JAKARTA - Pergerakan impor Indonesia pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang cukup kuat di tengah aktivitas perdagangan global yang terus berkembang.
Setelah ekspor mencatat kenaikan, sisi impor juga memperlihatkan pertumbuhan yang lebih tinggi secara tahunan pada Februari 2026.
Kenaikan ini menjadi sinyal penting bahwa kebutuhan terhadap barang dari luar negeri, terutama untuk mendukung aktivitas produksi dalam negeri, masih cukup besar.
Baca JugaBank Danamon Tebar Dividen Rp 1,4 Triliun Rombak Pengurus Baru
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai impor Indonesia pada Februari 2026 tumbuh dua digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh lonjakan impor non minyak dan gas (non migas), yang menjadi kontributor utama dalam struktur impor nasional.
Di sisi lain, impor minyak dan gas (migas) justru mengalami penurunan cukup dalam, sehingga memperlihatkan adanya perbedaan tren antar kelompok komoditas.
Dalam konteks perekonomian, pertumbuhan impor sering kali dipandang dari dua sisi. Di satu sisi, kenaikan impor dapat mencerminkan tingginya kebutuhan bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri untuk menjaga produksi.
Namun di sisi lain, kenaikan impor juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keseimbangan perdagangan apabila tidak diimbangi pertumbuhan ekspor yang memadai.
BPS juga menegaskan bahwa lonjakan impor non migas memberi kontribusi besar terhadap total pertumbuhan impor pada Februari 2026.
Selain itu, akumulasi impor sepanjang Januari hingga Februari 2026 juga menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hal ini menandakan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih membutuhkan pasokan dari luar negeri, terutama untuk menopang kebutuhan sektor industri dan manufaktur.
Impor Indonesia Februari 2026 Tumbuh Dua Digit
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja impor pada Februari 2026 mencapai US$ 20,89 miliar, atau naik 10,55% year on year (yoy) bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$ US$ 18,85 miliar.
Kenaikan sebesar 10,55% secara tahunan ini menunjukkan bahwa impor Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup kuat pada Februari 2026.
Dibandingkan capaian tahun sebelumnya, nilai impor bertambah lebih dari US$ 2 miliar, yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap barang-barang dari luar negeri.
Dalam perdagangan internasional, pertumbuhan impor dengan laju dua digit sering menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi domestik masih berjalan aktif, terutama jika impor tersebut berkaitan dengan kebutuhan industri.
Karena itu, data impor Februari 2026 menjadi penting untuk dibaca dalam konteks yang lebih luas, tidak sekadar sebagai kenaikan angka semata.
Nilai impor sebesar US$ 20,89 miliar juga menunjukkan bahwa permintaan domestik terhadap produk impor masih tetap tinggi. Baik untuk kebutuhan bahan baku, barang penolong, maupun sektor-sektor lain yang bergantung pada suplai luar negeri, pergerakan impor seperti ini menjadi salah satu penanda aktivitas ekonomi yang terus berjalan.
Dengan demikian, pertumbuhan impor pada Februari 2026 memberi gambaran bahwa arus barang masuk ke Indonesia tetap terjaga, meskipun komposisi pertumbuhannya berbeda antara sektor migas dan non migas.
Impor Non Migas Jadi Penopang Utama Kenaikan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan, kinerja impor tersebut utamanya didorong oleh impor non minyak dan gas (migas). Impor non migas mencapai US$ 18,90 miliar atau naik 18,24% yoy, dari periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 15,98 miliar.
Kenaikan impor non migas sebesar 18,24% secara tahunan menjadi pendorong utama pertumbuhan total impor Indonesia pada Februari 2026. Nilai impor non migas yang mencapai US$ 18,90 miliar menunjukkan bahwa porsi terbesar impor nasional masih berasal dari kelompok barang di luar energi.
Dalam struktur ekonomi Indonesia, impor non migas biasanya mencakup berbagai kebutuhan penting, seperti bahan baku industri, barang penolong, mesin, perlengkapan, serta produk-produk lain yang mendukung aktivitas produksi dalam negeri.
Karena itu, pertumbuhan tinggi pada komponen ini sering dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan sektor usaha dan manufaktur.
Ateng menyebut, peningkatan impor non migas yang cukup tinggi tersebut memiliki andil sebesar 15,47% terhadap total impor.
Kontribusi sebesar 15,47% ini memperlihatkan betapa dominannya peran impor non migas dalam mendorong kenaikan keseluruhan impor. Tanpa lonjakan pada kelompok ini, total impor Indonesia kemungkinan tidak akan mencatat pertumbuhan sekuat yang terlihat pada Februari 2026.
Dari sisi pembacaan ekonomi, kenaikan impor non migas dapat dipandang sebagai cerminan adanya kebutuhan produksi yang masih tinggi. Ini penting karena bahan baku dan barang penolong dari luar negeri sering kali menjadi komponen vital dalam rantai pasok industri nasional.
Impor Migas Turun Di Tengah Lonjakan Total Impor
Sedangkan impor migas tercatat sebesar US$ 2 miliar, atau turun 30,36% yoy, dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 2,87 miliar.
“Impor migas mencapai US$ 2 miliar atau turun sebesar 30,36% yoy.” Tutur Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Penurunan impor migas ini menjadi kontras yang cukup tajam dibandingkan pertumbuhan total impor yang justru naik dua digit. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara keseluruhan impor Indonesia meningkat, tidak semua komponen mencatat kinerja serupa.
Turunnya impor migas sebesar 30,36% secara tahunan menandakan adanya pelemahan pada kelompok energi. Dalam praktiknya, perubahan impor migas bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fluktuasi harga energi dunia, volume kebutuhan domestik, hingga pola konsumsi dan pengadaan.
Meski nilainya lebih kecil dibandingkan impor non migas, komponen migas tetap penting dalam struktur perdagangan nasional. Karena itu, penurunan dari US$ 2,87 miliar menjadi US$ 2 miliar tetap menjadi catatan yang perlu diperhatikan.
Kondisi Februari 2026 menunjukkan bahwa penurunan impor migas belum mampu menahan laju pertumbuhan total impor.
Sebaliknya, kenaikan yang sangat tinggi pada impor non migas berhasil menutup penurunan tersebut dan tetap mendorong total impor nasional ke level yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Akumulasi Awal Tahun Didominasi Bahan Baku Penolong
Adapun secara keseluruhan, kinerja impor sepanjang Januari hingga Februari 2026 mencapai US$ 42,09 miliar, atau meningkat 14,44% yoy bila dibandingkan periode sama tahun lalu.
Capaian akumulatif ini menunjukkan bahwa selama dua bulan pertama 2026, aktivitas impor Indonesia masih berada dalam tren pertumbuhan yang cukup kuat.
Kenaikan 14,44% secara tahunan memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap barang impor tidak hanya meningkat pada Februari saja, tetapi juga tercermin dalam total dua bulan awal tahun.
Total impor tersebut meningkat utamanya disumbang oleh impor bahan baku penolong yang mencapai US$ 29,40 miliar atau naik 6,78% yoy.
Data ini menjadi poin penting dalam membaca arah impor nasional. Dominasi bahan baku penolong menunjukkan bahwa kenaikan impor lebih banyak ditopang oleh kebutuhan produksi, bukan semata-mata konsumsi akhir.
Dalam konteks industri, impor bahan baku dan barang penolong biasanya dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan produksi, memenuhi permintaan pasar, serta mendukung ekspansi usaha.
Karena itu, pertumbuhan impor pada awal 2026 dapat dipandang sebagai refleksi dari masih aktifnya kegiatan industri dalam negeri. Ketersediaan bahan baku dari luar negeri tetap menjadi faktor penting bagi banyak sektor usaha yang bergantung pada rantai pasok global.
Secara keseluruhan, data BPS memperlihatkan bahwa impor Indonesia pada Februari 2026 tumbuh kuat dengan penopang utama berasal dari non migas, sementara migas justru mengalami penurunan.
Dengan akumulasi Januari-Februari yang juga meningkat, impor nasional menunjukkan bahwa kebutuhan sektor produksi, khususnya bahan baku penolong, masih menjadi motor utama pergerakan perdagangan masuk Indonesia pada awal tahun ini.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global
- Rabu, 01 April 2026
Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global
- Rabu, 01 April 2026












