Dolar AS Melemah, Rupiah Rabu Ini Berpotensi Menguat di Rentang Rp17.690

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 17 Juni 2026
Dolar AS Melemah, Rupiah Rabu Ini Berpotensi Menguat di Rentang Rp17.690
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat. (Foto: MP)

JAKARTA — Mata uang rupiah diperkirakan akan menguat pada aktivitas transaksi hari ini, Rabu (17/6/2026), sejalan dengan merosotnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) pasca-tercapainya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran guna menyudahi ketegangan serta mengoperasikan kembali Selat Hormuz. 

Pada transaksi sebelumnya, Selasa (16/6/2026), rupiah berakhir terkoreksi 19 poin ke posisi Rp17.725 per dolar AS dari angka Rp17.708 per dolar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengemukakan bahwa tekanan pada rupiah sebelumnya masih dihantui oleh risiko pengenaan tarif impor tambahan dari AS atas beberapa komoditas asal Indonesia. 

Pemerintah mengestimasi tarif bagi produk domestik dapat melonjak sampai 18% setelah peninjauan mengenai kapasitas berlebih rampung dikerjakan.

Ibrahim memaparkan bahwa regulasi tersebut berisiko menggerus daya saing ekspor industri manufaktur Indonesia menuju pasar AS, yang sejauh ini bertindak sebagai salah satu destinasi utama ekspor nonmigas domestik.

”Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut,” ungkap Ibrahim dalam risetnya.

Di pihak lain, stimulus eksternal mulai beralih positif semenjak AS dan Iran memublikasikan mufakat awal demi mengakhiri perselisihan serta membuka kembali jalur Selat Hormuz. 

Kesepakatan itu memicu kejatuhan harga minyak dunia sekaligus memotivasi para pelaku pasar untuk kembali berinvestasi pada aset berisiko.

Penurunan indeks dolar AS sendiri disebabkan oleh meredanya kecemasan seputar inflasi global usai risiko sumbatan distribusi energi menyusut.

"Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik mereka dan membuka kembali Selat Hormuz. Kerangka kerja perdamaian tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan sentimen risiko di pasar global," ujar Ibrahim.

Menurut penilaian Ibrahim, atensi pasar saat ini sedang terfokus pada ketetapan sejumlah bank sentral raksasa dunia, khususnya Federal Reserve serta Bank of England. 

Para pemodal pun menanti sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga acuan AS lewat statement Ketua The Fed Kevin Warsh.

Walaupun indeks dolar melemah, pergerakan pasar terpantau masih waspada lantaran ekspektasi pemotongan suku bunga AS pada tahun ini mulai menyusut akibat tekanan inflasi yang belum seutuhnya mereda.

Untuk aktivitas transaksi hari ini, Ibrahim mengestimasi rupiah bakal berjalan fluktuatif namun condong menguat.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS," jelasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua