Permintaan Ganas, Harga Batu Bara Menguat ke 148 USD per Ton

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 11 Juni 2026
Permintaan Ganas, Harga Batu Bara Menguat ke 148 USD per Ton
Batubara Berwarna Hitam. (Foto: ilmutambang.com)

JAKARTA - Nilai jual komoditas batu bara merangkak naik seiring dengan kembali melonjaknya harga minyak mentah dunia serta eskalasi volume permintaan pasar.

Bersandarkan pada data Refinitiv, grafik harga batu bara pada sesi transaksi hari Rabu (10/6/2026) berakhir di level US$148,00 per ton, alias menguat sebesar 0,72%.

Apresiasi harga ini menjadi angin segar setelah pada perdagangan sebelumnya sempat terperosok sedalam 2,26%.

Sektor batu bara bergerak positif mengekor pergerakan komoditas minyak bumi lantaran kedua jenis sumber energi ini mempunyai sifat saling menggantikan (substitusi).

Nilai minyak jenis WTI melesat hampir berkisar 2% ke posisi US89,72perbarel,sementarauntukvarianBrenttercatatmenguat1,392,74 per barel.

Dinamika penguatan harga batu bara ini juga disokong oleh faktor tingginya penyerapan dari sektor konsumen.

Eskalasi konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah mulai menggeser konfigurasi peta pemanfaatan energi di kawasan Asia. Hambatan pada jalur distribusi LNG (gas alam cair) yang berasal dari area Teluk, khususnya negara Qatar, mendorong sejumlah negara di Asia untuk kembali bertumpu pada batu bara guna menjaga stabilitas pasokan daya listrik domestik.

Berkisar 20% dari total transaksi LNG di kancah global selama ini menggantungkan jalurnya pada Selat Hormuz. Friksi yang meruncing di kawasan geopolitik tersebut memicu lonjakan tarif LNG, sehingga membuat sektor utilitas listrik mengubah haluan ke komoditas batu bara yang dinilai lebih ekonomis serta lebih gampang didapatkan.

Imbas dari fenomena ini mulai nampak nyata di deretan negara konsumen energi skala raksasa di Asia. Pihak Jepang bersama Korea Selatan dilaporkan mendongkrak utilitas pembangkitan listrik berbasis batu bara, sedangkan tingkat konsumsi gas alam justru menunjukkan tren penurunan.

Melalui laporan riset Rystad Energy, volume penyerapan batu bara termal di kawasan Asia diproyeksikan mampu melonjak hingga menyentuh 100 juta ton sebagai konsekuensi dari krisis stok LNG, yang mana separuh dari proyeksi kenaikan tersebut diperkirakan bakal terealisasi pada tahun 2026.

Tidak sekadar melanda wilayah Asia Timur, negara-negara di regional Asia Tenggara semisal Vietnam, Thailand, dan Filipina terpantau mulai memaksimalkan operasional PLTU demi memproteksi ketahanan pasokan daya listrik mereka.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa di tengah masifnya program transisi energi global, komoditas batu bara tetap memegang peran sebagai "penyelamat" darurat di kala pasokan energi alternatif mengalami hambatan. 

Banyak negara memang konsisten pada peta jalan energi hijau, namun aspek ketahanan energi jangka pendek saat ini bertransformasi menjadi prioritas yang utama.

Apabila tren pergeseran ini terus berlanjut, kebutuhan pasar Asia terhadap batu bara berpeluang besar untuk melonjak drastis, sehingga dapat berfungsi sebagai stimulus positif bagi pergerakan harga batu bara global sekaligus mendatangkan keuntungan bagi negara eksportir seperti Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua