Jumat, 06 Maret 2026

IHSG Anjlok Dua Persen ke Level 7.500-an, Pasar Saham Indonesia Dihantam Sentimen Global

IHSG Anjlok Dua Persen ke Level 7.500-an, Pasar Saham Indonesia Dihantam Sentimen Global
IHSG Anjlok Dua Persen ke Level 7.500-an, Pasar Saham Indonesia Dihantam Sentimen Global

JAKARTA - Perdagangan pasar saham Indonesia pada akhir pekan diwarnai tekanan yang cukup kuat. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan signifikan hanya dalam waktu singkat setelah sesi perdagangan dibuka pada Jumat, 6 Maret 2026. Pelemahan tersebut membuat indeks kembali turun ke kisaran level psikologis 7.500-an. Kondisi ini langsung menarik perhatian investor yang memantau dinamika pasar sejak awal perdagangan. Sejumlah sentimen global yang berkembang turut memengaruhi pergerakan pasar saham domestik.

Tekanan terhadap indeks terjadi ketika sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia bergerak melemah. Investor terlihat cenderung melakukan aksi jual di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Situasi geopolitik yang memanas hingga lonjakan harga energi menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kombinasi berbagai faktor tersebut akhirnya membuat IHSG bergerak turun cukup tajam. Pasar pun menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam menghadapi perkembangan global.

Baca Juga

Transaksi ZISWAF BSI Melonjak Pesat Selama Minggu Pertama Ramadan 2026

IHSG Merosot Tajam dalam 45 Menit Awal Perdagangan

Penurunan IHSG terjadi cukup cepat sejak awal sesi perdagangan dimulai. Dalam waktu sekitar 45 menit pertama, indeks terus bergerak melemah akibat tekanan jual yang meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor langsung merespons sentimen global yang berkembang. Tekanan tersebut membuat pergerakan IHSG semakin menjauh dari posisi penutupan sebelumnya. Situasi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Per pukul 09.45 WIB, IHSG tercatat merosot sebesar 156,10 poin atau turun sekitar 2,02 persen. Dengan penurunan tersebut, posisi indeks berada di level 7.554,44 pada perdagangan pagi. Data pergerakan saham juga menunjukkan dominasi penurunan di hampir seluruh sektor. Tercatat sebanyak 126 saham mengalami kenaikan, sementara 533 saham turun dan 299 saham tidak mengalami perubahan. Perbandingan tersebut memperlihatkan tekanan jual yang cukup dominan di pasar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen negatif cukup kuat memengaruhi keputusan investor. Banyak pelaku pasar memilih untuk melakukan aksi jual guna mengurangi risiko investasi. Situasi ini juga menunjukkan bahwa volatilitas pasar masih cukup tinggi. Ketika sentimen global meningkat, pergerakan indeks biasanya menjadi lebih sensitif. Oleh karena itu, pergerakan IHSG pada awal perdagangan menjadi perhatian utama investor.

Aktivitas Transaksi Pasar Saham Tetap Tinggi

Di tengah pelemahan indeks yang cukup dalam, aktivitas perdagangan saham tetap berlangsung aktif. Nilai transaksi yang tercatat pada awal sesi menunjukkan perputaran dana yang cukup besar. Investor masih aktif melakukan jual beli saham meskipun kondisi pasar sedang mengalami tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas pasar masih terjaga dengan baik. Aktivitas perdagangan yang tinggi juga menandakan minat investor tetap ada.

Total nilai transaksi di pasar saham tercatat mencapai sekitar Rp 4,46 triliun. Transaksi tersebut melibatkan sekitar 8,68 miliar saham yang diperdagangkan pada sesi perdagangan pagi. Sementara itu, jumlah frekuensi transaksi mencapai sekitar 580.200 kali transaksi. Angka tersebut menggambarkan intensitas perdagangan yang cukup tinggi di Bursa Efek Indonesia. Investor terlihat aktif memanfaatkan momentum pergerakan harga saham.

Namun, pelemahan indeks juga berdampak pada nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan. Nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat mengalami penyusutan menjadi sekitar Rp 13.452 triliun. Penurunan kapitalisasi ini sejalan dengan melemahnya harga saham di berbagai sektor. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa tekanan pasar cukup luas. Banyak saham berkapitalisasi besar yang ikut mengalami pelemahan.

Saham-Saham Besar Menjadi Pemberat Indeks

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Beberapa emiten besar tercatat menjadi kontributor utama yang menekan indeks pada perdagangan pagi. Ketika saham-saham besar mengalami penurunan harga, dampaknya terhadap indeks biasanya cukup signifikan. Hal ini karena saham tersebut memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks. Oleh sebab itu, pergerakannya sangat memengaruhi arah IHSG.

Sejumlah emiten yang terafiliasi dengan kelompok usaha besar terlihat memberikan tekanan terhadap indeks. Emiten dari grup Sinar Mas, Bakrie, serta Prajogo Pangestu tercatat menjadi pemberat pasar. Saham-saham dari kelompok ini mengalami pelemahan sehingga ikut mendorong indeks turun lebih dalam. Kondisi tersebut membuat perhatian investor tertuju pada pergerakan saham-saham besar tersebut. Perubahan harga saham berkapitalisasi besar sering menjadi indikator sentimen pasar.

Beberapa saham bahkan masuk dalam daftar top laggards atau saham yang paling menekan indeks. Di antara saham tersebut terdapat Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Renewables Energy (BREN), dan Bumi Resources Minerals (BRMS). Ketiga saham ini tercatat memberikan kontribusi penurunan yang cukup besar terhadap IHSG. Ketika saham-saham ini melemah secara bersamaan, indeks biasanya ikut terdorong turun. Kondisi ini memperlihatkan pengaruh besar emiten utama terhadap pasar.

Sentimen Global Membayangi Pergerakan Pasar

Tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi oleh perkembangan kondisi global yang sedang berlangsung. Pasar keuangan dunia saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang meningkatkan ketidakpastian. Investor global memantau situasi geopolitik yang semakin memanas di beberapa wilayah. Ketegangan internasional sering kali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Hal tersebut akhirnya memengaruhi pergerakan pasar saham di berbagai negara.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi geopolitik tersebut meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global. Selain itu, perkembangan terbaru terkait proyeksi ekonomi China juga menjadi perhatian investor. Kombinasi berbagai sentimen tersebut membuat pasar keuangan global berada dalam kondisi penuh kewaspadaan. Dampaknya turut terasa pada pasar saham Indonesia.

Investor biasanya merespons ketidakpastian global dengan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Saham termasuk instrumen yang sensitif terhadap perubahan sentimen global. Ketika risiko meningkat, sebagian investor cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman. Situasi ini dapat memicu tekanan jual di pasar saham. Oleh karena itu, perkembangan geopolitik sering memengaruhi pergerakan indeks.

Lonjakan Harga Minyak Dunia Menambah Tekanan

Faktor lain yang turut memengaruhi sentimen pasar adalah kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga energi global mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global semakin meningkat. Kondisi tersebut akhirnya memengaruhi berbagai pasar keuangan.

Merujuk Refinitiv, harga minyak brent ditutup di posisi US$ 84 per barel atau naik hampir 4% sementara harga minyak WTI ditutup di posisi US$81,01 per barel atau melesat 8,5%. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak Juli 2024 atau 2 tahun 8 bulan. Lonjakan harga energi ini menjadi perhatian investor di seluruh dunia. Kenaikan biaya energi dapat memicu inflasi dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan sebagian besar terhenti. Gangguan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap distribusi energi global. Situasi semakin memanas setelah Iran mengklaim telah menghantam sebuah kapal tanker minyak menggunakan rudal. Peristiwa tersebut meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional. Ketegangan ini menjadi salah satu faktor yang membebani pasar saham global.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Kripto Hari Ini 6 Maret 2026 Bitcoin Terkoreksi Dogecoin Ambles Paling Dalam

Harga Kripto Hari Ini 6 Maret 2026 Bitcoin Terkoreksi Dogecoin Ambles Paling Dalam

Daftar Aplikasi Trading Crypto Terbaik 2026 untuk Investor Global dan Indonesia

Daftar Aplikasi Trading Crypto Terbaik 2026 untuk Investor Global dan Indonesia

Rupiah Melemah ke Rp16.935 per Dolar AS Dipicu Ketegangan Global Timur Tengah

Rupiah Melemah ke Rp16.935 per Dolar AS Dipicu Ketegangan Global Timur Tengah

Apakah THR ASN dan Pegawai Swasta Kena Pajak Ini Penjelasan Lengkap DJP

Apakah THR ASN dan Pegawai Swasta Kena Pajak Ini Penjelasan Lengkap DJP

DJP Luncurkan Coretax Form dan M-Pajak untuk Perluas Akses Laporan Pajak

DJP Luncurkan Coretax Form dan M-Pajak untuk Perluas Akses Laporan Pajak