Rabu, 13 Mei 2026

Rupiah Melemah 0,29 Persen ke Rp 17.382 per Dolar AS pada Akhir Pekan

Rupiah Melemah 0,29 Persen ke Rp 17.382 per Dolar AS pada Akhir Pekan
Ilustrasi Kurs Mata Uang, (Foto: net).

JAKARTA – Mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu setelah sempat menguat dalam dua hari berturut-turut. Faktor utama yang menekan rupiah adalah dinamika geopolitik global serta berkurangnya cadangan devisa Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berakhir pada angka Rp 17.382 per dolar AS pada Jumat (8/5/2025). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,29% jika dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.333 per dolar AS. Dalam skala mingguan, rupiah tercatat mengalami koreksi sebesar 0,27%.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa melemahnya rupiah disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar atas kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga

Harga Emas Dunia Melemah 1,2 Persen Akibat Lonjakan Harga Minyak

“Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh kekhawatiran terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi insiden baku tembak antara kapal AS dan Iran,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain pengaruh dari luar negeri, data cadangan devisa Indonesia yang merosot turut memberatkan rupiah. Posisi cadangan devisa pada April 2026 tercatat sebesar US$ 146,2 miliar, angka ini menurun dari posisi akhir Maret 2026 yang mencapai US$ 148,2 miliar.

Menurut Lukman, sepanjang pekan lalu rupiah memang tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh memanasnya tensi di Timur Tengah. 

Padahal, beberapa kondisi domestik tergolong positif, seperti pertumbuhan ekonomi nasional yang melampaui ekspektasi pasar dan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam membatasi pembelian dolar AS. Meski demikian, sentimen domestik tersebut dianggap belum mampu memberikan topangan yang kuat bagi rupiah.

Menjelang perdagangan awal pekan depan, para investor akan tetap memantau kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran serta menanti tanggapan Iran atas proposal perdamaian dari AS. 

Di sisi lain, pasar juga mengantisipasi rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang menjadi indikator kebijakan suku bunga The Fed. Untuk sentimen dalam negeri, perhatian akan tertuju pada rilis data indeks keyakinan konsumen Indonesia pada Senin (11/5/2026).

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin (11/5) akan berada pada rentang Rp 17.300 sampai dengan Rp 17.450 per dolar AS.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Asing Tetap Borong Saham-Saham Ini

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Asing Tetap Borong Saham-Saham Ini

Wall Street Melemah S&P 500, Nasdaq Terseret Inflasi dan Konflik Iran

Wall Street Melemah S&P 500, Nasdaq Terseret Inflasi dan Konflik Iran

Arah IHSG 13 Mei 2026 & Rekomendasi Saham Usai Perubahan Indeks MSCI

Arah IHSG 13 Mei 2026 & Rekomendasi Saham Usai Perubahan Indeks MSCI

10 Saham Incaran Asing Saat IHSG Melemah ke Level 6.858,9

10 Saham Incaran Asing Saat IHSG Melemah ke Level 6.858,9

BNI Sekuritas Jagokan MEDC hingga HRTA di Tengah Efek MSCI Review

BNI Sekuritas Jagokan MEDC hingga HRTA di Tengah Efek MSCI Review