Jumat, 03 April 2026

IHSG Melemah Investor Tunggu Pidato Trump Soal Konflik Global Hari Ini

IHSG Melemah Investor Tunggu Pidato Trump Soal Konflik Global Hari Ini
IHSG Melemah Investor Tunggu Pidato Trump Soal Konflik Global Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, di tengah fokus investor yang tertuju pada dinamika geopolitik internasional. Sentimen eksternal, khususnya dari Amerika Serikat, menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pasar.

Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis waktu setempat. Pernyataan tersebut dinilai berpotensi memberikan arah baru bagi pasar keuangan global, terutama terkait konflik antara AS dan Iran yang masih berkembang.

Baca Juga

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Tajam Rp 65.000 Per Gram

Pergerakan awal IHSG dan indeks unggulan

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun sebesar 31,33 poin atau 0,44 persen ke posisi 7.153,11. Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang cukup signifikan sejak awal sesi. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga mengalami penurunan.

Indeks LQ45 tercatat melemah 1,32 poin atau 0,18 persen ke posisi 725,47. Penurunan ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada saham lapis dua dan tiga, tetapi juga pada saham-saham berkapitalisasi besar. Hal ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung menyeluruh.

“Fokus pasar kini tertuju pada pidato resmi Trump yang berpotensi menjadi katalis arah pasar berikutnya,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Sentimen global dari konflik Amerika Serikat dan Iran

Dari sisi global, sentimen pasar disebut mulai bergerak dari fase eskalasi menuju deeskalasi. Amerika Serikat menyatakan bahwa tujuan utamanya terhadap Iran telah tercapai. Bahkan, terdapat kemungkinan exit dalam dua hingga tiga minggu tanpa kesepakatan formal.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan terbuka untuk mengakhiri konflik dengan sejumlah syarat. Syarat tersebut mencakup pengakuan hak Iran, pembayaran kompensasi, serta jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.

Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Arah kebijakan Amerika Serikat dinilai belum sepenuhnya konsisten. Beberapa isu seperti status Selat Hormuz, opsi militer lanjutan, hingga kemungkinan keterlibatan sekutu masih menjadi perhatian utama investor global.

Harga minyak dan peran Selat Hormuz

Di tengah situasi tersebut, harga minyak mentah tetap bertahan di atas level 100 dolar AS per barel. Kondisi ini dipengaruhi oleh optimisme deeskalasi, meskipun risiko geopolitik masih tinggi. Stabilitas harga minyak menjadi salah satu indikator penting bagi pasar global.

Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia masih dalam kondisi tertutup. Lalu lintas kapal tanker pun sangat terbatas. Situasi ini menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global dan berpotensi memicu volatilitas harga.

Kombinasi antara harapan damai dan risiko gangguan pasokan membuat pasar bergerak dalam ketidakpastian. Investor cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil posisi yang lebih agresif di pasar.

Data ekonomi domestik dan kondisi inflasi

Dari dalam negeri, data ekonomi menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar 1,28 miliar dolar AS. Namun, pertumbuhan ekspor melambat menjadi 1,01 persen secara tahunan.

Di sisi lain, impor masih tumbuh cukup tinggi sebesar 10,85 persen secara tahunan. Hal ini mencerminkan bahwa permintaan domestik tetap kuat meskipun tekanan eksternal meningkat. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi daya tahan ekonomi nasional.

Inflasi Maret 2026 juga menunjukkan penurunan signifikan menjadi 3,48 persen (yoy) dan 0,41 persen (mtm). Inflasi inti turut melandai ke level 2,52 persen (yoy). Penurunan ini terutama didorong oleh normalisasi harga pangan dan faktor base effect.

Pergerakan bursa global dan regional

Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa menunjukkan penguatan yang cukup solid. Indeks Euro Stoxx 50 naik 3,05 persen, diikuti FTSE 100 Inggris yang menguat 1,85 persen. Indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis juga mencatat kenaikan masing-masing 2,73 persen dan 2,10 persen.

Bursa Amerika Serikat juga ditutup menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,5 persen ke 46.565,86. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,7 persen ke 6.573,89, dan Nasdaq Composite naik 1,2 persen ke 21.840,95.

Berbeda dengan Eropa dan AS, bursa Asia justru mengalami pelemahan pada pagi hari. Indeks Nikkei turun 1,85 persen, Shanghai melemah 0,24 persen, Hang Seng turun 1,01 persen, dan Strait Times terkoreksi 0,29 persen.

Pergerakan rupiah dan proyeksi ke depan

Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi tercatat menguat tipis. Rupiah naik 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.982 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang ini berada di posisi Rp16.983 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai penguatan ini dipengaruhi oleh surplus perdagangan yang meningkat. “Surplus perdagangan meningkat menjadi 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026 dari 0,95 miliar dolar AS, ditopang oleh penurunan impor migas,” katanya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia telah mencatat surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut. Secara kumulatif, surplus Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dolar AS.

Melihat berbagai sentimen yang ada, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS. Sementara itu, arah pasar saham masih sangat dipengaruhi perkembangan global, khususnya hasil pidato Trump dan dinamika konflik Timur Tengah yang terus berkembang.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Perak Dunia Anjlok Ikuti Emas Tertekan Dolar dan Geopolitik Global

Harga Perak Dunia Anjlok Ikuti Emas Tertekan Dolar dan Geopolitik Global

Bos Antam Usulkan Pembebasan PPN Perak Murni Demi Keadilan Industri Logam

Bos Antam Usulkan Pembebasan PPN Perak Murni Demi Keadilan Industri Logam

Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi BEI Rilis BREN DSSA Masuk Sorotan Investor

Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi BEI Rilis BREN DSSA Masuk Sorotan Investor

BEI Umumkan Saham Terkonsentrasi Tinggi BREN DSSA Masuk Daftar Resmi Investor

BEI Umumkan Saham Terkonsentrasi Tinggi BREN DSSA Masuk Daftar Resmi Investor

IHSG Anjlok 157 Poin Ke Level 7.026 Tekanan Pasar Menguat Hari Ini

IHSG Anjlok 157 Poin Ke Level 7.026 Tekanan Pasar Menguat Hari Ini