Rabu, 01 April 2026

Kemendag Ungkap Penyebab Harga Biji Kakao Turun pada April 2026

Kemendag Ungkap Penyebab Harga Biji Kakao Turun pada April 2026
Kemendag Ungkap Penyebab Harga Biji Kakao Turun pada April 2026

JAKARTA - Harga biji kakao pada April 2026 tercatat mengalami penurunan cukup tajam. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjelaskan, kondisi ini terjadi karena pasokan global yang melimpah tidak diikuti dengan kenaikan permintaan di pasar. 

Situasi tersebut membuat harga referensi biji kakao melemah, sekaligus berdampak pada penyesuaian harga patokan ekspor untuk periode yang sama.

Dalam kebijakan terbaru, pemerintah menetapkan harga referensi biji kakao April 2026 sebesar 3.190,63 dolar AS per MT. Angka ini turun 856,82 dolar AS atau 21,17 persen dibandingkan Maret 2026. 

Baca Juga

Serapan Beras 1,3 Juta Ton Perkuat Cadangan CBP Nasional

Penurunan itu kemudian berimbas pada Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao yang juga terkoreksi menjadi 2.886 dolar AS per MT, atau turun 836 dolar AS setara 22,46 persen dari bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar kakao global tengah menghadapi tekanan dari sisi suplai. Saat produksi di negara-negara produsen utama mulai membaik, volume pasokan bertambah. 

Namun, di saat yang sama, permintaan tidak mengalami pertumbuhan yang cukup kuat untuk menyerap tambahan suplai tersebut. Akibatnya, harga komoditas ini bergerak turun dan memengaruhi kebijakan ekspor Indonesia.

Pasokan Melimpah Tekan Harga Kakao

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana menjelaskan bahwa penurunan harga referensi dan HPE biji kakao tidak lepas dari kondisi pasokan dunia yang meningkat. Menurutnya, pemulihan produksi di negara-negara produsen utama menjadi faktor dominan yang menekan harga.

"Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi peningkatan suplai seiring dengan membaiknya produksi di negara produsen utama, yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dinamika pasar internasional sangat berpengaruh terhadap kebijakan ekspor komoditas Indonesia. 

Ketika suplai meningkat lebih cepat daripada permintaan, maka harga referensi cenderung terkoreksi. Kondisi ini bukan hanya memengaruhi nilai jual, tetapi juga berdampak pada instrumen kebijakan seperti HPE yang digunakan sebagai dasar penghitungan kewajiban ekspor.

Penurunan harga kakao pada April 2026 menjadi salah satu indikator bahwa pasar komoditas masih sangat sensitif terhadap perubahan produksi global. 

Bagi pelaku usaha, kondisi ini menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi margin ekspor dan strategi perdagangan dalam jangka pendek.

Ketentuan Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Tetap Berlaku

Meski harga referensi dan HPE biji kakao mengalami penurunan, pemerintah tetap menetapkan bea keluar dan pungutan ekspor untuk periode 1-30 April 2026. Ketentuan ini merujuk pada regulasi yang telah berlaku dan menjadi acuan dalam aktivitas ekspor komoditas tersebut.

Bea keluar (BK) biji kakao untuk periode April 2026 mengacu pada "Kolom Angka 3 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025", yakni sebesar 5 persen. Sementara itu, pungutan ekspor (PE) biji kakao untuk periode yang sama mengacu pada "Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026", yang juga ditetapkan sebesar 5 persen.

Kebijakan ini memperlihatkan bahwa meskipun terjadi penyesuaian harga acuan, struktur pungutan ekspor tetap mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan dalam peraturan menteri keuangan. 

Dengan demikian, eksportir tetap perlu memperhitungkan besaran bea keluar dan pungutan ekspor dalam perencanaan pengiriman komoditas ke pasar luar negeri.

Bagi pelaku usaha, stabilitas aturan pungutan menjadi faktor penting karena memberikan kepastian dalam penghitungan biaya. Meski harga turun, ketentuan tarif yang konsisten dapat membantu eksportir menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di tengah perubahan pasar.

Komoditas Lain Alami Pergerakan Beragam

Selain kakao, Kemendag juga menetapkan HPE untuk sejumlah komoditas lain pada April 2026. Untuk produk kulit, HPE periode April 2026 tidak mengalami perubahan dibandingkan Maret 2026. 

Hal ini menunjukkan kondisi pasar produk kulit relatif stabil tanpa adanya penyesuaian harga yang signifikan.

Berbeda dengan produk kulit, komoditas getah pinus justru mengalami kenaikan. HPE getah pinus untuk April 2026 ditetapkan sebesar 916 dolar AS per MT. Nilai tersebut naik 13 dolar AS atau 1,44 persen dibandingkan periode Maret 2026.

Pergerakan yang berbeda antar komoditas ini mencerminkan bahwa masing-masing pasar memiliki dinamika tersendiri. Faktor pasokan, permintaan, serta kondisi perdagangan internasional menjadi penentu utama dalam pembentukan HPE. Karena itu, perubahan pada satu komoditas tidak selalu mencerminkan tren yang sama pada komoditas lainnya.

Penetapan HPE yang bervariasi juga menjadi gambaran bahwa pemerintah terus menyesuaikan kebijakan berdasarkan kondisi riil di pasar global. Langkah ini penting agar kebijakan ekspor tetap relevan dan mampu mencerminkan harga perdagangan yang aktual.

Produk Kayu Tunjukkan Tren Campuran

Pada kelompok produk kayu, pemerintah mencatat adanya kenaikan HPE pada beberapa jenis tertentu. Kenaikan terjadi pada veneer dari hutan alam dan hutan tanaman, wooden sheet for packing box, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis meranti, rimba campuran, dan sortimen lainnya jenis eboni.

 Selain itu, kenaikan juga berlaku untuk kayu dari hutan tanaman seperti pinus, gemelina, akasia, sengon, karet, balsa, eucalyiptus, dan jenis lainnya.

Namun demikian, tidak semua produk kayu mengalami penguatan. HPE justru turun untuk kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis merbau dan sortimen lainnya jenis jati. Sementara itu, beberapa komoditas kayu lainnya tidak mengalami perubahan HPE pada April 2026.

Tidak ada perubahan HPE untuk wood in chips or particle, chipwood, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis hutan tanaman jenis sungkai dan kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm2 periode April 2026.

Celo

Celo

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Cabai Rawit Tembus Rp115.000, Ayam Ras Rp50.000 Hari Ini

Harga Cabai Rawit Tembus Rp115.000, Ayam Ras Rp50.000 Hari Ini

Pemerintah Tegaskan Harga BBM Bersubsidi Tidak Akan Naik Tahun Ini

Pemerintah Tegaskan Harga BBM Bersubsidi Tidak Akan Naik Tahun Ini

Indonesia Cetak Surplus Neraca Dagang Februari 2026, 70 Bulan Berturut-turut

Indonesia Cetak Surplus Neraca Dagang Februari 2026, 70 Bulan Berturut-turut

Kemenko PM Dorong Kebijakan Baru untuk Perkuat Industri Gim Nasional

Kemenko PM Dorong Kebijakan Baru untuk Perkuat Industri Gim Nasional

Menaker Dorong Industri Kreatif Perkuat Program Magang Nasional

Menaker Dorong Industri Kreatif Perkuat Program Magang Nasional