Menguat 2 Hari, Harga CPO BMD Didorong Pelemahan Ringgit

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Menguat 2 Hari, Harga CPO BMD Didorong Pelemahan Ringgit
Ilustrasi CPO. (Foto: PT Triputra Agro Persada Tbk)

JAKARTA – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami kenaikan pada Kamis (11/6/2026), meneruskan tren positif dari hari sebelumnya. 

Lonjakan harga ini dipicu oleh depresiasi mata uang Ringgit Malaysia, apresiasi harga minyak nabati di pasar global, serta pertumbuhan volume ekspor minyak sawit Malaysia pada awal Juni.

Merujuk pada data penutupan BMD Kamis (11/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juni 2026 bertambah 11 Ringgit Malaysia menjadi 4.461 Ringgit Malaysia per ton. 

Sementara itu, kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 ikut terdongkrak 11 Ringgit Malaysia menuju level 4.4509 Ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 13 Ringgit Malaysia ke angka 4.551 Ringgit Malaysia per ton. 

Pergerakan positif juga terjadi pada kontrak berjangka CPO September 2026 yang tumbuh 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.592 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO untuk Oktober 2026 meningkat 17 Ringgit Malaysia ke posisi 4.632 Ringgit Malaysia per ton. Adapun untuk kontrak berjangka CPO November 2026 mengalami kenaikan 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.661 Ringgit Malaysia per ton.

Melansir Tradingview, tren penguatan harga CPO berlanjut untuk hari kedua secara berturut-turut. Faktor utama yang menggerakkan kenaikan ini adalah melemahnya kurs ringgit serta menguatnya harga komoditas minyak nabati di bursa Dalian (China) dan bursa Chicago (Amerika Serikat/AS).

Kondisi pasar juga mendapatkan stimulus positif dari sektor ekspor. Laporan dari sejumlah lembaga survei kargo mengindikasikan bahwa aktivitas pengiriman minyak sawit asal Malaysia untuk rentang waktu 1–10 Juni mengalami pertumbuhan berkisar 3,5% sampai 4,9% jika dikomparasikan dengan bulan lalu.

Stok CPO Naik

Walau begitu, laju peningkatan harga cenderung tertahan lantaran data dari pelaku industri memperlihatkan bahwa cadangan minyak sawit Malaysia kembali membengkak selama dua bulan berturut-turut pada Mei.

Melihat dari aspek serapan pasar, aktivitas impor oleh India selaku konsumen minyak sawit terbesar di tingkat global memang merangkak naik tipis pada Mei bila dibandingkan dengan capaian terendah dalam empat bulan terakhir pada April. 

Kendati demikian, total volumenya diposisikan masih berada di bawah batas normal.

Sementara itu, beralih ke Indonesia yang berstatus sebagai produsen utama minyak sawit global, pihak otoritas menerbitkan regulasi teknis anyar terkait tata cara ekspor beberapa komoditas unggulan, termasuk minyak kelapa sawit. 

Langkah kebijakan ini memantik keresahan di kalangan pelaku usaha ekspor sekaligus memicu spekulasi ketidakpastian terhadap jalur perdagangan dalam periode jangka pendek.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua