Proyeksi Rupiah Awal Pekan: Intip Tiga Sentimen Penggeraknya

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 22 Juni 2026
Proyeksi Rupiah Awal Pekan: Intip Tiga Sentimen Penggeraknya
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: net)

JAKARTA - Mata uang rupiah diproyeksikan masih akan berjalan fluktuatif dan memiliki kecenderungan tertekan pada sesi perdagangan awal pekan ini. 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyampaikan pada awal pekan ini pasar masih akan merespons dampak dari keputusan FOMC (Federal Reserve) yang baru saja dipublikasikan. 

Memperhatikan sinyal hawkish dari The Fed di mana kurang lebih separuh anggota FOMC memprediksi kenaikan suku bunga di tahun 2026 tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan tetap berlanjut. 

Namun, BI diyakini akan tetap memantau pasar demi menjaga stabilitas agar pergerakan tidak terlalu fluktuatif.

“Secara teknikal dan fundamental, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung fluktuatif, diperkirakan berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS,” ujar Sutopo, Jumat (19/6/2026). 

Sutopo mengamati terdapat tiga poin penting yang akan menjadi motor penggerak pasar, termasuk rupiah pada hari Senin ini. Antara lain efek lanjutan Kebijakan The Fed. Pasar akan terus menganalisis prospek kebijakan moneter AS ke depan. 

Sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih berpotensi terjadi di tahun 2026 memperkokoh posisi dolar AS (DXY). 

Setiap apresiasi dolar global akan secara otomatis menekan rupiah, sehingga pelaku pasar akan sangat peka terhadap pernyataan pejabat The Fed lainnya atau data ekonomi AS yang keluar awal pekan.

Kemudian, respons pasar terhadap aturan devisa baru. Efektif per 1 Juli 2026, BI memperketat regulasi devisa (threshold dokumen ekspor dan limit cash valas). 

Walau berlaku bulan depan, Sutopo menilai para pelaku pasar biasanya mulai menentukan posisi lebih awal. 

Sentimen ini bermata dua: di satu sisi, ini merupakan langkah BI untuk memperkokoh cadangan devisa (sentimen positif), namun di sisi lain, pengetatan likuiditas valas kerap kali memicu pelaku pasar lebih berhati-hati dalam jangka pendek. 

Selanjutnya, ketidakpastian geopolitik dan MSCI Review. Kendati sudah terdapat interim peace agreement antara AS dan Iran, pasar akan mengamati apakah terdapat dinamika baru terkait stabilitas di Timur Tengah yang bisa memengaruhi harga energi global. 

Selain itu, sentimen seputar status Emerging Market Indonesia pasca-review MSCI tetap membayangi; setiap aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing dipicu sentimen ini akan memberikan tekanan ekstra pada nilai tukar.

Sutopo memproyeksikan rupiah pada Senin (22/6) berada di rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS. 

Sementara itu, Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX memprediksi nilai tukar rupiah pada awal pekan ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat secara terbatas di kisaran Rp 17.700 – Rp 17.860 per dolar AS. 

Walaupun Bank Indonesia sudah mengerek BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, rupiah masih ditutup melemah menuju level Rp 17.804 per dolar AS. 

“Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah,” ucap Amru. 

Di sisi lain, peningkatan BI-Rate diharapkan dapat mengawal stabilitas nilai tukar, mendongkrak daya tarik aset keuangan domestik, serta membantu menekan laju pelemahan rupiah.

 Sejak Mei 2026, Bank Indonesia sudah mengerek BI-Rate sebesar total 100 basis poin demi memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dari aspek eksternal, dolar AS masih bertahan perkasa setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya dan memberikan sinyal bahwa suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama. 

Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang masih bertengger di level tinggi ikut menyokong permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. 

“Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” kata Amru. 

Pada perdagangan Senin nanti, Amru mengutarakan bahwa pasar juga akan melihat perkembangan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang memiliki target memulihkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. 

“Dengan demikian, perkembangan hubungan AS–Iran, pergerakan harga minyak dunia, kekuatan dolar AS, yield obligasi AS, serta sentimen terkait MSCI akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan ini,” jelas Amru.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi pada Jumat (19/6/2026). 

Merujuk Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke level Rp 17.804 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di posisi Rp 17.826 per dolar AS, nilai ini serupa dengan nilai pada penutupan perdagangan hari sebelumnya (18/6).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua