Harga CPO Jatuh ke Level Terendah Sepekan pada Kamis 25 Juni 2026

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 26 Juni 2026
Harga CPO Jatuh ke Level Terendah Sepekan pada Kamis 25 Juni 2026
Pekerja menata kelapa sawit saat panen. (Foto: Bisnis.com)

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot ke titik terendah dalam satu minggu terakhir pada Kamis (25/6/2026). 

Penurunan tersebut diakibatkan oleh perpaduan antara menguatnya nilai mata uang ringgit, melemahnya harga minyak nabati di bursa Chicago dan Dalian, serta merosotnya harga minyak mentah dunia.

Mengacu pada data BMD di penutupan Kamis (25/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 melorot 62 Ringgit Malaysia menjadi 4.513 Ringgit Malaysia per ton. 

Sementara kontrak berjangka CPO Agustus 2026 anjlok sebesar 69 Ringgit Malaysia ke angka 4.535 Ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO September 2026 merosot 76 Ringgit Malaysia ke level 4.557 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 juga turun tajam 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.579 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO November 2026 menyusut 85 Ringgit Malaysia ke posisi 4.599 Ringgit Malaysia per ton. Adapun Kontrak berjangka CPO Desember 2026 terjungkal 86 Ringgit Malaysia menjadi 4.623 Ringgit Malaysia per ton.

Disadur dari Tradingview, penguatan mata uang Ringgit Malaysia menjadikan komoditas CPO Malaysia terasa lebih bernilai tinggi bagi importir asing, sehingga mereduksi kompetitivitas ekspornya. 

Pada waktu bersamaan, kemerosotan harga minyak mentah turut mengurangi daya pikat CPO yang biasa diolah sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Beban terhadap pergerakan harga juga muncul usai otoritas Malaysia menurunkan harga acuan ekspor CPO untuk bulan Juli. Walau begitu, besaran tarif bea keluar diputuskan tidak berubah, yakni tetap di angka 10%.

Meski berada dalam tekanan koreksi harga, tingkat permintaan ekspor CPO terpantau masih memperlihatkan indikator positif. 

Estimasi data dari beberapa badan survei kargo menunjukkan ekspor minyak kelapa sawit Malaysia sepanjang periode 1–20 Juni melesat berkisar 19,1% sampai 25% jika disandingkan dengan periode yang sama di bulan Mei. Lonjakan ini ikut menahan kejatuhan harga agar tidak merosot lebih dalam.

Di samping itu, kecemasan terkait ketersediaan stok global masih membayangi aktivitas pasar. Efek dari cuaca ekstrem El Niño dianggap masih menghambat tingkat produktivitas lahan sawit di beberapa daerah, yang berisiko menahan laju penambahan volume produksi.

Dorongan positif tambahan didapatkan dari Indonesia. Terhitung sejak 1 Juli 2026, pihak pemerintah siap memberlakukan kebijakan mandatori biodiesel B50, yang diprediksi bakal mengatrol angka penyerapan CPO domestik dan memangkas alokasi kuota untuk kebutuhan ekspor.

Melihat dari aspek serapan pasar global, India diestimasikan bakal menaikkan volume impor minyak sawit mereka pada Juni hingga menembus angka 600.000 ton, naik dari realisasi sebesar 549.356 ton pada bulan Mei. 

Berstatus sebagai negara pengimpor minyak sawit terbesar di dunia, langkah eskalasi pembelian oleh India ini diperkirakan mampu mendongkrak kembali harga CPO dalam jangka pendek ke depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua