Merdeka Copper Gold (MDKA) Kantongi Laba USD 57,5 Juta di Kuartal I

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 30 Juni 2026
Merdeka Copper Gold (MDKA) Kantongi Laba USD 57,5 Juta di Kuartal I
Pertambangan mineral Grup Merdeka (MDKA dan MBMA). (Foto: net)

JAKARTA - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan capaian kinerja positif sepanjang kuartal I-2026. 

Hal tersebut terefleksi lewat adanya pemulihan profitabilitas pada lini bisnis nikel dan emas yang bertindak sebagai bisnis inti dari perseroan selain komoditas tembaga.

Pada rentang waktu Januari sampai Maret 2026, Merdeka sukses mengumpulkan pendapatan hingga USD 620,3 juta, atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 24 persen secara tahunan. 

Sementara itu, EBITDA perusahaan juga terangkat 182 persen menjadi senilai USD 249,9 juta.

Untuk perolehan laba bersih, perusahaan sukses mencatatkan angka USD 57,5 juta. Realisasi ini membalikkan keadaan merugi pada kuartal I-2025 yang sempat berada di level USD 3,7 juta, sekaligus memperlihatkan terjadinya pemulihan yang masif dari sisi profitabilitas.

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk., Albert Saputro, memaparkan bahwa perusahaan mengawali tahun 2026 dengan kinerja kokoh yang disokong oleh melambungnya harga jual emas, meningkatnya volume penjualan lemonit, menebalnya margin nikel, serta adanya andil penjualan perdana yang berasal dari Tambang Emas Pani.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perseroan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga," katanya dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Komoditas emas menjelma sebagai pemasok terbesar bagi EBITDA MDKA di kuartal pertama dengan total kontribusi menyentuh ASD89 juta.

 Posisi selanjutnya diisi oleh Nickel Pig Iron (NPI) senilai USD67 juta, limonit sebesar USD48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebanyak USD25 juta, serta tembaga yang memasok USD19 juta. 

Hasil tersebut menegaskan kapasitas MDKA dalam menangkap peluang penguatan margin lewat portofolio logam yang terkelola dengan baik.

Untuk akumulasi produksi emas, MDKA membukukan pertumbuhan 5 persen secara tahunan menjadi 26.652 ounces di kuartal I-2026. 

Hasil ini utamanya didorong oleh sumbangsih produksi perdana Tambang Emas Pani yang dikelola PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). 

Di sisi lain, Tambang Emas Tujuh Bukit menorehkan rata-rata harga jual senilai USD 4.841 per ounce dengan biaya kas USD 685 per ounce, sudah mencakup royalti dan kredit perak, sehingga sanggup mencetak margin tunai senilai USD 4.156 per ounce.

Pada lini nikel, operasional PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditopang oleh bertambahnya volume penjualan bijih sekaligus merangkak naiknya harga jual di pasar. 

Volume bijih nikel yang ditambang melesat hingga 143 persen secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal I-2026 lantaran dipicu oleh naiknya kapasitas produksi saprolit serta limonit.

Margin untuk komoditas nikel terpantau konstan kuat, di mana saprolit dan limonit masing-masing menorehkan margin tunai sebesar 14 persen dan 50 persen. 

Pada saat yang sama, NPI mencatatkan margin kas sebesar 29 persen yang didorong oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan pada pasokan saprolit dari pihak eksternal.

Perusahaan juga terus memacu pengerjaan sejumlah platform pertumbuhan utama, baik sepanjang maupun setelah periode pelaporan. Saat ini, Proyek Tembaga Tujuh Bukit tengah berada dalam tahapan Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang ditargetkan rampung pada semester II-2026. 

Sementara di Pani, EMAS telah mengumumkan estimasi perdana sumber daya mineral untuk prospek Kolokoa, yang mendongkrak total sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari semula 7,0 juta ounces menjadi kisaran 7,4 juta ounces emas.

Selain itu, EMAS juga telah menyelesaikan proses pencatatan sekunder di papan utama The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) pada Juni 2026 demi memperluas akses perusahaan terhadap kalangan investor global.

Beralih ke sektor hilir nikel, PT ESG New Energy Material sukses memproduksi nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (“MHP”) sebanyak 5.194 ton pada 1T26. 

Hasil ini ditopang oleh proses pengiriman bijih yang semakin efisien setelah selesainya pengerjaan Feed Preparation Plant di Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) serta jalur pipa slurry menuju IMIP pada kuartal IV-2025 lalu. 

Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah merampungkan tahapan commissioning pada akhir kuartal II-2026 dan saat ini tengah menanti terbitnya Izin Usaha Industri (IUI). Aktivitas produksi diprediksi bakal naik bertahap sepanjang paruh kedua tahun 2026.

MDKA juga terpantau sanggup mempertahankan posisi likuiditas yang kokoh selama kuartal tersebut. 

Berdasarkan data per 31 Maret 2026, perseroan menggenggam kas dan bank sebesar USD545 juta serta disokong fasilitas pinjaman yang belum ditarik senilai USD130 juta. 

Untuk rasio utang bersih terhadap EBITDA berada pada posisi 3,0 kali, level yang dinilai masih aman di bawah batas maksimal rasio yang disyaratkan, yaitu sebesar 5,0 kali.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Ke depan, MDKA berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan momentum kinerja kuartal I 2026, didukung oleh penguatan margin emas, peningkatan volume bijih nikel, peningkatan produksi Tambang Emas Pani secara bertahap, pengembangan proyek hilir nikel, serta kemajuan Proyek Tembaga Tujuh Bukit. Perseroan akan terus berfokus pada alokasi modal yang disiplin, efisiensi operasional, dan pengembangan portofolio yang terdiversifikasi untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang," kata Albert.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua