BCA Kelola Likuiditas Pruden Saat Rupiah Sentuh 17.445 Per Dolar AS
- Minggu, 10 Mei 2026
JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA memberikan penegasan bahwa perusahaan tetap konsisten menjaga pengelolaan likuiditas serta risiko secara pruden di tengah kondisi pasar keuangan yang dinamis, termasuk fenomena pelemahan nilai tukar rupiah dan volatilitas pada pasar surat berharga negara (SBN).
Pihak BCA menyampaikan bahwa fungsi pokok perbankan tetap dijalankan sebagai lembaga intermediasi atau penyalur kredit. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BCA dilaporkan tumbuh secara sehat dengan nilai mencapai Rp994 triliun.
“Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Sabtu (9/5/2026).
Baca JugaKB Bank Sebut PINISI Bank Indonesia Perkuat Fungsi Intermediasi Bank
BCA memberikan penilaian bahwa pengelolaan portofolio surat berharga tidak hanya terpaku pada pertimbangan pergerakan yield, namun juga memerhatikan durasi portofolio demi menjaga kualitas likuiditas secara menyeluruh. Berdasarkan keterangan perseroan, strategi ini diterapkan guna mempertahankan fleksibilitas dalam pengelolaan dana di tengah fluktuasi pasar obligasi serta nilai tukar.
Di sisi lain, BCA memberikan kepastian bahwa risiko mata uang asing tetap berada dalam kondisi terkendali dengan cara menjaga net open position atau eksposur devisa neto pada tingkatan yang rendah.
“BCA juga terus memastikan neraca terkelola dengan pruden, khususnya pada aspek asset-liability yang seimbang baik pada rupiah maupun eksposur mata uang asing,” sebut Hera sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, kondisi rupiah yang merosot hingga melampaui Rp17.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan pada pasar surat berharga negara (SBN) serta menguji daya tahan sektor perbankan nasional. Bank-bank berskala besar dinilai memiliki ketahanan yang lebih kuat, sedangkan bank kecil dianggap semakin rentan terhadap lonjakan yield serta biaya dana.
Data paling mutakhir memperlihatkan bahwa rupiah sempat menyentuh angka Rp17.445 per dolar AS dan bergerak pada rentang Rp17.300–Rp17.400 di sepanjang pekan ini, yang menggambarkan masih kuatnya tekanan di pasar keuangan dalam negeri.
Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya volatilitas di pasar SBN, yang ditandai oleh kenaikan yield serta merosotnya harga pada pasar sekunder.
Pergerakan ini tidak hanya dipicu oleh faktor internal dalam negeri, melainkan juga dipengaruhi oleh arus modal global, arah kebijakan suku bunga internasional, serta persepsi risiko para investor terhadap aset rupiah.
Dalam situasi ini, pasar SBN menjadi salah satu saluran utama transmisi gejolak global ke dalam sektor keuangan domestik. Di tengah tekanan tersebut, perhatian tertuju pada perbankan nasional yang memiliki kepemilikan SBN dalam jumlah besar.
Meski demikian, peran setiap bank tidaklah seragam; sebagian memiliki kemampuan menyerap gejolak, sementara sebagian lainnya lebih sensitif terhadap tekanan pasar.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memaparkan bahwa keterkaitan antara rupiah dan SBN tampak paling nyata melalui perilaku para investor asing di pasar obligasi.
“Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar. Yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7 persen, tetapi kalau rupiah melemah 4 persen dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (7/5/2026).
Keadaan tersebut memicu investor asing untuk keluar dari pasar SBN dan mengalihkan dana mereka ke mata uang dolar AS, yang pada akhirnya memberikan tekanan kembali pada nilai tukar rupiah. Dengan begitu, pelemahan rupiah serta arus keluar dari SBN menciptakan siklus yang saling memperkuat satu sama lain.
Ia menambahkan bahwa tekanan yang terjadi saat ini bersumber dari perpaduan faktor global dan domestik. Dari aspek eksternal, tingginya harga minyak dunia memperburuk kebutuhan impor energi nasional dan menekan transaksi berjalan.
Dari aspek finansial, ketidakpastian mengenai arah suku bunga global memicu investor untuk beralih ke aset-aset yang lebih aman (safe haven).
Dalam kondisi demikian, perbankan nasional memegang peran sebagai penyangga pasar SBN, terutama di saat investor asing menarik modalnya.
“Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor,” kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara kapasitas, kondisi likuiditas perbankan dinilai masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit pun belum terlalu agresif. Hal tersebut menyebabkan sebagian dana yang belum tersalurkan ke kredit dialihkan ke instrumen moneter dan SBN.
Namun, penguatan peran tersebut juga mendatangkan konsekuensi tersendiri. Semakin besar alokasi dana yang diarahkan ke SBN, maka semakin besar pula potensi terjadinya crowding out terhadap kredit sektor riil dalam jangka waktu menengah.
Risiko ini memang belum dirasakan saat ini karena permintaan kredit yang masih lemah, namun berpotensi muncul saat ekonomi mulai mengalami pemulihan.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











