Selat Hormuz Dibuka, Pasar Saham Domestik Berpotensi Reli

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 22 Juni 2026
Selat Hormuz Dibuka, Pasar Saham Domestik Berpotensi Reli
Ilustrasi Pasar Saham Domestik Berpotensi Reli. (Foto: net)

JAKARTA - Beroperasinya kembali Selat Hormuz dapat menjadi angin segar bagi pasar keuangan dalam negeri, khususnya berkat merosotnya premi risiko geopolitik serta melandainya tekanan harga energi di tingkat global. 

Berdasarkan laporan Analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim pada 18 Juni 2026, kembalinya kelancaran distribusi minyak di salah satu jalur energi paling krusial di dunia itu bakal menyokong stabilitas pasokan global, memangkas harga energi, sekaligus meringankan beban pada sektor fiskal, laju inflasi, dan kurs rupiah. 

“Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan premi risiko geopolitik memperbaiki prospek sektor domestik Indonesia melalui penurunan harga energi, penguatan rupiah, dan berkurangnya tekanan fiskal,” tulis Jeffrosenberg dalam risetnya, 18 Juni 2026.

Jeffrosenberg menggarisbawahi bahwa posisi Indonesia selaku negara importir energi bakal memperoleh keuntungan langsung dari penurunan harga minyak dunia. 

Di tahun 2025, Indonesia diketahui mengimpor mendekati 362.000 barel minyak mentah per hari, di mana sebagian pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah yang sempat terkendala di jalur Hormuz. 

Proyeksi dari Maybank Sekuritas menunjukkan, sektor yang akan memetik keuntungan terbesar ialah saham-saham siklikal domestik serta sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga, khususnya perbankan dan properti, diikuti oleh industri konsumer, ritel, infrastruktur, dan utilitas.

Pada industri perbankan, Jeffrosenberg memperkirakan terapresiasinya nilai tukar rupiah dan terpangkasnya biaya energi bakal menekan beban biaya dana, sekaligus mendongkrak kualitas aset serta penyaluran kredit. 

Beberapa saham yang berpeluang diuntungkan di antaranya adalah Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). 

Sektor konsumer turut diproyeksikan mendapat stimulus dari susutnya biaya bahan baku dan transportasi, mencakup emiten seperti KLBF, MYOR, dan INDF. 

Sementara itu, pelaku usaha ritel layaknya ACES, MAPI, dan AMRT berpeluang terdongkrak oleh menguatnya daya beli masyarakat.

Untuk lini bisnis lainnya, sektor properti (SMRA, CTRA, BSDE, PWON) diperkirakan mendulang untung dari pulihnya keterjangkauan pasar, sedangkan bidang infrastruktur dan utilitas berpotensi melaju seiring menurunnya beban energi. 

Di sisi lain, Jeffrosenberg melihat sektor minyak dan gas justru menjadi lini yang paling tertinggal dalam kondisi ini, lantaran penurunan harga minyak ke tingkat normal dapat menggerus proyeksi laba perusahaan. Ia menunjuk emiten seperti MEDC sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya.

Sebaliknya, sektor pertambangan logam diproyeksikan berada di posisi netral cenderung menguat tipis. Emiten seperti ANTM, AMMN, dan MDKA diyakini memperoleh sokongan berkat efisiensi biaya logistik dan energi, sekalipun efek positif tersebut dapat sedikit tertahan oleh melemahnya mata uang dolar AS. 

Secara garis besar, Maybank Sekuritas menilai dibukanya kembali akses Selat Hormuz semakin memperkuat ketertarikan terhadap saham domestik siklikal serta sektor sensitif suku bunga ketimbang sektor komoditas.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua