengambil sikap menunggu dikarenakan margin pada industri baja masih tipis, proyeksi serapan baja belum menentu, serta rentang harga antara batu bara lokal dan impor yang kian menyempit sehingga menekan minat impor.

Cadangan di area tambang yang terus menipis tetap bertindak sebagai elemen penahan koreksi harga. 

Jumlah inventori di wilayah pertambangan menyusut sehingga ketersediaan barang di pasar spot masih terbatas, meski penguatan harga mulai mendapatkan resistensi dari kalangan pembeli.

Volume impor China tercatat tetap merangkak naik, terutama yang didatangkan dari Australia dan Kanada, guna menutupi kekurangan produksi di dalam negeri.

Namun, intensitas transaksi pembelian tidak seprogresif periode sebelumnya lantaran para importir menilai level harga saat ini sudah terlampau tinggi dan masih dibayangi oleh risiko penurunan harga.

Pertumbuhan permintaan untuk kebutuhan musim panas sejatinya sudah terefleksi sejak Mei 2026.

Volume ekspor batu bara dari deretan pelabuhan Australia seperti Hay Point, Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT), Abbot Point, dan Gladstone yang berlokasi di negara bagian Queensland pada Mei 2026 mengalami pertumbuhan. 

Angka ekspor terkerek hingga 11,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan tumbuh 7,4% secara bulanan (month-on-month/mom) hingga menyentuh 17,28 juta metrik ton (mt). 

Informasi berkala tersebut dirilis oleh North Queensland Bulk Ports Corporation serta Gladstone Ports Corporation.

Secara lebih detail, pengiriman batu bara dari Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT) pada Mei mencapai 4,86 juta ton, atau melesat 17,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, distribusi dari Hay Point meningkat 14,3% yoy menjadi 4,21 juta ton.

Di sudut lain, volume pengiriman dari Abbot Point terdata berada di angka 2,6 juta mt, atau melemah tipis 0,3% yoy. 

Selain itu, ekspor batu bara dari Pelabuhan Gladstone meningkat 11,6% jika disandingkan dengan capaian Mei 2025 menjadi 5,59 juta ton.

Pada bulan Mei, pasokan batu bara dari Pelabuhan Gladstone menuju Jepang memberikan kontribusi sebesar 27,4% dari akumulasi ekspor. 

Sementara itu, negara Korea Selatan, India, dan Vietnam berturut-turut menyerap porsi sebesar 25,7%, 18,6%, dan 8,9% dari keseluruhan jumlah ekspor tersebut.

Sementara itu, akumulasi pengiriman batu bara dari keempat pelabuhan tersebut sepanjang rentang Januari-Mei 2026 menyentuh angka 76,35 juta metrik ton, merujuk pada data yang dirilis oleh SteelOrbis.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua